Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISIS DATABASE DAN PERANCANGAN DATA WAREHOUSE BIDANG CIPTA KARYA (Studi Kasus Di Ditjen Cipta Karya KemenPU-PR) Nana Suryana
Jurnal TEDC Vol 12 No 2 (2018): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.037 KB)

Abstract

Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya merupakan sebuah unit organisasi yang berada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang lingkup tugasnya meliputi Infrastruktur Pemukiman, Penataan Bangunan, Pengembangan Kawasan Pemukiman serta Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Dengan semakin tingginya tingkat pembangunan yang diselenggarakan oleh Ditjen Cipta Karya, maka semakin besar pula data yang diolah, dan hal ini membutuhkan kemampuan pengolahan data yang besar, cepat dan mempunyai informasi yang dibutuhkan oleh manajemen dalam menentukan arah kebijakan di masa depan. Maka dari itu dibutuhkan suatu Data Warehouse, dimana data warehouse ini dirancang dan dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar aplikasi yang dibangun tidak mengikuti suatu standarisasi data yang baku. Namun demikian, analisis terhadap aplikasi database yang ada di Ditjen Cipta Karya sangat membantu guna menentukan arah kebijakan Teknologi Informasi dan Komputer di lingkungan Ditjen Cipta Karya. Kata kunci: data, informasi, data warehouse
ANALISIS DATABASE DAN PERANCANGAN DATA WAREHOUSE BIDANG CIPTA KARYA Nana Suryana
Jurnal TEDC Vol 12 No 2 (2018): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.037 KB)

Abstract

Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya merupakan sebuah unit organisasi yang berada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang lingkup tugasnya meliputi Infrastruktur Pemukiman, Penataan Bangunan, Pengembangan Kawasan Pemukiman serta Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Dengan semakin tingginya tingkat pembangunan yang diselenggarakan oleh Ditjen Cipta Karya, maka semakin besar pula data yang diolah, dan hal ini membutuhkan kemampuan pengolahan data yang besar, cepat dan mempunyai informasi yang dibutuhkan oleh manajemen dalam menentukan arah kebijakan di masa depan. Maka dari itu dibutuhkan suatu Data Warehouse , dimana data warehouse ini dirancang dan dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar aplikasi yang dibangun tidak mengikuti suatu standarisasi data yang baku. Namun demikian, analisis terhadap aplikasi database yang ada di Ditjen Cipta Karya sangat membantu guna menentukan arah kebijakan Teknologi Informasi dan Komputer di lingkungan Ditjen Cipta Karya. Kata kunci: data, informasi, data warehouse
Bahasa Isyarat di Balik Layar: Inklusivitas Industri Perfilman Bagi Teman Tuli Indonesia Nursari Utami Dewi; Btari Najwa Naila; Hanni Nabila Athaya; Anggi Putri Azzahra; Nana Suryana
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v4i4.6536

Abstract

Inclusivity is key to creating a fair space for everyone in various fields, including deaf people, especially in the dynamic film industry. In line with this, this study aims to evaluate the level of inclusivity in Indonesian films through the representation of deaf people and the use of sign language as a means of communication. Using a quantitative-descriptive approach, data was collected through questionnaires distributed to two categories, namely the general public and the deaf community, and then analyzed descriptively. The results show that the majority of respondents consider the use of sign language in films to be an important step towards inclusive representation because the representation of deaf people and the use of sign language in Indonesian films is still far from adequate. Further assessment of the limitations of Indonesian films that raise this theme shows that there is a gap that must be addressed immediately. These findings emphasize the need for collaboration between filmmakers, the deaf community, and relevant institutions to create more equitable and accessible representation. By incorporating empathy through the use of sign language, the film industry holds the potential to reach a broader audience and actively contribute to the creation of artworks that can be enjoyed by all segments of society.