Anisa Anisa
Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PERILAKU ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TERHADAP DESAIN FASILITAS PENDIDIKAN STUDI KASUS : BANGUNAN PENDIDIKAN ANAK AUTIS Dyah Septia; Lily Mauliani; Anisa Anisa
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 prevalansi penyandang autis setiap tahun semakin meningkat, diperkirakanmencapai 2,4 juta orang dari 237,5 juta penduduk dengan laju pertumbuhan 1,14 persen. Jumlah autisme di Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 500 orang setiap tahunnya. Peningkatan jumlah penyandang autis ini semakin lama semakin mengkhawatirkan, maka dari itu diperlukannya penanganan terpadu yang dapat membantu para penyandang agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.    Penyandang autis mempunyai karakteristik khusus, yang dalam  tingkatan tertentu tidak dapat berinteraksi secara normal dengan individu yang lain. Termasuk dalam hal pendidikan.Karena itulah dibutuhkan fasilitas pendidikan dengan desain khusus untuk penyandang autis.Penelitian ini dilakukan dengan mengamati perilaku penyandang autis pada sekolah khusus anak autis yang ada di Bogor.   Beberapa kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah kegiatan penyandang autis khususnya di dasari pada aspek penanganan bagi individual autistik. Kebutuhan ruang untuk sosialisasi sangat penting mengingat bahwa penyandang autis memiliki masalah pada interaksi sosialnya sehingga ruang-ruang dalam akan di tata secara  radial dimana ruang-ruang kelas saling berhadapan yang dipisahkan oleh koridor yang akan menciptakan ruang interaksi social dan juga pola radial yang berpusat pada satu titik dimana satu    titik tersebut menjadi ruang berkumpul dan sosialisasi.  Kata Kunci :
PENERAPAN ARSITEKTUR SURYA PASIF PADA BANGUNAN HUNIAN VERTIKAL. Kasus Studi: Greenhost Boutique Hotel. Ahmad Riyan Budiman; Anisa Anisa
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 21 No. 1 (2023): Kenyamanan dan Ketahanan dalam Desain Arsitektur dan Lingkungan
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v21i1.14925

Abstract

Secara geografis, Indonesia merupakan salah satu negara yang dilintasi garis khatulistiwa. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dengan skala yang cukup tinggi. Sayangnya, sinar matahari yang cukup tinggi di Indonesia seringkali membuat penghuni bangunan merasa tidak nyaman. Hal ini disebabkan antara lain minimnya bukaan sirkulasi udara dan sirkulasi cahaya, sehingga berdampak pada penggunaan AC yang berlebihan. Contoh di lingkungan sekitar adalah pada bangunan hunian vertikal. Banyak solusi yang bisa mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya ialah dengan solusi hemat energi dan menekankan desain surya  pasif. Sistem Arsitektur Surya Pasif memanfaatkan teknik energi surya pada bangunan melalui perancangan arsitektur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan dilakukan secara deduktif dengan memahami teori surya pasif  yang diaplikasikan pada suatu contoh kemudian didapatlah kesimpulan yang bersifat komprehensif. Langkah yang dilakukan pada analisis adalah mengidentifikasi lalu menganalisis dari kasus yaitu bangunan Greenhost Boutique Hotel. Hasil dari penelitian ini adalah tiga bagian konsep pada arsitektur surya pasif  dapat di terapkan pada bangunan hunian vertical, dengan ketentuan yang memperhatikan beberapa hal yaitu : (1) orientasi bangunan; (2) penempatan bukaan; (3) pemakaian material; (4) desain bangunan yang bisa mengatur pencahayaan alami dan sirkulasi udara pada bangunan.  Tiga konsep yang dimaksud, yaitu sistem pemanasan, sistem pencahayaan, dan sistem pendinginan dapat diaplikasikan dengan memberikan elemen-elemen pada dinding, selubung, maupun sekitar bangunan. Elemen-elemen yang dimaksud antara lain, pencahayaan dan penghawaan alami dengan sistem silang, pembentukan daerah bayangan, dan penataan vegetasi.
PENERAPAN ARSITEKTUR SURYA PASIF PADA BANGUNAN HUNIAN VERTIKAL. Kasus Studi: Greenhost Boutique Hotel. Ahmad Riyan Budiman; Anisa Anisa
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 21 No. 1 (2023): Kenyamanan dan Ketahanan dalam Desain Arsitektur dan Lingkungan
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v21i1.14925

Abstract

Secara geografis, Indonesia merupakan salah satu negara yang dilintasi garis khatulistiwa. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dengan skala yang cukup tinggi. Sayangnya, sinar matahari yang cukup tinggi di Indonesia seringkali membuat penghuni bangunan merasa tidak nyaman. Hal ini disebabkan antara lain minimnya bukaan sirkulasi udara dan sirkulasi cahaya, sehingga berdampak pada penggunaan AC yang berlebihan. Contoh di lingkungan sekitar adalah pada bangunan hunian vertikal. Banyak solusi yang bisa mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya ialah dengan solusi hemat energi dan menekankan desain surya  pasif. Sistem Arsitektur Surya Pasif memanfaatkan teknik energi surya pada bangunan melalui perancangan arsitektur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan dilakukan secara deduktif dengan memahami teori surya pasif  yang diaplikasikan pada suatu contoh kemudian didapatlah kesimpulan yang bersifat komprehensif. Langkah yang dilakukan pada analisis adalah mengidentifikasi lalu menganalisis dari kasus yaitu bangunan Greenhost Boutique Hotel. Hasil dari penelitian ini adalah tiga bagian konsep pada arsitektur surya pasif  dapat di terapkan pada bangunan hunian vertical, dengan ketentuan yang memperhatikan beberapa hal yaitu : (1) orientasi bangunan; (2) penempatan bukaan; (3) pemakaian material; (4) desain bangunan yang bisa mengatur pencahayaan alami dan sirkulasi udara pada bangunan.  Tiga konsep yang dimaksud, yaitu sistem pemanasan, sistem pencahayaan, dan sistem pendinginan dapat diaplikasikan dengan memberikan elemen-elemen pada dinding, selubung, maupun sekitar bangunan. Elemen-elemen yang dimaksud antara lain, pencahayaan dan penghawaan alami dengan sistem silang, pembentukan daerah bayangan, dan penataan vegetasi.