Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Coronary CT Angiography in Emergency Department: Can We Use It? Purwowiyoto, Sidhi Laksono
Indonesian Journal of Cardiology Vol 38 No 4 (2017): October - December 2017
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.30701/ijc.v38i4.789

Abstract

Acute chest pain syndrome is the main cause of patients come to emergency department. Identifying those with anamneses, risk factors, physical examination, ECG and laboratory remain challenging to exclude the acute coronary syndrome, especially those with low risk probability. Early imaging examination is important for risk stratification of these groups. Utilization of coronary CT angiography quickly identifies a group of low risk patients and allows safe and expedited discharge.   Abstrak Sindroma nyeri dada akut merupakan penyebab utama pasien datang ke unit gawat darurat. Mengidentifikasi mereka dengan anamnesis, faktor risiko, pemeriksaan fisik, EKG dan laboratorium tetap menantang untuk dapat menyingkirkan sindroma koroner akut, terutama yang dengan probabilitas risiko rendah. Pemeriksaan pencitraan awal penting untuk stratifikasi risiko kelompok ini. Penggunaan angiografi CT koroner dengan cepat mengidentifikasi kelompok pasien dengan risiko rendah dan memungkinkan pasien dipulangkan secara aman dan cepat.
Heart Failure Clinic: A Practical Guide for Health Practitioners in Hospitals Sidhi Laksono
Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan Vol 5, No 1 (2022): JKPBK Juni 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.kes.pasmi.kal.v5i1.7408

Abstract

Heart failure is still the leading cause of mortality and morbidity in healthcare in the world. Although the development of the latest drugs and therapeutic devices for heart failure is growing, the life expectancy of patients with heart failure is still low. This is because the hospital has not developed a special heart failure clinic consisting of cross-sectional experts. This heart failure clinic will provide therapy according to heart failure guidelines and will discuss with the patient what therapy is suitable for his condition. This clinic is expected to be a link with advances in technology and medical therapy to improve the quality of life of heart failure patients.
Diagnosis and Management of Dilated Cardiomyopathy: a Systematic Review Sidhi Laksono; Heramitha Azahra
Smart Medical Journal Vol 4, No 3 (2021): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/smj.v4i3.55123

Abstract

Pendahuluan: Kardiomiopati dilatasi merupakan salah satu penyebab gagal jantung, patogenesisnya sangat bervariasi, mulai dari genetik, infeksi, autoimun, dan kardiotoksin. Melakukan pemeriksaan diagnostik mengenai penyebab yang mendasari akan lebih memahami bagaimana kardiomiopati berkembang. Manajemen juga bervariasi secara signifikan sesuai dengan individu. Tujuan dari studi ini adalah untuk membahas strategi diagnosis dan manajemen penyebab yang mendasari dalam memperbaiki kardiomiopati dilatasi untuk mencapai hasil yang lebih baik dan pengobatan yang optimal.Metode: Proses pencarian artikel diakses pada tiga database elektronik, PubMed, PLOS ONE, dan Google Scholar. Data pada artikel sebelumnya terkait dengan teori dasar diagnosis dan manajemen kardiomiopati dilatasi. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel jurnal adalah kardiomiopati dilatasi, gagal jantung, diagnosis, manajemen, dan genetik. Kriteria penulisan artikel ini adalah tahun publikasi dalam 2011 hingga 2021, dalam bahasa Inggris, artikel teks lengkap, dan membahas diagnosis dan manajemen kardiomiopati dilatasi.Hasil: Diperoleh dua puluh tujuh artikel sesuai dengan kriteria inklusi dan dibahas lebih lanjut dalam diagnosis dan pengelolaan kardiomiopati dilatasi.Kesimpulan: Kardiomiopati dilatasi merupakan penyakit progresif pada otot jantung, terutama pembesaran dan pelebaran ventrikel. Proses penyakit ini dominan dikarenakan faktor genetik. Diagnosis kardiomiopati dilatasi tidak hanya dapat dilihat dari manifestasinya, tetapi memerlukan pencitraan dalam ekokardiografi, elektrokardiogram, resonansi magnetik kardio, pengujian genetik, dan biopsi endomiokardial. Mencapai manajemen yang optimal diperlukan untuk mencegah penurunan tingkat fraksi ejeksi, mengurangi perawatan pada pasien gagal jantung, dan mengurangi risiko kematian kardiovaskular.
CARA PENULISAN RESEP YANG BAIK DAN BENAR UNTUK DOKTER UMUM: TINJAUAN SINGKAT Sidhi Laksono; Farhan Kurnia Pratama; Ilham Akbar; Devana Alifia Afifah; Putri Nur Laila Sunandar; Putri Salsabila Ediati
HUMAN CARE JOURNAL Vol 7, No 1 (2022): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v7i1.1634

Abstract

Obat merupakan salah satu komiditi dalam bidang kesehatan yang penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Penulisan resep adalah suatu wujud akhir kompetensi dokter dalam pelayanan kesehatan yang secara komprehensif menerapkan ilmu pengetahuan dan keahlian di bidang farmakologi dan teraupetik secara tepat, aman dan rasional kepada pasien khususnya dan seluruh masyarakat pada umumnya. Bentuk standar penulisan resep di Indonesia terdiri dari inscriptio, invocatio, prescriptio, signatura, subscriptio dan pro.
TUGAS DAN PERAN TEKNISI KARDIOVASKULAR DALAM ABLASI ATRIAL FLUTTER Fitry Rahayu Nanang; Adia Putri Rohaeni; Sidhi Laksono
HUMAN CARE JOURNAL Vol 7, No 3 (2022): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v7i3.1985

Abstract

Ablasi jantung adalah perawatan yang digunakan untuk memperbaiki irama jantung yang disebabkan oleh aritmia termasuk atrial flutter. Atrial flutter dibagi menjadi atrial flutter tipikal dan atipikal. Contoh khas dari sirkuit re-entry adalah untuk kembali ke septum atrium dan menghasilkan pulsa gelombang melalui isthmus yang tertutup secara unilateral antara vena cava inferior dan sinus koroner dan anulus. Radiofrequency catheter ablation (RFCA) sangat efektif sebagai terapi lini pertama untuk mempertahankan irama sinus dari atrial flutter dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90%. Perawatan utama untuk atrial flutter adalah ablasi kateter pada vena cava trisep. Teknisi kardiovaskular perlu memahami prosedur ablasi atrial flutter, pemantauan hemodinamik, pengukuran hasil, dan interpretasi. Selama tindakan, teknisi kardiovaskular juga memantau tanda-tanda vital, perubahan EKG, dan perubahan tekanan yang terjadi pada pasien dan segera memberi tahu operator jika ada perubahan. Teknisi kardiovaskular juga melakukan entri data pada monitor.
ELEKTROGRAM INTRAKARDIAK PADA ATRIAL FLUTTER Raisya Rahmadita; Ghina Nur Shafa; Sidhi Laksono
HUMAN CARE JOURNAL Vol 7, No 3 (2022): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v7i3.1984

Abstract

Aritmia adalah irama detak jantung yang tidak normal. Atrial flutter adalah salah satu aritmia yang paling umum dan ditandai dengan irama jantung abnormal yang cepat, Atrial Flutter dapat menyebabkan palpitasi, kelelahan, sinkop, dan emboli. Ketika atrial flutter terjadi, sinyal dari nodus sinoatrial bergerak melalui atrium kanan dengan kecepatan dan kontinuitas yang tidak normal. Hal ini menyebabkan atrium jantung berdetak terlalu cepat sekitar 250-320 denyut per menit (bpm), dan ventrikel jantung biasanya berdetak sekitar 150 bpm.  Atrial flutter adalah takikardia macroreentrant yang dapat berupa flutter atrium tipikal atau atipikal, tergantung pada lokasinya. Sumbu listrik dari gelombang flutter membantu mengidentifikasi penyebab atrial flutter. Faktor risiko terjadinya Atrial Flutter, termasuk usia gender 50 tahun ke atas, hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit jantung bawaan, merokok, dan diabetes militus. Atrial Flutter dapat diidentifikasi dengan bentuk gelombang karakteristik EKG. Gambaran EKG pada Atrial flutter terlihat bergerigi. Elektrogram intrakardiak adalah rekaman aktivitas listrik di ruang jantung menggunakan elektroda multipolar yang ditempatkan di dalam jantung. IEGM direkam pada kecepatan yang jauh lebih tinggi dari 100 hingga 200 mm/detik.
ARRHYTHMIA IN ACUTE CORONARY SYNDROME: MINI REVIEW Sidhi Laksono; Natasha Anindhia Harsas
Al-Iqra Medical Journal : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran Vol 5, No 1 (2022): ILMU KEDOKTERAN
Publisher : Journal Medical Universitas muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/aimj.v5i1.7646

Abstract

Acute coronary syndrome is a life-threatening disease often accompanied by manifestations of arrhythmias. Tachyarrhythmias of supraventricular and ventricular origin are common in the early hours and at reperfusion. This condition can worsen the patient's prognosis and might result in sudden death if not treated quickly and appropriately. Conduction disorders are also one of the complications that occur due to ischemia in the heart. The treatment given is not only aimed at saving the patient during the acute phase. However, therapy for risk factor modification and prevention of recurrent acute events is also important to increase long-term survival. In this literature review, we will discuss recommendations for pharmacological and non-pharmacological management of arrhythmias in cases of acute coronary syndrome in emergency and follow-up situations with various patient characteristics and forms of arrhythmias that appear.
Gejala Gastrointestinal pada Diseksi Aorta : Tantangan Bagi Kardiolog Sibro Malisi; Novan Fachrudin; Natasha Anindhia Harsas; Hengkie Frankie Lasanudin; Sidhi Laksono
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol. 8 No.2 November 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i2.8356

Abstract

Latar Belakang: Diseksi aorta, pada keadaan atipikal yang jarang, gejala dan pemeriksaan fisik yang atipikal dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan dapat membawa risiko kematian yang lebih tinggi.Tujuan: Kami melaporkan kasus diseksi aorta tipe A dengan gejala tidak spesifik dan pemeriksaan fisik normal.Presentasi Kasus: Seorang wanita 48 tahun datang ke UGD dengan mual dan muntah, dengan riwayat hipertensi. Jantung, paru-paru, dan perut dalam kondisi fisik yang normal. Pemeriksaan fisik normal meskipun terdapat hipertensi. EKG, ekokardiografi, dan rontgen dada menunjukkan hasil yang abnormal. Terapi simtomatik dan obat hipertensi diberikan sebagai tindak lanjut. Pemeriksaan multislice computed tomography (MSCT) torakoabdominal dilakukan diikuti oleh pemeriksaan computed tomography (CT) koroner, yang mengungkapkan diseksi aorta.Kesimpulan: Presentasi diseksi aorta dapat menyerupai gejala gastrointestinal dengan temuan hipertensi urgensi. Dokter memerlukan pemeriksaan lebih lanjut jika ada faktor risiko dan hasil pemeriksaan abnormal yang diduga berhubungan dengan diseksi aorta.
KELELAHAN PADA TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL: SUATU TINJAUAN PUSTAKA Sidhi Laksono
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Perekam Medis & Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v5i2.2833

Abstract

Bertambahnya populasi dan pasien usia tua akan meningkatkan permintaan layanan kesehatan, sementara membutuhkan petugas kesehatan. Kekurangan petugas kesehatan profesional menyebabkan beban kerja dan mengakibatkan kelelahan. Kelelahan ini berefek tidak hanya terhadap layanan kesehatan tetapi juga ke kehidupan petugas kesehatan profesional. Kelelahan ini bisa diakibatkan karena kurangnya pemahaman di kalangan petugas kesehatan itu sendiri, keragaman dan faktor pribadi petugas serta tidak adanya dukungan dari organisasi kesehatan. Diperlukan keseimbangan kehidupan kerja, manajemen beban kerja, edukasi dini dan intervensi organisasi. Artikel ini akan membahas secara singkat mengenai kelelahan pada tenaga kesehatan. Diharapkan para tenaga kesehatan dapat mengatasi masalah kesehatan ini ke depannya.
Book Review Manual of Chronic Total Occlusion Percutaneous Coronary Interventions: A Step-by-Step Approach Sidhi Laksono
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol. 7 No. 2 (2022): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v7i2.567

Abstract

The Manual of Chronic Total Occlusion Percutaneous Coronary Interventions: A Step-by-Step Approach, Third Edition is a useful reference for percutaneous coronary intervention (PCI) with chronic total occlusion (CTO). Written by national and international experts in the field of CTO and edited by Emmanuel Brilakis, this book gives the steps necessary to do CTO PCI, the pitfalls to watch out for, and how to modify tactics if we face CTO complications. This manual book is dedicated and made for interventional cardiologists, interventional cardiology fellows, general cardiology residents, also cardiac catheterization laboratory staff. This book will give you the latest state of the art in the field of CTO PCI. In this new edition, new numbers, images, and algorithms have been developed and shared to reflect the CTO PCI updates. Additionally, this update includes links to nearly 200 of his CTO PCI cases. The structure of the book has been completely revised to align with the recently published Manual of Percutaneous Coronary Intervention.