Elsa Pudji Setiawati
Universitas Padjadjaran, Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Instrumen Pengukur Kualitas Pelayanan Kesehatan berdasar atas Harapan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional di Rumah Sakit Ida Hadiyati; Nanan Sekarwana; Deni Kurniadi Sunjaya; Elsa Pudji Setiawati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.483 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2403

Abstract

Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit perlu dilakukan secara berkesinambungan. Pengukuran kualitas pelayanan kesehatan dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, di antaranya berdasar atas harapan pasien. Dengan menggali harapan pasien, aspek pelayanan kesehatan yang dianggap penting bagi pasien dapat dipahami oleh penyedia layanan. Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di Indonesia belum terdapat instrumen pengukur kualitas pelayanan berdasar atas harapan pasien sehingga peneliti bermaksud menyusun instrumen untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan berdasar atas harapan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan terhadap 39 peserta JKN di Instalasi Rawat Jalan, RSUD Al-Ihsan, Kabupaten Bandung pada November 2016–Januari 2017. Pasien peserta JKN yang berobat rawat jalan lebih dari satu kali, dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan berpendidikan minimal SMA atau sederajat dilibatkan menjadi responden dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan instrumen yang disusun dari penelitian kualitatif mengenai kualitas pelayanan berdasar atas harapan pasien. Data yang diperoleh merupakan data ordinal yang merupakan tingkatan harapan pasien. Metode analisis yang digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas adalah analisis pemodelan Rasch. Diperoleh instrumen pengukur kualitas pelayanan kesehatan berdasar atas harapan pasien yang terdiri atas 11 aspek, yakni sarana prasarana, karyawan, pelayanan medik, pelayanan administrasi, keamanan, kepercayaan, akses, transparansi informasi, kesetaraan, iur biaya, dan kualitas antarbagian. Nilai reliabilitas instrumen 0,92 dan alfa Cronbach 0,94. Terdapat 43 butir pertanyaan yang memiliki nilai outfit mean square di antara +2,0 dan +0,5; nilai outfit z-standard di antara +2,0 dan −2,0; serta nilai point measure correlation yang positif. Simpulan, diperoleh instrumen pengukur kualitas pelayanan kesehatan berdasar atas harapan pasien JKN yang valid dan reliabel, terdiri atas 11 aspek dan 43 butir pertanyaan.DEVELOPMENT OF A HEALTH CARE QUALITY INSTRUMENT BASED ON NATIONAL HEALTH INSURANCE PATICIPANT'S EXPECTATION AT HOSPITALImproving healthcare quality at the hospital should be done continually. Quality of healthcare can be evaluated using some methods, one of them is measuring patient’s expectation. Exploring patient’s expectation describes important aspects of healthcare that should be understood by healthcare provider. In this era of the National Health Insurance, in Indonesia there’s still no health care quality instrument available yet, especially based on patients’ expectation. The author aimed to develop an instrument measuring quality of health care based on patient’s expectation at hospital. A qualitative study designed by cross-sectional was conducted to 39 participants of National Health Insurance at Outpatient Installation of Al-Ihsan Bandung District Hospital in November 2016–January 2017. National Health Insurance participants who had treatment more than once, could speak Indonesian fluently, and graduated from senior high school was involved in this study. The data was obtained by an interview using an instrument which was developed from a qualitative study. The data was an ordial scale measurement describing level of patient expectation. The method to analyze validity and reliability of the instrument was the Rasch model. Instrument measuring health care quality based on patient expectation consists of 11 aspects, those are facility and infrastructure, hospital staff, medical service, administrative service, safety, trustworthiness, access, transparacy of information, equality, cost sharing, and interdepartment quality. The reliability index of the instrument was 0.92 and Cronbach’s alpha index was 0.94. There were 45 items which have outfit mean square index between +2.0 and +0.5, outfit z-standard index between +2.0 and -2.0, and positive point measure correlation index. In conclusion, the instrument measuring quality of health care based on patient’s expectation is valid and reliable, contains 11 dimensions and 43 items.
Asimetri Supply dan Demand dalam Pemenuhan serta Pemerataan Dokter di Puskesmas di Jawa Barat Elsa Pudji Setiawati; Nita Arisanti; Insi Farisa Desy Arya; Lukman Hilfi; Sekar Ayu Paramita
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.846 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.2020

Abstract

Pada implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan harus ditangani di pelayanan kesehatan primer terlebih dahulu. Puskesmas merupakan bentuk pelayanan kesehatan primer yang dituntut memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dan prima. Sumber daya manusia (SDM)adalah faktor penting dalam pencapaian kinerja. Manajemen SDM membahas ketersediaan SDM sesuai dengan kualifikasi, kompetensi, dan motivasi. Tujuan penelitian ini menganalisis kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan dokter di pelayanan kesehatan primer. Penelitian menggunakan metode deskriptif untuk menjelaskan kesenjangan kebutuhan dokter ditinjau dari standar dokter dengan jumlah penduduk, ketersediaan dokter dan puskesmas terhadap jumlah penduduk, serta minat dokter bekerja di puskesmas pada era implementasi JKN. Penelitian dilakukan di Kota Bandung pada April−Mei 2015. Hasil kajian menyatakan terdapat kesenjangan antara kebutuhan dokter di puskesmas dan dokter yang berminat bekerja di puskesmas. Penyebab minat dokter yang bekerja di layanan primer rendah disebabkan oleh ketidakjelasan pengembangan profesionalisme; ketidakpuasan pembayaran sistem kapitasi; lingkungan kerja kurang menyenangkan; beban kerja yang tinggi; pendapatan berdasar atas jasa medis yang diterima rendah; dan proses pendidikan yang kurang membangun minat untuk bekerja di layanan primer. Simpulan, terdapat kesenjangan kebutuhan dokter di puskesmas dengan dokter yang berminat bekerja di puskesmas. Disarankan memperbanyak program pada masa pendidikan kedokteran yang dapat membangun minat bekerja di layanan primer.ASYMETRI OF SUPPLY AND DEMAND FOR DISTRIBUTION OF MEDICAL DOCTOR IN PRIMARY HEALTH CARE IN WEST JAVAThe implementation of the National Health Insurance required people who need health services to be treated first in primary health care (PHC). PHC required quality health services and one of the important factor was human resources. Human resources management was needed to ensure the adequacy of human resources both in quantity and quality, the availability of appropriate qualification, competence and motivation to work in an organizational unit. The objective of this study was to analyze the gap between supply and demand of the doctors working in PHC. This study was a case report using descriptive methods, to explain the gap between supply and demand of the doctors in term of the standard for population, availability the doctors and PHC. The study was conducted in Bandung City during April−May 2015. The study found that there was a gap between the supply and demand of doctors who were interested to work in PHC. The reason of low interest doctors working in PHC among others were, uncertain professional development; dissatisfaction on capitation payment system; less convenient work environment; the high workload and too many government programs; low income based on medical services cost; and the process of education in medical school were delivered to make less interest to work in PHC. In conclusion, there is gap between supply and demand of doctor to work in PHC. The recommendation is encouraging interaction between the medical students with the primary care services to build the medical student’s motivation.