Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Brixia Score for Predicting Mortality and Length of Stay in COVID-19 Confirmed Patients at the Hospital in Bandung Dede Setiapriagung; Cice Tresnasari; Fajar Awalia Yulianto
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.717 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v10i1.8893

Abstract

On March 11, 2020, the World Health Organization declared the COVID-19 pandemic. This disease damages the lung and resulting mild to severe pneumonia. This study aimed to determine the value of the Brixia score for predicting mortality and length of stay of COVID-19 confirmed patients. The study design was case-control with secondary data from digital medical records of COVID-19 confirmed patients (December 2020 to February 2021). All patients' chest x-rays (CXR) were scored using the Brixia score. Logistic regression and the Spearman rank correlation test were used to identify mortality and length of stay predictors. There were 636 subjects included in this study, with the proportion of deceased patients (case group) being 20.3% (95% CI=17.33, 23.59%). Most CXR findings had signs of pneumonia (95.1%), including ground-glass opacities (GGOs) mixed with consolidation. The distribution of GGOs and consolidation were most frequent in the peripheral of survived patients (83.9%), while the deceased group had peripheral involvements mixed with medial (45.0%) and bilateral (22.2%). The mean Brixia score in the group of decease patients was significantly higher than the group of survived patients (11.95 vs 6.73, p=0.00). Brixia score had an OR of 1.14, 95% CI=1.07, 1.21 after adjusting by age, SpO2 level, and comorbid. The chance of dying was higher than 50% if the Brixia score reached to score of 15 (probability=49%, 95% CI=41, 56%). However, the Brixia score has no significant correlation with length of stay (rho=0.05, p=0.24). In conclusion, the CXR Brixia score can predict mortality, but it can not predict the length of stay of hospitalized COVID-19 confirmed patients.
Efektivitas Latihan Penguatan terhadap Kemampuan Fungsional Anggota Gerak Atas pada Pasien Strok Iskemi Fase Subakut Cice Tresnasari; Andi Basuki; Irma Ruslina Defi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.326 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2231

Abstract

Stroke merupakan suatu penyakit dengan gejala utama kelemahan. Kelemahan anggota gerak atas menyebabkan penurunan kemampuan fungsional anggota gerak atas. Kekuatan adalah salah satu indikator performa fungsional anggota gerak atas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas latihan penguatan anggota gerak atas dengan pita dan bola elastik terhadap peningkatan kekuatan dan kemampuan fungsional anggota gerak atas pada pasien stroke iskemi fase subakut. Rancangan penelitian adalah eksperimental, dilaksanakan di Rumah Sakit Hasan Sadikin periode Desember 2013-Juli 2014. Subjek terdiri atas 21 pasien stroke iskemi fase subakut berusia 40-59 tahun. Latihan penguatan dengan pita dan bola elastik dilakukan oleh semua subjek, 3 kali seminggu, selama 6 minggu, 2 set setiap latihan, 8 repetisi setiap set. Sebelum, setelah 2 minggu, 4 minggu dan 6 minggu latihan dilakukan penilaian kekuatan dan fungsi anggota gerak atas. Hasil menunjukkan bahwa latihan penguatan meningkatkan kekuatan anggota gerak atas (p<0,001) dan meningkatkan fungsi anggota gerak atas (p<0,001). Simpulan, latihan penguatan anggota gerak atas dengan pita dan bola elastik efektif meningkatkan kekuatan dan fungsi anggota gerak atas pada pasien stroke iskemi fase subakut. THE EFFECTIVENESS OF STRENGTHENING EXERCISES ON UPPER LIMBS FUNCTIONAL ABILITY OF SUBACUTE PHASE ISCHEMIC STROKE PATIENTSStroke is a disease with the primary symptoms of weakness. The weakness of the upper limbs caused a decrease in functional ability. Strength is one indicator of upper limb functional performance. The purpose of this study was to determine the effectiveness of upper limb strengthening exercises to increase strength and functional ability of upper limbs in patients with subacute phase ischemic stroke using elastic band and balls. The study was conducted using experimental method, performed at the Medical Rehabilitation Division, Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from December 2013 to July 2014. Subjects consisted of 21 patients with ischemic stroke subacute phase aged 40–59 years. The strengthening exercises with elastic band and elastic ball were done by all subjects, 3 times a week, for 6 weeks. Each exercise consisted of 2 sets with 8 repetition of each set. Assessment of the strength and upper limbs function done before, after 2 weeks, 4 weeks and 6 weeks of strengthening exercises. Results showed that strengthening exercises increases the strength of the upper limbs (p<0.001) and increases the upper limbs function (p<0.001). Conclusions, upper limbs exercise strengthening with elastic band and elastic ball effectively increased the strength and upper limb function in ischemic stroke subacute phase patients.
Pengaruh Senam Lansia terhadap Tingkat Kebugaran Fisik pada Lansia Berdasar atas Uji Jalan 6 Menit Riri Nuraeni; Mohammad Rizki Akbar; Cice Tresnasari
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i2.4633

Abstract

Lanjut usia merupakan proses alami pada individu berusia 60 tahun ke atas. Proses penuaan pada lansia menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh sehingga diperlukan upaya meningkatkan kebugaran dengan berolahraga. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh senam terhadap tingkat kebugaran fisik pada lansia. Dilakukan penelitian Quasi experiment dengan pre test dan post test two group design menggunakan teknik purposive sampling pada bulan Mei–Juli 2018 di Posbindu Kabupaten Majalengka. Diperoleh 80 orang tiap-tiap kelompok 40 orang. Penilaian tingkat kebugaran dilakukan sebanyak dua kali pada kelompok lansia rutin senam melakukan senam 12 kali dalam satu bulan dan kelompok lansia tidak rutin senam, penilaian menggunakan uji jalan 6 menit. Hasil jarak yang ditempuh dikonversi menjadi VO2maks dan dikategorikan berdasar atas tingkat kebugaran. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon dan Uji McNemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senam lansia meningkatkan nilai VO2maks lebih tinggi pada kelompok lansia rutin senam 3,1 mL/kg/menit dibanding dengan kelompok lansia tidak rutin senam 1,95 mL/kg/menit. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara signifikan antara lansia rutin senam  dan  lansia  tidak  rutin  senam  (p<0,05).  Simpulan  terdapat pengaruh senam lansia terhadap tingkat kebugaran fisik pada lansia.EFFECT OF ELDERLY GYMNASTICS ON THE LEVEL OF PHYSICAL FITNESS AMONG THE ELDERLY BASED ON 6 MINUTE WALKING TEST Elderly is a natural process among individuals aged 60 years or more. The aging process among the elderly leads to various changes in the body. Thus, the efforts to increase fitness by exercising is necessary. This study aims to determine the effect of elderly gymnastics on the level of physical fitness among the elderly. This was a quasi experiment study with pre test and post test two group design. This study used a purposive sampling technique conducted in May–July 2018 in the Integrated Development Posts in Majalengka District. The study samples were 80 people with 40 people in each group. Assessment of fitness level was carried out twice in the group of elderly who performed routine gymnastics of 12 times in one month and the group of elderly with non routine gymnastics. Assessment was conducted using a 6-minute walking test. The results of the distance traveled were converted to VO2max and categorized based on the fitness level. Data analysis used Wilcoxon test and McNemar test. The results showed that elderly gymnastics could increase VO2max values higher in the routine gymnastics group of 3.1 mL/kg/minute compared to the non-routine gymnastics group of 1.95 mL/kg/minute. The results of the statistical analysis showed that there was a significant difference between the elderly with routine gymnastics and they with non routine gymnastic with a p value of <0.05. It can be concluded that there are an effect of elderly gymnastics on the level of physical fitness among the elderly.
Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan Carpal Tunnel Syndrome pada Karyawan Pengguna Komputer di Bank BJB Cabang Subang Kintan Nafasa; Yuniarti Yuniarti; Nurdjaman Nurimaba; Cice Tresnasari; Caecielia Wagiono
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4319

Abstract

Insidensi kejadian carpal tunnel syndrome (CTS) 3,8% di dunia dan insidensi lebih tinggi pada individu yang pekerjaannya memerlukan fleksi atau ekstensi jari berulang dalam waktu yang lama seperti karyawan bank. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara masa kerja dan keluhan CTS pada karyawan Bank BJB Cabang Subang yang bekerja menggunakan komputer. Penelitian ini pendekatan potong lintang dan instrumen pengumpulan data menggunakan Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire. Sampel adalah 54 karyawan Bank BJB Cabang Subang yang menggunakan komputer. Kriteria inklusi adalah perempuan dan laki-laki berusia ≥24 tahun, menggunakan komputer pada saat bekerja, serta tidak memiliki riwayat diabetes melitus dan artritis reumatoid. Kriteria eksklusi, yaitu memiliki masa kerja kurang dari satu tahun, memiliki riwayat trauma tangan atau pergelangan tangan, sedang hamil, atau telah menopause.  Analisis data dilakukan dengan Uji Eksak Fisher dan didapatkan p=0,000 (<0,05) terdapat hubungan signifikan masa kerja dengan keluhan CTS pada karyawan Bank BJB Cabang Subang yang menggunakan komputer. Kelompok yang memiliki masa kerja ≥4 tahun memiliki proporsi CTS lebih besar dibanding dengan kelompok yang memiliki masa kerja <4 tahun. Semakin lama masa kerja maka semakin tinggi risiko CTS  karena terjadi gerakan berulang pada jari tangan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat menyebabkan kompresi pada jaringan sekitar carpal tunnel. RELATIONSHIP BETWEEN WORK PERIOD TO COMPLAINTS OF CARPAL TUNNEL SYNDROME ON EMPLOYEES AT BANK BJB SUBANG WORKING USING COMPUTERIncidence rates of carpal tunnel syndrome (CTS) 3.8% in the world. CTS incidence rates are higher in individuals whose jobs require long-term flexion or extension of fingers, such as bank employees. This study aimed to analyze the relationship between work period to complaints of CTS on employees at Bank BJB Subang working using computer. This research cross sectional approach and data collection using Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire. The target population of this research was all employees of Bank BJB Subang, while its accessible population was all employees of Bank BJB Subang that use computer. Samples were 54 employees at Bank BJB Subang is working on computer. Inclusion criteria was women and men aged ≥24 years who used the computer at work and had no history of diabetes mellitus and rheumatoid arthritis, while the exclusion criteria are those who has work period less than a year, history of hand or wrist injury, pregnant or menopause. Technique of data processing and data analysis conducted by statistical test Fisher’s exact test meaningful results is p-value = 0.000 (<0.05) thus there was a significant relationship between work period of complaints CTS on Employees at Bank BJB Subang Working Using Computer, which in the group who had working period more than four years had a higher proportion of CTS than the group with the working period less than four years. Risk of CTS will be higher for those who is working for a long period, because of repetitive movements of the fingers continuously for long periods of time can cause compression on the tissue around the carpal tunnel.
Scoping Review: Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Keterlambatan Motorik Kasar pada Anak Usia Nol sampai Dua Tahun Habib Syarif Hidayatuloh; Cice Tresnasari; Hana Sofia R
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.539

Abstract

Abstract. Gross motor development is regulated by the cerebral cortex which controls large muscle groups and functions to coordinate body movements during activities. The development period from zero to two years is a golden period of child development, including motor development. Delays in gross motor development are delays in coordination of large muscles, bones, and nerves. Several internal risk factors have been associated with gross motor delay, such as microcephaly, prematurity, and low birth weight (LBW). The purpose of this study was to analyze the relationship between LBW and the incidence of gross motor delay in children aged zero to two years. This research is a scoping c review, by searching for articles from the PubMed, SpringerLink, ProQuest, and Science Direct databases. Articles that fit the inclusion criteria were 959 articles and those included in the exclusion criteria were 955 articles. The results of the feasibility test based on PICOS and the critical review test were obtained as many as four articles. This research was conducted in the period of April 2021. The results of the study and analysis of four articles, it was found that two articles stated that there was a relationship between LBW children and delays in gross motor development. Another article stated that there was a significant relationship between very low birth weight in children and gross motor delay. On the other hand, another article stated that there was no significant relationship between low birth weight children and gross motor delay. The conclusion of this study is that children with low birth weight increase the risk of delayed motor development including gross motor skills. Abstrak. Perkembangan motorik kasar diatur oleh korteks serebral yang mengontrol kelompok otot besar dan berfungsi mengoordinasikan gerakan tubuh saat beraktivitas. Masa perkembangan usia nol sampai dua tahun merupakan periode emas perkembangan anak termasuk perkembangan motorik. Keterlambatan perkembangan motorik kasar adalah keterlambatan koordinasi otot besar, tulang, dan saraf. Beberapa faktor risiko internal memiliki hubungan dengan keterlambatan motorik kasar, seperti mikrosefali, prematuritas, dan berat badan lahir rendah (BBLR). Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan BBLR dengan kejadian keterlambatan motorik kasar pada anak usian nol sampai dua tahun. Penelitian ini merupakan scoping review, dengan mencari artikel dari database PubMed, SpringerLink, ProQuest, dan Science Direct. Artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 959 artikel dan yang termasuk dalam kriteria eksklusi sebanyak 955 artikel. Hasil uji kelayakan berdasark atas PICOS dan uji telaah kritis didapatkan sebanyak empat artikel. Penelitian ini dilakukan pada periode April 2021. Hasil telaah dan analisis dari empat artikel, didapatkan dua artikel menyatakan bahwa terdapat hubungan antara anak BBLR terhadap keterlambatan perkembangan motorik kasar. Satu artikel lain menyatakan memiliki hubungan bermakna antara berat badan lahir sangat rendah pada anak dan keterlambatan motorik kasar. Sebaliknya, satu artikel lain menyatakan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara anak berat badan lahir rendah dan keterlambatan motorik kasar. Simpulan penelitian ini adalah anak dengan berat badan lahir rendah meningkatkan risiko keterlambatan perkembangan motorik termasuk motorik kasar.
Systematic Review: Hubungan Diet Mediterania dengan Mortalitas pada Individu Lanjut Usia Berdasar Atas Bradford Hills Lisa Nuril Himawati; Fajar Awalia Yulianto; Cice Tresnasari; Hikmah Azzahro; Farras Oktavidya Duwandani
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.603

Abstract

Abstract. The Bradford Hills criteria serve to evaluate the uncounted hypothetical relationship between the exposure and the effect of a given exposure with nine criteria. The cause of mortality is currently more often caused by non- communicable diseases (PTM) and is more common in elderly individuals. One of the preventions of PTM is diet. Although various current diet models have been proposed, the main focus of researchers, doctors, and institutions is the Mediterranean diet that has beneficial effects on the body that can reduce all the risk of causing death. The goal of the study was to analyze the relationship between the Mediterranean diet and mortality in elderly individuals. The study used systematic reviews, looking for articles from the MedLine, SpringerLink, and Science Direct databases, articles that matched the keywords of 2,098 articles and which were included in the exclusion criteria of 677 articles. The results of due diligence and critical review based on PICOS and eligibility criteria were obtained as many as seven articles. The study was conducted from February to November 2021. The results of the study and analysis of the seven studies suggested there was significant cholera between high Mediterranean dietary scores with a 5% to 44% lower risk of all causes of death, cardiovascular disease (CVD), coronary artery disease (CAD), and cancer, and had a twoyear longer survival. The results of this study showed that higher dietary adherence and higher Mediterranean dietary scores lowered the risk of mortality, longer survival, and a reduced risk of developing CVD disease, cancer, and Ischaemia Heart Disease (IHD). Abstrak. Kriteria Bradford Hills berfungsi untuk mengevaluasi hubungan hipotesis yang tidak terhitung antara pajanan dan akibat pajanan yang diberikan dengan sembilan kriteria. Penyebab mortalitas saat ini lebih sering disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM) dan lebih sering terjadi pada individu lanjut usia. Salah satu pencegahan terjadinya PTM yaitu diet. Meskipun berbagai model diet saat ini telah diusulkan, tetapi fokus utama para peneliti, dokter, dan institusi adalah diet mediterania yang memiliki efek menguntungkan pada tubuh yaitu dapat munurunkan semua risiko penyebab kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara diet mediterania dengan mortalitas pada individu lanjut usia. Penelitian ini menggunakan systematic review, dengan mencari artikel dari database MedLine, SpringerLink, dan Science Direct, artikel yang sesuai dengan kata kunci sebanyak 2.098 artikel dan yang termasuk dalam kriteria eksklusi sebanyak 677 artikel. Hasil uji kelayakan dan telaah kritis berdasar atas PICOS dan kriteria kelayakan didapatkan sebanyak tujuh artikel. Penelitian ini dilakukan pada periode Februari sampai dengan November 2021. Hasil telaah dan analisis dari ketujuh studi menyatakan terdapat kolerasi bermakna antara skor diet mediterania yang tinggi dengan 5% sampai 44% risiko lebih rendah dari semua penyabab kematian, penyebab kematian terkait Cardiovascular Disease (CVD), Coronary Artery Disease (CAD) dan kanker, dan memiliki kelangsungan hidup dua tahun lebih lama. Penelitian ini menunjukkan bahwa kepatuhan diet yang lebih tinggi dan skor diet mediterania yang lebih tinggi menurunkan risiko mortalitas, kelangsungan hidup yang lebih lama, dan penurunan risiko mengalami penyakit CVD, kanker dan Ischaemia Heart Disease (IHD).
Scoping Review: Hubungan Prematur dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia di Bawah 5 Tahun Diva Satrinabilla Armawan; Habib Syarif Hidayatuloh; Cice Tresnasari; Susanti Dharmmika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1313

Abstract

Abstract. Stunting is a growth disorder in children caused by chronic or repeated malnutrition, recurring infections, inadequate psychosocial stimulation. In 2019, WHO said the prevalence of stunting was 21.3% worldwide. One of the most common causes of stunting is chronic malnutrition, which can be caused by conditions in the fetus, premature birth or stunted growth. Children under five who are born prematurely have an increased risk of stunting in the first two years of life. The purpose of this study was to determine the relationship between premature birth and stunting in children under 5 years of age. This study used the Scoping Review method, searching for articles from databases such as PubMed, SpringerLink, ScienceDirect, ProQuest, Ovid and Google Scholar using the keywords ("Premature Birth"[Mesh]) AND "Growth Disorders"[Mesh]) AND "Children, Preschool"[Mesh] in the period of 2011-2021. There was a total of 778 articles that met the inclusion criteria and a total of three articles successfully passed the critical assessment criteria. The results of the three articles show that there is a relationship between prematurity and the incidence of stunting in children under five years of age. Abstrak. Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau berulang, infeksi berulang, stimulasi psikososial yang tidak memadai. Pada tahun 2019, WHO mengatakan prevalensi stunting adalah 21,3% di seluruh dunia. Salah satu penyebab stunting yang paling umum adalah kekurangan gizi kronis, yang dapat disebabkan oleh kondisi saat janin, kelahiran prematur atau pertumbuhan yang terhambat. Anak balita yang terlahir prematur memiliki peningkatan risiko stunting pada dua tahun pertama kehidupannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelahiran prematur dengan stunting pada anak di bawah 5 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Scoping Review, dengan mencari artikel dari database seperti PubMed, SpringerLink, ScienceDirect, ProQuest, Ovid dan Google Scholar menggunakan kata kunci ("Kelahiran Prematur "[Mesh]) DAN "Gangguan Pertumbuhan"[Mesh]) DAN "Anak, Prasekolah"[Mesh] dalam periode tahun 2011-2021. Terdapat total 778 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan 3 artikel berhasil lolos kriteria penilaian kritis. Hasil dari ketiga artikel mengatakan bahwa terdapat hubungan antara prematur dengan kejadian stunting pada anak usia di bawah lima tahun.
Tingkat Kecemasan dapat Mempengaruhi Kualitas Tidur pada Lansia Risa Putri Fauzika; Cice Tresnasari; R.A. Retno Ekowati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5936

Abstract

Abstract. As life span increases, this condition more likely result in general health problems or mental health problems, especially in the elderly. Elderly who experience changes in rest habits, both quantity and quality, are said to experience sleep disturbances. One of the causes of sleep disturbances in the elderly is anxiety. Therefore, the purpose of this study was determine the relationship between anxiety levels and sleep quality in the elderly population. The research subjects were the elderly at Baregbeg Health Center in Ciamis Regency in 2022. The sampling technique was purposive sampling and the samples obtained were 99 elderly people. Analysis of the relationship between variables using the Chi-square test. The results showed that the majority of elderly totaled 62 people (62.6%), the sex of the majority of the elderly was male 55 people (55.6%), the anxiety level of the majority of the elderly was moderate anxiety 43 people (43.3%), the sleep quality of the majority of the elderly was categorized as bad by 60 people (60.6%) and showed a significant relationship between the level of anxiety and the sleep quality of the elderly at the Baregbeg Health Center, Ciamis Regency. In conclusion, there is a significant relationship between the level of anxiety and sleep quality the elderly at Baregbeg Health Center, Ciamis Regency. Suggestions are used as material for consideration for the elderly in order to reduce poor sleep quality and reduce or stop smoking besides that the elderly are expected not to be anxious and depressed. Abstrak. Seiring bertambah panjangnya usia hidup, kondisi ini lebih cenderung mengakibatkan masalah kesehatan secara umum atau masalah kesehatan mental, khususnya pada lansia. Lansia yang mengalami perubahan kebiasaan istirahat, baik kuantitas maupun kualitas, dikatakan mengalami gangguan tidur. Salah satu penyebab gangguan tidur pada lansia yaitu kecemasan. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antar tingkat kecemasan dan kualitas tidur pada populasi lansia. Subjek penelitian yaitu lansia di Puskesmas Baregbeg Kabupaten Ciamis tahun 2022. Teknik penentuan sampel Purposive sampling dan sample yang diperoleh 99 lansia. Analisis hubungan antar variabel menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukan umur lansia mayoritas 60-65 tahun berjumlah 62 orang (62,6%), jenis kelamin lansia mayoritas laki-laki 55 orang (55,6%), tingkat kecemasan lansia mayoritas kecemasan sedang 43 orang (43,3%), kualitas tidur lansia mayoritas dikategorikani buruk 60 orang (60,6%) dan hasilnya menunjukan hubungan signifikan antar tingkat kecemasan dan kualitas tidur lansia di Puskesmas Baregbeg Kabupaten Ciamis. Simpulan adanya hubungan yang signifikan antar tingkat kecemasan dan kualitas tidur lansia di Puskesmas Baregbeg Kabupaten Ciamis. Saran dijadikan bahan pertimbangan lansia agar mengurangi kualitas tidur yang buruk dan mengurangi atau berhenti merokok selain itu lansia diharapkan tidak cemas dan depresi.
Efektivitas Susu Tinggi Protein dalam Menurunkan Berat Badan dan Pencegahan Obesitas: Scoping Review Akbar Paulana; Cice Tresnasari; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6287

Abstract

Abstract. Obesity is a condition of excess fat accumulation in the body which results in complex multifactorial disease. Obesity can be corrected by providing a low-calorie diet, one of which is milk. This study aims to determine the effectiveness of giving milk as high-protein diet in weight loss therapy in obese patients. The research method used was scoping review, with analytic observational study articles (cohort, case-control and cross-sectional) obtained from ScienceDirect, Springerlink, PubMed Central, BioMed Central and Nature databases. Then the identified journals were screened with inclusion criteria with the number of journals after screening as many as 3,429 articles. After that, it was adjusted for exclusions so the remaining number was 4 articles. Then critical appraisal was carried and final article that met the requirements was obtained with total 4 articles. From the results of the analysis, it was found that there was a significant decrease in body weight in obese adults after being given intervention in form of high-protein milk in the first two years. The conclusion of this study shows that milk with low fat content is effective in causing weight loss in obese adults. Abstrak. Obesitas adalah keadaan penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh yang mengakibatkan complex multifactorial disease. Keadaan obesitas dapat diperbaiki dengan cara memberi diet rendah kalori, salah satunya adalah pemberian susu. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pemberian susu sebagai diet tinggi protein dalam terapi penurunan berat badan pada penderita obesitas. Metode penelitian yang digunakan adalah scoping review, dengan artikel berstudikan observasional analitik (kohort, kasus kontrol dan potong lintang) yang didapatkan dari database ScienceDirect, Springerlink, PubMed, PubMed Central, BioMed Central dan Nature. Kemudian jurnal yang teridentifikasi dilakukan skrining kriteria inklusi dengan jumlah jurnal setelah dilakukan skrining sebanyak 3.429 artikel. Setelah itu disesuaikan dengan kriteria ekslusi sehingga jumlah tersisa 4 artikel. Selanjutnya dilakukan critical appraisal dan didapatkan artikel akhir yang eligible dengan jumlah 4 artikel. Hasil analisis didapatkan penurunan berat badan secara signifikan pada obesitas dewasa setelah diberikan intervensi berupa susu rendah lemak dalam dua tahun pertama. Susu dengan kadar tinggi protein dapat menimbulkan penurunan berat badan pada obesitas pada orang dewasa. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan susu dengan kadar protein tinggi efektif dalam menimbulkan penurunan berat badan.
Hubungan Lama Duduk Dengan Kejadian Nyeri Punggung Bawah Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Tingkat 3 Tahun 2022 Wizdan Nafi Alfiansyah; Cice Tresnasari; Susanti dharmmika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6299

Abstract

Abstract. Globally, there were 568.4 million common cases of low back pain in 2019 and the incidence was higher in students at the Faculty of Medicine with relatively tight class hours. This study aims to determine the relationship between prolonged sitting and the incidence of low back pain in third year students of the Faculty of Medicine Unisba in 2022. This type of research is quantitative with an analytic observational method and a cross sectional approach design. The instrument used is a questionnaire. A sample of 134 third year students at the Faculty of Medicine, Unisba in 2022, used the total sampling technique. The data analysis used was univariate and chi square test for bivariate analysis. Most of third year students of the Faculty of Medicine Unisba in 2022 experience lower back pain. It was found that there was a significant relationship between sitting duration and complaints of low back pain in 3rd year Unisba Medical Faculty students in 2022 with p-value = 0.034 (p <0.05). Sitting for a long time causes an increase in muscle contractions which produce waste products in the form of lactic acid and then cause pain in the lower back. It was concluded that prolonged sitting was associated with lower back pain. Keywords: Prolonged Sitting, Medical Student, Low Back pain Abstrak. Secara global, terdapat 568,4 juta kasus umum nyeri punggung bawah pada tahun 2019 dan insidensi lebih tinggi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan jam kuliah yang terbilang padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba tingkat 3tahun 2022. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode observasional analitik dan rancangan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Sampel sebanyak 134 mahasiswa tingkat 3 Fakultas Kedokteran Unisba tahun 2022 dengan teknik total sampling. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan uji chi square untuk analisis bivariat. Sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba tingkat 3 tahun 2022 mengalami nyeri punggung bawah. Didapatkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara lama duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba tingkat 3 tahun 2022 dengan p-value= 0.034 (p < 0,05). Hal tersebut karena duduk dalam waktu lama menyebabkan peningkatan kontraksi otot yang menghasilkan produk sisa berupa asam laktat dan kemudian mengakibatkan nyeri pada punggung bawah. Disimpulkan lama duduk berhubungan dengan nyeri punggung bawah. Kata Kunci: Duduk Lama, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Nyeri Punggung Bawah