Syamsul Arifin
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pelatihan keterampilan pembuatan perhiasan dari kawat (wire jewelry) di lingkungan Jempong Timur Mataram Syamsul Arifin
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 13 No. 1 (2017): Transformasi Januari
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v13i1.1980

Abstract

[Bahasa]: Jempong Timur merupakan lingkungan paling padat di wilayah Kelurahan Jempong Baru Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Populasinya mencapai 1.659 jiwa. Dari aspek ekonomi, sebagian besar warganya terbelit masalah kemiskinan. Kondisi ini dipandang sebagai penyebab munculnya stigma lingkungan tersebut sebagai “wilayah hitam” dalam perspektif sosiologis. Untuk mencapai tujuan tersebut, pelatihan ini dikelola dengan menempuh berbagai strategi pra-pelaksanaan dan pelaksanaan. Strategi pra-pelaksanaan berupa kajian demografi, audiensi dengan pemerintah dan aparat Keluraharan, melakukan pendekatan dan kerja sama dengan pihak-pihak terkait, dan menyusun perencanaan pelatihan berdasarkan analisis kebutuhan personal, serta mempersiapkan materi, bahan, dan sarana pendukung. Sementara strategi pelaksanaan berkaitan dengan model pelatihan yang ditempuh berupa model pelatihan Off The Job Training dengan teknik informasi 30 % dan simulasi 70 %. Dengan strategi tersebut, pelatihan ini berhasil dalam tiga domain, yakni: 1) kognitif: a. peserta mampu menjelaskan jenis-jenis kawat yang digunakan sebagai bahan untuk membuat perhiasan; b, peserta mampu menjelaskan fungsi dan kegunaan berbagai jenis kawat dan mampu membedakan antara jenis kawat yang satu dengan kawat lainnya; c, peserta mampu menyebutkan jenis-jenis tang (peralatan) dan mampu menjelaskan kegunaannya; d, peserta mampu menyebutkan berbagai bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan perhiasan dari kawat sesuai dengan jenis perhiasannya. 2) Psikomotok: Peserta mampu menggunakan tang secara tepat dan benar. Selanjutnya, mereka berhasil membuat perhiasan berupa kalung dari kawat. Namun, hanya enam orang peserta yang mampu membuat perhiasan yang dimaksud dengan kualifikasi sangat baik; 3) Afektif, sebagian peserta memiliki sikap positif berupa sikap kemandirian, kerja sama, sabar, tidak mudah menyerah dan optimis. Keberhasilan mencapai sikap dimaksud terlihat dari keterlibatan mereka selama proses pelatihan berlangsung. Kata Kunci: pelatihan, keterampilan, perhiasan, dan kawat
Model Pembelajaran Ushul Fiqih Berdimenasi Soft Skils Syamsul Arifin
Jurnal Tatsqif Vol. 17 No. 2 (2019): KAJIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.957 KB) | DOI: 10.20414/jtq.v17i2.974

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini untuk menggali karakteristik Ushul Fiqh dari aspek epistemologi dan ontologi dan selanjutnya mendeskripsikan model pembelajarannya yang berdimensi soft skill. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, bahwa Ushul Fiqh sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki potensi laten untuk mengembangkan soft skill peserta didik. Kedua, Ushul Fiqh yang dinilai sebagai induk ilmu pengetahuan Islam memiliki peran sentral dalam mewujudkan Islam sebagai agama yang rahmat dan humanis. Dari aspek epistemologis, pendekatan Ushul Fiqh yang humanistik bukan saja akan melahirkan hukum-hukum Islam yang “berpihak” pada manusia, lebih dari itu, mampu membentuk manusia yang humanis. Ketiga, Pengembangan soft skill melalui pembelajaran Ushul Fiqh dirasakan efektif dengan strategi pembelajaran Value Clarification Learning, Active Learning, dan Contextual Teaching and Learning. Selain itu, Pemilihan contoh-contoh ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung aktualisasi nilai tersebut dan keberanian memberikan makna pada setiap pokok-pokok bahasan ushul Fiqh. menjadi salah satu kunci pencapaian terwujudnya perilaku baru bagi individu. Abstract The purpose of this study is to explore the characteristics of Ushul Fiqh from the epistemological and ontological aspects and then to describe the learning model that has the dimensions of soft skills. The results of the study show that: First, Ushul Fiqh is a science that has latent potential to develop soft skills of students. Second, Ushul Fiqh which is considered as the Queen of Islamic science has a central role in realizing Islam as a religion of grace and humanity. From the epistemological aspect, the humanistic approach of Usul Fiqh will not only give birth to Islamic laws that "take sides" with humans, more than that, capable of forming humanists. Third, the development of soft skills through Ushul Fiqh learning was felt to be effective with the learning strategies of Value Clarification Learning, Active Learning, and Contextual Teaching and Leaning. In addition, the selection of examples of verses from the Qur'an that support the actualization of these values and the courage to give meaning to each of the subjects of Ushul fiqh. become one of the keys to achieving new behaviours for individuals.
Developing Akhlak Karimah Values through Integrative Learning Model in Madrasah Syamsul Arifin; Miftachul Huda; Nur Hayati Mufida
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9, No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : The Faculty of Tarbiyah and Teacher Training associated with PSPII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jpi.v0i0.24443

Abstract

The primary objective of this study was to examine a holistic learning approach that promotes the development of noble character values (akhlak karimah) in madrasah. The study employed a qualitative methodology, specifically utilizing phenomenological research and a descriptive method. Data collection involved interviews, observations, and examination of relevant documents. The participants in this research were Madrasah teachers responsible for teaching various subjects at the ibdtida'iyah, tsanawiyah, and aliyah levels in Lombok. The findings revealed the development of a learning model that integrates all aspects of education to foster the exploration of akhlak karimah values, which are defined as objectives in the affective domain. These values were identified based on the students' needs and were subsequently incorporated into the curriculum through student-centered integrated learning. The implementation of the proposed model follows a similar pattern and concludes with a dedication to this approach.
Model Perencanaan Pembiayaan Pendidikan Berbasis Mutu di Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram Nur Hayati Mufida; Syamsul Arifin
eL-HIKMAH: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam Vol. 17 No. 1 (2023): June
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/elhikmah.v17i1.8038

Abstract

This research aim to describe the quality-based education financing planning model at Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram. To achieve this goal, this researc used descriptive qualitative approach. Research datas were obtainet through in-dept review technique, supported by observation and documentation techniques. The respondents in this research were the leaders, teachers, and employees of MAN 2 Mataram. This study shows that the quality-based education financing planning model at MAN 2 Mataram is pursued through three stages, namely; 1) identifying sources of costs and needs; 2) prioritizing; 3) making a budget plan. Each stage taken is based on the standard planning theory including procedures, principles, characteristics, objectives. In addition, it is also based on regulations and quality-oriented. This model has implications for the achievements of students and institutions that have improved qualitatively and quantitatively. To improve the quality of this financing plan, in the future MAN 2 needs to maximize the economic potential of the madrasah, expand econimic networks, and empower alumni. Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan model perencanaan pembiayaan pendidikan berbasis mutu di Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dan didukung dengan teknik observasi dan dokumentasi. Adapun responden dalam penelitian ini adalah jajaran pimpinan, guru, dan karyawan MAN 2 Mataram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model perencanan pembiayaan pendidikan berbasis mutu di MAN 2 Mataram  ditempuh melalui tiga tahapan berupa; 1) identifikasi sumber biaya dan kebutuhan; 2) membuat prioritas; 3) membuat rencana anggaran. Setiap tahapan yang ditempuh berpijak pada standar teori perencanaan mencakup prosedur, prinsip, sifat, tujuan. Di samping itu juga berpijak pada regulasi dan berorientasi pada mutu. Wujud model ini berimplikasi pada prestasi-prestasi siswa dan lembaga yang mengalami peningkatan secara kualitatif dan kuantitatif. Untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembiayaan ini, ke depan MAN 2 perlu lebih memaksimalkan potensi ekonomi madrasah, memperluas jaringan di bidang ekonomi, dan memberdayakan alumni.
Peran Literasi Al-Qur’an Dalam Pembentukan Pemikiran Kritis Peserta Didik Di SMA Negeri 1 Wanasaba Jumaah Jumaah; Syamsul Arifin
Journal on Education Vol 6 No 2 (2024): Journal on Education: Volume 6 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v6i2.4968

Abstract

This study is a case analysis with the primary goal of exploring how Quranic literacy influences the development of critical thinking skills in students attending SMA Negeri 1 Wanasaba. Quranic literacy entails comprehending the Quranic texts and integrating them into daily thought processes and behaviors. The primary objective of this investigation was to examine the impact of students' comprehension of the Quran on their critical thinking development within this educational institution. The research utilized a case study methodology, incorporating data collection through extensive interviews with students, classroom observations, and an examination of documents associated with Quranic instruction at the school. Following data collection, a qualitative approach was employed for analysis. The findings of the study suggest that Quranic literacy has a notable influence on shaping students' critical thinking abilities. Students who have a deep understanding of the Quran tend to have the ability to analyze, evaluate, and comprehend various issues more critically. They are also able to relate the values contained in the Quran to the context of their daily lives. This research has important implications in the context of education at SMA Negeri 1 Wanasaba and may also be relevant to other schools with similar approaches. Understanding the role of Quranic literacy in shaping critical thinking can help in the development of more holistic and sustainable educational programs and assist students in developing more analytical and critical thinking skills to face various challenges in their lives
Revitalisasi Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun dalam Konteks Pendidikan di Era Modern (Analisis Studi Kasus di Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani) M. Tabibuddin; Muhamad Alwi Muhtar; Syamsul Arifin
Journal on Education Vol 6 No 2 (2024): Journal on Education: Volume 6 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v6i2.5046

Abstract

This research examines the revitalization of Ibn Khaldun's Islamic educational philosophy within the context of Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani in the modern era. Ibn Khaldun, a 14th-century Muslim scholar, held a comprehensive view of education that encompassed social, cultural, and psychological aspects. This case study aims to explain how Ibn Khaldun's concepts, such as 'Asabiyyah,' 'Tarbiyah,' and 'Umran,' can be applied in modern education within pesantren. The research methodology includes interviews, observations, and document analysis. The results show that Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani has successfully integrated Ibn Khaldun's philosophy into its curriculum and educational practices. 'Asabiyyah' is used to foster social solidarity, while 'Tarbiyah' shapes the character of students. This research holds significant implications for the development of Islamic education in the modern era and promotes the continuity of Islamic values in education
Readiness of Islamic Education Teachers for Merdeka Curriculum: Challenges and Opportunities in Digital Era Fitriani Fauziah; Syamsul Arifin; Mustain Mustain
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di era digital, dengan menyoroti tantangan dan peluang yang dihadapi. Kajian ini penting mengingat keberhasilan transformasi kurikulum sangat bergantung pada kesiapan dan kemampuan adaptasi guru terhadap perkembangan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus yang dilaksanakan di SMAN 1 Gunung Sari. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan guru PAI, observasi partisipatif di lingkungan sekolah, serta analisis dokumen terkait implementasi kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sesuai prinsip Kurikulum Merdeka, terutama dalam menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa yang beragam. Meskipun demikian, beberapa guru telah mulai memanfaatkan platform digital seperti Canva dan Quizizz, namun penggunaannya belum optimal akibat keterbatasan kompetensi teknis. Selain itu, keterbatasan infrastruktur teknologi juga menjadi kendala utama. Di sisi lain, terdapat peluang pengembangan yang ditandai dengan antusiasme guru dalam mengikuti pelatihan teknologi serta ketersediaan sumber belajar digital. Kesimpulannya, peningkatan kesiapan guru memerlukan dukungan sistematis melalui program pendampingan kurikulum berbasis kebutuhan, pembentukan komunitas belajar profesional, serta penyediaan infrastruktur teknologi yang memadai.
Integrasi Heutagogi, Peeragogy, dan Cybergogy Dalam Transformasi Pembelajaran Pendidikan Islam di Era Digital Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4976

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran pendidikan Islam. Transformasi tersebut menuntut adanya model pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru, tetapi juga mampu mendorong kemandirian belajar, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep heutagogy, peeragogy, dan cybergogy serta mengkaji integrasi ketiga pendekatan tersebut dalam transformasi pembelajaran pendidikan Islam di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari berbagai literatur berupa buku, artikel jurnal ilmiah, prosiding, dan laporan penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa heutagogy menekankan kemandirian belajar peserta didik melalui konsep self-determined learning, peeragogy menekankan pembelajaran kolaboratif melalui interaksi antar peserta didik dalam komunitas belajar, sedangkan cybergogy menekankan pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran daring yang melibatkan aspek kognitif, emosional, dan sosial. Integrasi ketiga pendekatan tersebut dapat menciptakan model pembelajaran pendidikan Islam yang lebih adaptif, partisipatif, kolaboratif, dan inovatif di era digital. Dengan demikian, integrasi heutagogy, peeragogy, dan cybergogy berpotensi menjadi model transformasi pembelajaran pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan peserta didik pada era digital.
Analisis Indikator Evaluasi Empati dan Moderasi Beragama dalam PAI: Perspektif Kurikulum Berbasis Cinta Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4977

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan sosial siswa, termasuk pengembangan empati dan moderasi beragama. Namun, penerapan evaluasi yang sistematis terhadap kedua aspek tersebut masih memerlukan kajian mendalam, khususnya dalam konteks Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana indikator tersebut dapat diukur dan diimplementasikan dalam konteks sekolah multikultural. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara evaluasi empati dan sikap toleransi siswa, serta mengevaluasi reliabilitas penilaian guru dalam mengukur moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan menelaah berbagai literatur, jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang kemudian direduksi dan dianalisis secara deduktif untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator evaluasi yang tepat melibatkan aspek afektif dan kognitif, di mana penilaian berbasis moderasi beragama dapat mempengaruhi pencegahan sikap eksklusivisme keagamaan di kalangan siswa. Oleh karena itu, asesmen autentik yang berfokus pada sikap inklusif sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di lingkungan sekolah multikultural.
Dinamika Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia Serta Tantangan Bagi Madrasah dan Pesantren Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4978

Abstract

Tulisan ini berjudul “Tujuan Dinamika Pertumbuhan Dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional Di Indonesia Serta Tantangannya Bagi Madrasah Dan Pesantren” membahas tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam tradisional, khususnya madrasah dan pesantren. Pendidikan Islam transnasional merujuk pada jaringan pemikiran, gerakan, dan lembaga pendidikan Islam yang memiliki keterkaitan dengan ideologi serta jaringan keislaman global di luar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia serta implikasinya terhadap sistem pendidikan Islam yang telah lama berkembang dalam konteks keislaman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain globalisasi pendidikan, mobilitas intelektual Muslim, jaringan organisasi dakwah internasional, serta perkembangan teknologi informasi. Fenomena ini memberikan kontribusi dalam memperkaya wacana keislaman dan mendorong pembaruan dalam sistem pendidikan Islam. Namun di sisi lain, keberadaannya juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi madrasah dan pesantren, seperti munculnya perbedaan orientasi ideologi keagamaan, potensi pergeseran nilai-nilai Islam moderat, serta tantangan dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang kontekstual dengan budaya lokal Indonesia. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa madrasah dan pesantren perlu memperkuat identitas keislaman yang moderat, meningkatkan literasi keagamaan yang inklusif, serta mengembangkan kurikulum pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan lokal. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat tetap relevan dan mampu menghadapi dinamika perkembangan pendidikan Islam di era globalisasi.