Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

IDENTITAS ETNIK DAN DINAMIKA POLITIK LOKAL ORANG MAKEANG DI TERNATE Junaib Umar
Humano: Jurnal Penelitian Vol 10, No 1 (2019): Periode Juni
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2032.903 KB) | DOI: 10.33387/hjp.v10i1.1345

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis permainan strategi politik, dan reproduksi identitas kekinian orang Makeang dalam hubungan dengan sejarah “Maloku Kie Raha”. Penelitian ini dilakukan di kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Jenis penelitian ini adalah Kualitatif dengan mendeskripsikan secara mendalam tentang sejarah, dinamika politik lokal dan reproduksi identitas dan kekuasaan orang Makeang. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan, wilayah Makeang secara historis merupakan kerajaan pertama dari empat kesultanan Moloku Kie Raha (Ternate, Tidore, Moti dan Makeang) pada abad 13 yang dilatarbelakangi hubungan perkawinan antara Djafar Sadek dan Siti Nursifa Putri Kahyangan. Dari hasil pernikahan itu lahirlah putra pertama bernama Muhammad Bakir, yang kemudian ditetapkan sebagai raja Makeang yang berkuasa di Makeang. Sementara dari konteks kekinian, orang Makeang secara politik cenderung mendominasi pentas politik di Ternate. hal ini terlihat dengan eksistensi orang Makeang yang duduk sebagai anggota legislatif Kota. Bahkan, Walikota pertama Ternate dan Gubernur pertama Maluku Utara adalah orang Makeang, adalah Thaib Armayin.  Kata Kunci: Makeang, Identitas Etnik, Dinamika Politik Lokal. 
Reduplikasi Bahasa Sahu Ridwan Ridwan; Junaib Umar
TEKSTUAL Vol 20, No 2 (2022): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tekstual.v20i2.5424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis reduplikasi bahasa Sahu. Jenis penelitian digolongkan ke dalam penelitian kualitatif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Awer Sahu Timur. Instrumen yang digunakan berupa alat perekam (tape recorder), catatan lapangan, kosaka kata Morris Swadesh, dan cerita rakyat. Teknik analisis data berupa data reduction (reduksi data) , data display (penyajian data), dan conclusion drawing/verivication (penarikan simpulan/verifikasi). Hasil penenlitian ditemukan bahwa bahasa Sahu memiliki empat jenis reduplikasi yaitu: pengulangan seluruh, Pengulangan  Sebagian, pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembumbuhan afiks, dan pengulangan dengan perubahan fonem. 
IDENTIFIKASI PERIBAHASA BAHASA SULA Ridwan Ridwan; Junaib Umar; Ramiyana Fokaaya
Tekstual Vol 21, No 2 (2023): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tekstual.v21i2.7115

Abstract

This research aims to identify Sula language proverbs. Data collection was conducted using interviews, recording, and literature study, while data analysis techniques were carried out with several stages such as data reduction, data presentation, verification, and conclusion.The results found that Sula language proverbs consist of three types, namely:  pemeo, proverb, and parable. Pemeo means proverbs that contain advice, warnings, satire, and ridicule, such as, pia matua gu'u maka ana poa dad, ana poa maka pia matua gu'u dad moya 'Both parents can feed ten children, but ten children might not be able to feed their parents'. Proverb means a statement containing advice or teachings from the elders that is used to discourage the interlocutor, such as, nui wai mai don wag in nui maota 'Kids also know, let alone grown up ones'. Parable means a proverb that contains a comparison characterized by the use of the words, such as, like, as if, similarly, and umpama, such as fa'a gan bib lang lota baasa 'Like a goat aboard a wrecked boat'.
Vitalitas Bahasa Bacan Ridwan, Ridwan; Junaib Umar; Junita Sabri; Azhari Rizki Salim
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2755

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan hubungan karakteristik bahasa Bacan dari segi jenis kelamin dan usia hubungannya dengan subindeks kriteria vitalitas bahasa Bacan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Tempat penelitian di Desa Amzing (Bacan) Kabupaten Halmahera Selatan. Waktu penelitian selama enamn bulan, April-September 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah warga yang berdiam di Desa Amazing dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan sengaja dan dianggap sudah representatif untuk mewakili populasi yang diteliti. sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden penutur bahasa Bacan, baik laki-laki maupun perempuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, wawancara, dan penyebaran kuesioner yang telah disiapkan untuk diisi oleh responden yang dituju. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakann model skala likert dan indeks dengan uji compare men dengan menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistik. Berdasarkan hasil analisis penelitian, ditemukan hubungan antara jenis kelamin dan subindeks Vitalitas Bahasa Bacan menunjukkan bahwa baik penutur laki-laki maupun perempuan berkontribusi pada kondisi bahasa yang mengalami kemunduran (eroding), dengan rerata indeks keseluruhan sebesar 0,58. Meskipun subindeks sikap bahasa (Isikap), pembelajaran bahasa (Ipemb), dan keberterimaan bahasa (Itangba) menunjukkan nilai tinggi, subindeks keberlangsungan penutur (Ikoba), bilingualisme (Ibil), dan ranah penggunaan (Iranah) berada pada kategori rendah. Temuan ini menegaskan adanya kesenjangan antara sikap positif terhadap Bahasa Bacan dan praktik penggunaan aktual dalam kehidupan sehari-hari lintas jenis kelamin. Dengan demikian, jenis kelamin bukan merupakan faktor pembeda utama dalam tingkat vitalitas bahasa, melainkan berfungsi sebagai variabel pendukung yang potensinya belum dioptimalkan dalam proses transmisi dan pemertahanan bahasa.