Iswardono S. Permono
Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SURVAI MODEL-MODEL INFLASI Iswardono S. Permono
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 3, No 1 (1988): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inflasi merupakan masalah yang klasik dalam perekonomian di semuanegara, bahkan sudah ada sejak jaman sebelum Masehi. Mesir pernah mengalamiinflasi besar pada tahun 330 sebelum Masehi, sewaktu pemerintahan AlexanderAgung menyerbu Persia dan membawa emas rampasan kembali ke Mesir. Jermanmengalami "hyper-inflation" pada awal tahun 1920-an, dengan laju inflasimencapai beberapa ratus persen per tahunnya. Negara kita juga tidak luput daripenyakit tersebut dengan laju inflasi mencapai 650 persen pada pertengahandasawarsa 1960-an. Inflasi, seperti dikemukakan oleh Ackley (1978), adalah suatu kenaikanharga barang dan jasa yang terus menerus secara umum (bukan hanya satu macambarang dalam tempo sesaat). Menurut definisi ini, kenaikan harga yang sporadistidak dikatakan sebagai inflasi. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan, bahwa beberapa penyebab inflasi adalah : terlalu banyaknya J.U.B (Jumlah Uang Beredar), tingkat upah,krisis energi, paceklik, kekeringan dan defisit anggaran. Tetapi tidak satu pun darifaktor-faktor tersebut yang mampu menjelaskan inflasi secara konsisten sepanjangwaktu. Sebagian besar model inflasi menekankan dampak kenaikan upah padaJ.U.B sebagai penyebab utamanya. Namun biasa pula dikatakan bahwa ada duajalur sebab-akibat antara J.U.B dengan inflasi: J.U.B yang beriebihan karenaadanya inflasi, atau inflasi terjadi karena J.U.B yang beriebihan.Masalah mana yang lebih dulu timbul antara inflasi dan kenaikan J.U.Bdapat diuji dengan model Granger atau model Sim (Dumairy, Journal E.B.I,No.2,1987). Penyebab lain inflasi, sebagaimana dikemukakan oleh Don Patinkin(1979), lebih bersifat "politico-economic". Untuk lebih mengenal perwatakan inflasi, pada sub bab berikut akan dibahas berbagai teori inflasi secara rinci.
KEBIJAKSANAAN MONETER: DARI "FINANCIAL REPRESSION" HINGGA BAHAYA "FINANCIAL CRASH" Iswardono S. Permono; Mudrajad Kuncoro
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 5, No 2 (1990): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.949 KB)

Abstract

Sejak penerimaan dari migas tidak dapat lagi dijadikan andalan dalammembiayai pembiayaan pembangunan, pemerintah telah berupaya melakukanrestrukturisasi ekonomi, melalui tindakan yang populer dengan nama deregulasi (dandebirokratisasi). Upaya deregulasi di sektor keuangan telah secara konsistendilakukan sejak 1983. Di negara lain tindakan seperti ini disebut reformasi keuangan(financial reforms) atau liberalisasi keuangan (financial liberalization).1Pertanyaannya, mengapa Indonesia dan juga negara sedang berkembang (NSB)lainnya melakukan liberalisasi keuangan? Benarkah kebijaksanaan liberalisasikeuangan lebih unggul dibanding kebijaksanaan represi keuangan (financialrepression) dalam menjawab masalah ekonomi NSB di mana perekonomiannya masihmengandung ciri-ciri ketidaksempurnaan pasar?