Buyung Ade Saputra
Sekolah Tinggi Agama Islam Wakatobi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDEOLOGICAL INTERPELLATION AND SUBJECTS’ RESPONSES IN ANDI NOOR’S SHORT STORY, “KOPI DAN CINTA YANG TAK PERNAH MATI” Buyung Ade Saputra
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.60654

Abstract

State is a machine of power for the ruling class to maintain its authority. The effort is practiced by interpellating individuals as its subjects. The state can be defined as repressive and ideological apparatus. This study aims to identify the interpellation’s category and the subjects’ responses that are portrayed in Andi Noor’s short story titled “Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati” from Althusser’s perspective. The study is carried out by first identifying the ideologies that empower the interpellation. There are two categories of ideology that interpellate individuals as the subjects of ideology: (1) Totalitarianism and (2) Socialism. Next, the researcher identifies the category of apparatus that is used by the ideologies. The short story portrays the empowerment of the repressive state apparatus of armed or police forces by the ruling ideology and the empowerment of the ideological cultural apparatus by the opposition. Subjects’ responses that are found in this research vary, and not all subjects recognize the interpellation by the ideology. The responses are influenced by the empowerment of the apparatuses of each ideology. The subjects tend to resist the empowerment of the repressive state apparatus, but they recognize the interpellation by the empowerment of the ideological cultural apparatus. Negara merupakan mesin kekuasaan yang menjadi alat bagi kelas penguasa untuk melanggengkan kekuasaanya. Usaha ini dilakukan melalui penaklukan atau interpelasi terhadap individu agar menjadi subjek ideologi. Keberadaan Negara dapat dipahami sebagai aparatus represif dan aparatus ideologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kategori interpelasi dan respon subjek yang digambarkan oleh cerpen “Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati” karya Andi Noor berdasarkan pandangan Althusser. Penelitian ini diawali dengan mengungkap ideologi-ideologi yang melakukan interpelasi. Terdapat dua ideologi yang saling melakukan interpelasi terhadap subjek-subjek, yaitu (1) Totalitarian dan (2) Sosialisme. Selanjutnya, peneliti melakukan pemetaan terhadap kategori aparatus yang digunakan oleh ideologi-ideologi baik itu aparatus represif atau ideologis. Cerita pendek ini menggambarkan aparatus negara yang represif yang diwakili oleh tentara yang digunakan oleh ideologi penguasa, sedangkan pihak lawan melakukan pemberdayaan aparatus kultural ideologis. Respon subjek yang ditemukan cukup beragam. Tidak semua subjek merekognisi interpelasi ideologi. Terdapat subjek yang pada awalnya melakukan misrekognisi namun pada akhirnya melakukan rekognisi terhadap interpelasi ideologi. Respon yang ditunjukkan oleh subjek dipengaruhi oleh pemberdayaan aparatus oleh masing-masing ideologi. Subjek cenderung melakukan misrekognisi terhadap aparatus represif, dan cenderung merekognisi pemberdayaan aparatus ideologis kultural.
Interseksionalitas Perempuan dan Laki-Laki Bangsawan dalam “Tula-Tula Mia Wakatobi” Buyung Ade Saputra; Aryana Nurul Qarimah
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol 1 No 2 (2022): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.631 KB) | DOI: 10.21009/Arif.012.04

Abstract

Perempuan dan laki-laki yang bergelar bangsawan sebagai kelas sosial tertinggi pada masyarakat pramodern tidak membuat mereka secara pasti memperoleh privilese dan prestise. Setiap individu menduduki posisi yang kemudian menunjukkan jenis perbedaan kekuasaan berdasarkan kategori sosiokultural, khususnya seperti gender. Penelitian ini bertujuan menelaah praktik yang ditemui perempuan dan laki-laki bangsawan pada cerita rakyat Wakatobi atau “Tula-tula Mia Wakatobi”. Metode interseksi digunakan untuk membongkar ruang-ruang diskriminasi berdasarkan lapisan identitas yang saling berinteraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan bangsawan adalah pihak yang dirugikan dibanding laki-laki bangsawan. Perempuan bangsawan beridentitas ganda, yaitu sebagai bangsawan serta putri dari ayah dan raja. Dengan demikian formasi identitas menjadi penyebab utama adanya privilese atau “peliyanan“ melalui tindakan diskriminatif yang dialami oleh para tokoh bangsawan.