Ayu Kartika
Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengembangan Desa Wisata Sebagai Perwujudan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community-Based Ecotourism) Di Kota Batu Ayu Kartika
Jurnal Administrasi Publik Vol. 3 No. 4 (2015)
Publisher : Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Development of Tourism Village as Embodiment of Community-based Ecotourism in Batu City. Seeing the potential of nature has a tourist attraction, in 2011 the Government began to introduce the term of tourist villages as an alternative tourist rests on the concept of community-based ecotourism in which the organization of tourism activities carried out by utilizing the natural environment that is managed by the local community. As a tourist attraction of existence, tourist villages do not yet have high competitiveness when compared to other tourist objects in Batu. That is because in terms of human resources is still low, the lack of infrastructure, as well as various regulations on tourist villages that does not exist in the villages, furthermore do a good development of the government and the community to the tourist village attractions can be better. Therefore, this study was conducted to determine the development of rural tourism as a manifestation of community-based ecotourism in Batu and identify factors supporting and inhibiting factors in the development of rural tourism. Keywords: Development, Village Tourism, Ecotourism, Batu City. Abstrak: Pengembangan Desa Wisata sebagai Perwujudan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community-based Ecotourism) di Kota Batu. Melihat potensi alamiah yang memiliki daya tarik wisata, pada tahun 2011 Pemerintah Kota Batu mulai memperkenalkan istilah desa wisata sebagai suatu alternatif wisata yang berpijak pada konsep ekowisata berbasis masyarakat dimana penyelenggaraan kegiatan wisata dilakukan dengan memanfaatkan kondisi lingkungan secara alamiah yang dikelola oleh masyarakat lokal. Sebagai suatu objek wisata yang cukup diperhatikan eksistensinya, desa wisata belum memiliki daya saing yang tinggi apabila dibandingkan dengan objek-objek wisata lain yang ada di Kota Batu. Hal tersebut dikarenakan dari segi sumber daya manusia masih rendah, minimnya sarana-prasarana, serta berbagai regulasi tentang desa wisata yang belum ada di tingkat desa/ kelurahan, sehingga dilakukan suatu pengembangan baik dari pemerintah maupun masyarakat agar desa wisata dapat menjadi objek wisata yang lebih baik. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengembangan desa wisata sebagai perwujudan ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism) di Kota Batu dan mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pengembangan desa wisata.   Kata kunci: Pengembangan, Desa Wisata, Ekowisata, Kota Batu
Gerakan Sosial Digital “Warga Bantu Warga” Sebagai Respon Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Ayu Kartika
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 1 No. 1 (2021): COVID-19 and Resilience
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2021.001.01.2

Abstract

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak yang signifikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Krisis ekonomi dan permasalahan sosial menjadi hal yang terelakkan dan menyentuh semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat lapis bawah. Walaupun begitu, masyarakat Indonesia telah membuktikan resiliensi dan keberdayaan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Adanya internet dan media sosial telah mendorong kemunculan gerakan sosial digital yang salah satunya adalah Warga BantuWarga. Melalui gerakan ini, masyarakat Indonesia saling bergotong royong, berkolaborasi, dan menunjukkan solidaritas dalam membantu sesama mengatasi kesusahan akibat pandemi. Gerakan tersebut seakan mengikat masyarakat secara kolektif dan mengarahkan tindakannya dalam aksi yang tidak hanya terjadi pada skala regional, tetapi hingga lingkup nasional di seluruh provinsi di Indonesia. Walaupun merupakan gerakan yang lahir dan berproses pada tataran digital, nyatanya gerakan ini telah menghasilkan kemanfaatan yang besar pada masyarakat, dan masih bertahan hingga saat ini di kala kasus COVID-19 telah menurun. Fenomena ini dikaji melalui pendekatan framing, sehingga dapat diketahui bagaimana pembingkaian peristiwa pada gerakan Warga Bantu Warga mampu menyeleraskan pemahaman dan memobilisasi para pengguna media sosial untuk turut bergabung dalam gerakan Warga Bantu Warga. 
Konstruksi Media Pada Generasi Muda Terkait Bencana Banjir di Desa Bulukerto, Kota Batu Mondry Mondry; Ayu Kartika; Alifiyah Nurul Izzah; Mayang Tatu Balqish
Jurnal Neo Societal Vol. 9 No. 1 (2024): Edisi Januari 2024
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana konstruksi media massa terkait berita tentang lingkungan dan bencana pada generasi muda di Desa Bulukerto, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Penelitian ini meggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dengan teori Konstruksi Atas Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun desa tersebut pernah diterjang banjir bandang November tahun 2021 lalu. Namun, konstruksi media massa terhadap generasi muda di desa tersebut tidak besar. Penyebab utamanya karena berita tentang lingkungan dan bencana tidak banyak muncul di media lokal daerah, karena generasi muda lebih banyak mengakses media sosial dibanding media massa mainstream, serta mereka kurang memahami masalah lingkungan dan bencana. Persoalan itu ternyata tidak sederhana, karena musim hujan terjadi tiap tahun, banjir besar di kawasan itu masih mungkin terjadi  karena berbagai sebab, antara lain karena memang curah air hujan yang besar, juga karena terjadinya penebangan pohon di kawasan hutan di lingkungan desa Bulukerto. Kesimpulan menunjukkan bahwa konstruksi media pada generasi tidak memberikan pengaruh besar, karena generasi muda lebih banyak mengakses media social daripada media mainstream. Olehnya itu, diperlukan dua hal pokok untuk mengatasinya, pertama meningkatkan pemahaman generasi muda terkait lingkungan dan bencana, kedua perlunya peningkatan kuantitas dan kualitas pemberitaan masalah lingkungan dan bencana di media massa dan di media social.
Konstruksi Media Pada Generasi Muda Terkait Bencana Banjir di Desa Bulukerto, Kota Batu Mondry Mondry; Ayu Kartika; Alifiyah Nurul Izzah; Mayang Tatu Balqish
Jurnal Neo Societal Vol. 9 No. 1 (2024): Edisi Januari 2024
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana konstruksi media massa terkait berita tentang lingkungan dan bencana pada generasi muda di Desa Bulukerto, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Penelitian ini meggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dengan teori Konstruksi Atas Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun desa tersebut pernah diterjang banjir bandang November tahun 2021 lalu. Namun, konstruksi media massa terhadap generasi muda di desa tersebut tidak besar. Penyebab utamanya karena berita tentang lingkungan dan bencana tidak banyak muncul di media lokal daerah, karena generasi muda lebih banyak mengakses media sosial dibanding media massa mainstream, serta mereka kurang memahami masalah lingkungan dan bencana. Persoalan itu ternyata tidak sederhana, karena musim hujan terjadi tiap tahun, banjir besar di kawasan itu masih mungkin terjadi  karena berbagai sebab, antara lain karena memang curah air hujan yang besar, juga karena terjadinya penebangan pohon di kawasan hutan di lingkungan desa Bulukerto. Kesimpulan menunjukkan bahwa konstruksi media pada generasi tidak memberikan pengaruh besar, karena generasi muda lebih banyak mengakses media social daripada media mainstream. Olehnya itu, diperlukan dua hal pokok untuk mengatasinya, pertama meningkatkan pemahaman generasi muda terkait lingkungan dan bencana, kedua perlunya peningkatan kuantitas dan kualitas pemberitaan masalah lingkungan dan bencana di media massa dan di media social.