Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Gambaran Tingkat Kecemasan Mahasiswa Tingkat 1 Fakultas Kedokteran Unisba pada Sistem Pembelajaran Daring Selama Pandemi Covid-19 Nurmalia Putri; Yuniarti; R. Ganang Ibnusantosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1437

Abstract

Abstract. The COVID-19 pandemic was declared a "public health emergency of international concern" by WHO on January 30, 2020, and designated a pandemic on March 11, 2020. The COVID-19 pandemic causes psychological and social effects. One of the psychological effects of the COVID-19 pandemic is anxiety. This anxiety can occur among students. Data from Chang et al in China shows that students have an incidence of mental disorders due to the COVID-19 pandemic, namely anxiety around 26.60%. This study aims to describe the level of anxiety in level 1 students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung for the 2020/2021 academic year in the online learning system during the COVID-19 pandemic. The research design used was descriptive observational, with a cross-sectional design. The sample size is 133 first-year students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung for the academic year 2020/2021 with a simple random sampling technique, the instrument used is the Zung Self Rating-Anxiety Scale (ZSAS) questionnaire. The results showed that most of the respondents did not experience anxiety as many as 104 people (76%) and the rest experienced mild anxiety as many as 32 people (24%). Students don’t experience anxiety (normal) because of their adaptability to prevent the emergence of anxiety that arises such as interesting learning, doing self-care, namely sleeping, physical activity, and meeting nutritional needs. Students who experience a mild level of anxiety means that students still have to self-focus on things that cause anxiety but are still able to do other activities. Abstrak. Pandemi COVID-19 dinyatakan sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional" oleh WHO pada tanggal 30 Januari 2020, dan ditetapkan sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Pandemi COVID-19 menyebabkan efek psikologis dan sosial. Salah satu efek psikologis pandemi COVID-19 yaitu kecemasan. Kecemasan ini dapat terjadi di kalangan mahasiswa. Data dari Chang dkk di negara China menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kejadian gangguan mental akibat pandemi COVID-19 yaitu kecemasan sekitar 26,60%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2020/2021 pada sistem pembelajaran daring selama pandemi COVID-19. Desain penelitian yang digunakan adalah observational deskriptif, dengan rancangan cross sectional. Besar sampel berjumlah 133 mahasiswa tingkat satu Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2020/2021 dengan teknik simple random sampling, instrumen yang digunakan adalah kuesioner Zung Self Rating-Anxiety Scale (ZSAS). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan sebanyak 104 orang (76%) dan sisanya mengalami kecemasan ringan sebanyak 32 orang (24%). Mahasiswa tidak mengalami kecemasan (normal) karena kemampuan adaptasinya untuk mencegah timbulnya rasa cemas yang muncul seperti pembelajaran yang menarik, melakukan perawatan diri yaitu tidur, aktivitas fisik dan memenuhi kebutuhan nutrisi. Mahasiswa yang mengalami tingkat kecemasan ringan artinya mahasiswa masih mempunyai fokus diri terhadap hal- hal yang menimbulkan kecemasan tetapi masih mampu melakukan aktivitas lain.
Hubungan Antara IMT dengan Keluhan Lower Back Pain pada Mahasiswa FK Unisba Dimas Muhammad Farhan; Dede Setiapriagung; Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6259

Abstract

Abstract. Low Back Pain (LBP) is a pain complaint that often occurs in the world, especially in Indonesia. Body Mass Index (BMI) is one of the risk factors for someone to experience LBP and there has been no research on the relationship between BMI and LBP complaints in student of the faculty of medicine, Bandung Islamic University. This study aims to analyze whether there is a relationship between body mass index and LBP complaints in FK UNISBA students. This study used an analytic observational method with a cross-sectional approach. The sampling method is by using probability sampling technique with random sampling. The number of samples according to inclusion enumeration was 85 people with measurements including measurements of height, weight and LBP complaints. The average age of the respondents was 18 years old as many as 43 people (50.6%) and based on gender the majority were women as many as 54 people (63.5%). The average BMI of the respondents was in the normal BMI category, namely 35 people (41.2%). LBP complaints to respondents, namely as many as 58 people (68.2%) did not experience LBP complaints. Bivariate analysis using the chi square test obtained BMI results with LBP complaints (p: 0.182) > 0.05 which means that there is no relationship between BMI and LBP complaints in FK UNISBA students. Abstrak. Low back Pain (LBP) merupakan keluhan nyeri yang sering terjadi di dunia terutama di Indonesia. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan salah satu faktor risiko seseorang untuk mengalami LBP dan belum ada penelitian tentang hubungan antara IMT dengan keluhan LBP pada mahasiswa FK UNISBA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara IMT dengan keluhan LBP pada mahasiswa FK UNISBA. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Cara mengambilan sampel adalah dengan teknik probability sampling dengan jenis random sampling. Jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 85 orang dengan pengukuran meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan dan keluhan LBP. Usia rata-rata responden adalah berusia 18 tahun sebanyak 43 orang (50.6%) dan berdasarkan jenis kelamin sebagian besar perempuan sebanyak 54 orang (63.5%). Indeks massa tubuh rata-rata pada responden adalah kategori IMT normal yaitu sebanyak 35 orang (41.2%). Keluhan LBP pada responden yakni sebanyak 58 orang (68.2%) tidak mengalami keluhan LBP. Analisis bivariat menggunakan uji chi square mendapatkan hasil IMT dengan keluhan LBP (p: 0.182) > 0.05 dengan hal ini disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara IMT dengan keluhan LBP pada mahasiswa FK UNISBA.
Rokok sebagai Faktor Risiko terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru pada Dewasa Ari Susanti; yuniarti; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6942

Abstract

Abstract. Pulmonary tuberculosis is a disease of the lower respiratory disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Smoking behavior is a risk factor for infection with Mycobacterium tuberculosis. Smoking can weaken the lungs and make the lungs more easily infected with tuberculosis germs. Inhaled large amounts of cigarette smoke can increase the risk of tuberculosis severity. This scoping review aims to determine the relationship between smoking behavior and the incidence of pulmonary tuberculosis based on research in the last 10 years. The research method was carried out by scoping review articles published by the Pubmed, Springerlink, and Science Direct databases, published from 2012 to 2022. From 21,254 articles, 411 articles were filtered based on inclusion criteria, then followed by filtration using exclusion criteria were obtained 402 articles. and there were 6 articles of duplication, so the articles that met the eligibility criteria based on PICOS are 3 articles. The results of the analysis of all articles show that individuals with smoking habits have a higher risk of suffering from pulmonary tuberculosis than non-smokers which is characterized by positive smear results more likely to be found in smokers than non-smokers. This is because exposure to cigarette smoke can cause immunological changes, acting on alveolar macrophages, by reducing the production of TNF-α, IFN-γ, and mucociliary clearance, resulting in promoting the development of pulmonary tuberculosis. Abstrak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko untuk terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis. Merokok dapat memperlemah paru dan menyebabkan paru lebih mudah terinfeksi kuman tuberkulosis. Asap rokok dalam jumlah besar yang dihirup dapat meningkatkan risiko keparahan tuberkulosis. Scoping review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian tuberkulosis paru berdasarkan penelitian 10 tahun terakhir. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara scoping review artikel yang dipublikasikan oleh database Pubmed, Springerlink, dan Science direct, diterbitkan pada tahun 2012 sampai 2022. Dari 21.254 artikel dilakukan filtrasi berdasarkan kriteria inklusi terdapat 411 artikel, kemudian dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan kriteria ekslusi didapat sebanyak 402 artikel dan terdapat duplikasi sebanyak 6 artikel sehingga artikel yang memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan PICOS yaitu 3 artikel. Hasil analisis semua artikel menunjukan bahwa individu dengan kebiasaan merokok mempunyai risiko lebih tinggi menderita tuberkulosis paru dibandingkan bukan perokok yang ditandai dengan hasil BTA positif lebih cenderung ditemukan pada perokok dibandingkan bukan perokok. Hal ini disebabkan karena paparan asap rokok dapat menyebabkan perubahan imunologi, bekerja pada makrofag alveolar, dengan menurunkan produksi TNF-α, IFN-γ, pembersihan mukosiliar, sehingga mendorong perkembangan penyakit tuberkulosis paru.