Ahmad Riyan Budiman
Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN ARSITEKTUR SURYA PASIF PADA BANGUNAN HUNIAN VERTIKAL. Kasus Studi: Greenhost Boutique Hotel. Ahmad Riyan Budiman; Anisa Anisa
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 21 No. 1 (2023): Kenyamanan dan Ketahanan dalam Desain Arsitektur dan Lingkungan
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v21i1.14925

Abstract

Secara geografis, Indonesia merupakan salah satu negara yang dilintasi garis khatulistiwa. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dengan skala yang cukup tinggi. Sayangnya, sinar matahari yang cukup tinggi di Indonesia seringkali membuat penghuni bangunan merasa tidak nyaman. Hal ini disebabkan antara lain minimnya bukaan sirkulasi udara dan sirkulasi cahaya, sehingga berdampak pada penggunaan AC yang berlebihan. Contoh di lingkungan sekitar adalah pada bangunan hunian vertikal. Banyak solusi yang bisa mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya ialah dengan solusi hemat energi dan menekankan desain surya  pasif. Sistem Arsitektur Surya Pasif memanfaatkan teknik energi surya pada bangunan melalui perancangan arsitektur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan dilakukan secara deduktif dengan memahami teori surya pasif  yang diaplikasikan pada suatu contoh kemudian didapatlah kesimpulan yang bersifat komprehensif. Langkah yang dilakukan pada analisis adalah mengidentifikasi lalu menganalisis dari kasus yaitu bangunan Greenhost Boutique Hotel. Hasil dari penelitian ini adalah tiga bagian konsep pada arsitektur surya pasif  dapat di terapkan pada bangunan hunian vertical, dengan ketentuan yang memperhatikan beberapa hal yaitu : (1) orientasi bangunan; (2) penempatan bukaan; (3) pemakaian material; (4) desain bangunan yang bisa mengatur pencahayaan alami dan sirkulasi udara pada bangunan.  Tiga konsep yang dimaksud, yaitu sistem pemanasan, sistem pencahayaan, dan sistem pendinginan dapat diaplikasikan dengan memberikan elemen-elemen pada dinding, selubung, maupun sekitar bangunan. Elemen-elemen yang dimaksud antara lain, pencahayaan dan penghawaan alami dengan sistem silang, pembentukan daerah bayangan, dan penataan vegetasi.
PENERAPAN ARSITEKTUR SURYA PASIF PADA BANGUNAN HUNIAN VERTIKAL. Kasus Studi: Greenhost Boutique Hotel. Ahmad Riyan Budiman; Anisa Anisa
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 21 No. 1 (2023): Kenyamanan dan Ketahanan dalam Desain Arsitektur dan Lingkungan
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v21i1.14925

Abstract

Secara geografis, Indonesia merupakan salah satu negara yang dilintasi garis khatulistiwa. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dengan skala yang cukup tinggi. Sayangnya, sinar matahari yang cukup tinggi di Indonesia seringkali membuat penghuni bangunan merasa tidak nyaman. Hal ini disebabkan antara lain minimnya bukaan sirkulasi udara dan sirkulasi cahaya, sehingga berdampak pada penggunaan AC yang berlebihan. Contoh di lingkungan sekitar adalah pada bangunan hunian vertikal. Banyak solusi yang bisa mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya ialah dengan solusi hemat energi dan menekankan desain surya  pasif. Sistem Arsitektur Surya Pasif memanfaatkan teknik energi surya pada bangunan melalui perancangan arsitektur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan dilakukan secara deduktif dengan memahami teori surya pasif  yang diaplikasikan pada suatu contoh kemudian didapatlah kesimpulan yang bersifat komprehensif. Langkah yang dilakukan pada analisis adalah mengidentifikasi lalu menganalisis dari kasus yaitu bangunan Greenhost Boutique Hotel. Hasil dari penelitian ini adalah tiga bagian konsep pada arsitektur surya pasif  dapat di terapkan pada bangunan hunian vertical, dengan ketentuan yang memperhatikan beberapa hal yaitu : (1) orientasi bangunan; (2) penempatan bukaan; (3) pemakaian material; (4) desain bangunan yang bisa mengatur pencahayaan alami dan sirkulasi udara pada bangunan.  Tiga konsep yang dimaksud, yaitu sistem pemanasan, sistem pencahayaan, dan sistem pendinginan dapat diaplikasikan dengan memberikan elemen-elemen pada dinding, selubung, maupun sekitar bangunan. Elemen-elemen yang dimaksud antara lain, pencahayaan dan penghawaan alami dengan sistem silang, pembentukan daerah bayangan, dan penataan vegetasi.