Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MANAJEMEN AIR IRIGASI DITINJAU DARI SISI PETANI Binsar Manurung
JURNAL DESIMINASI TEKNOLOGI Volume 5 No. 1 JANUARI 2017
Publisher : UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.521 KB) | DOI: 10.52333/destek.v5i1.360

Abstract

Bendung Muara Riben adalah sumber utama penyediaan air untuk daerah irigasi Muara Riben seluas 2634 ha, yang tersebar di 15 petak tersier. Pada saat-saat musim kering, air yang tersedia tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan, yang mengakibatkan segala petani gagal panen, serta mengakibatkan konflik kebutuhan air. Manajemen yang telah dilakukan untuk pemberian air ke 15 petak tersier tersebut masih terlalu sederhana dan tidak memperhatikan keterkaitan jaringan irigasi secara terpadu dengan ketersedian air irigasi efektif, sehingga hasil yang diperoleh tidak mencapai optimal. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan strategi-strategi yang akan dilakukan serta memprogramkan pembagian air sebagai acuan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Penelitian manajemen air irigasi di tinjau dari sisi petani di daerah irigasi Muara Riben, dilakukan dengan membagikan kuesioner untuk 100 responden, dari 15 organisasi P3A. Kuesioner terdiri atas 40 pertanyaan yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu 20 pertanyaan berhubungan dengan faktor-faktor internal  (faktor-faktor dari dalam organisasi P3A itu sendiri) dan 20 pertanyaan lagi dengan faktor-faktor eksternal (faktor-faktor dari luar organisasi P3A). Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunities and Threat atau Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman) yang dipakai untuk menentukan strategi pengelolaan air irigasi. Berdasarkan simulasi jadwal tanam dengan menggunakan faktor K (K adalah perbandingan debit tersedia dengan debit kebutuhan), maka jadwal tanam optimum untuk golongan I dimulai pada bulan Oktober ke II, dengan pola tanam PadiPadi-Palawija, sedangkan untuk golongan II dimulai pada November ke II, dengan pola tanah Padi-Palawija-Padi. Hasil analisis SWOT menghasilkan faktor insternal = 2,77 dan faktor eksternal = 1,89. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengaruh manajemen organisasi P3A (internal) masih lebih tinggi dibanding dengan pengaruh dari luar organisasi P3A (eksternal). Hal ini mencerminkan peluang keberhasilan organisasi P3A cukup tinggi apabila kekuatan dan peluang dimanfaatkan dan ada usaha mengurangi kelemahan dan ancaman yang ada. Dari beberapa faktor tersebut akhirnya dapat dibuat pedoman pembagian air bagi pengurus P3A.Kata Kunci: Petani, Manajemen, Irigasi Air.
Efektivitas Penegakan Hukum terhadap Illegal Fishing di Laut Natuna Utara Pasca 2020 Meltia Seca; Binsar Manurung; Rezky Abet Nego Simanjuntak; Ema Septaria
AHKAM Vol 5 No 2 (2026): JUNI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ahkam.v5i2.10073

Abstract

Illegal fishing in the North Natuna Sea after 2020 remains a serious threat to Indonesia’s maritime sovereignty and the sustainability of national marine resources. This area has a strategic position, is rich in fishery resources, and directly borders several countries, making it vulnerable to illegal fishing activities by foreign vessels. This study aims to analyze the effectiveness of law enforcement against illegal fishing in the North Natuna Sea after 2020, identify the obstacles encountered, and formulate strategies for strengthening maritime law enforcement policies. This study used a normative juridical method with statutory and case approaches. Data were obtained through a literature review of relevant regulations, official reports, and scientific literature. The results showed that the Indonesian government has strengthened law enforcement efforts through integrated maritime patrols, interagency cooperation, the implementation of stricter sanctions, and the reinforcement of the roles of authorities such as the Indonesian Navy (TNI AL) and the Ministry of Marine Affairs and Fisheries. However, the effectiveness of law enforcement still faces obstacles in the form of limited facilities and infrastructure, the vastness of the surveillance area, and international political pressure. These findings confirm that a diplomatic approach remains necessary to maintain maritime sovereignty without triggering open conflict. Thus, law enforcement against illegal fishing in the North Natuna Sea requires a comprehensive and sustainable strategy through regulatory strengthening, capacity building for law enforcement officials, and the optimization of regional and international cooperation. This study contributes to the development of more effective maritime policies for addressing illegal fishing in Indonesian waters.