Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Marsiadapari dan Gugur Gunung Sebagai Landasan Dalam Teknologi Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Manat Siahaan; Lusia Rahajeng; Djoys Rantung; Noh Ibrahim
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 8 No. 3 (2022): July-September
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v8i3.2730

Abstract

Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan kearifan lokalnya, hal ini bisa dilihat dari jumlah suku bangsa dan bahasa yang terdapat di Indonesia. Marsiadapari dan Gugur Gunung merupakan salah satu ciri khas bangsa yang harus dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses pelestarian kearifan lokal ini sangat efektif dilakukan melalui pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah. Tujuan penelitian dalam artikel ini untuk menjelaskan makna tentang Marsiadapari dan Gugur Gunung yang merupakan budaya gotong royong pada suku batak dan suku jawa sebagai landasan bagi desain Teknologi PAK yang dapat diterapkan dalam lingkungan sekolah. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan sumber-sumber secara tertulis seperti buku dan artikel ilmiah lainnya. Tentunya semua sumber tersebut merujuk kepada topik terkait kearifan lokal budaya Batak dan budaya Jawa serta teknologi pendidikan dalam konteks PAK. Hasil penulisan artikel ini adalah menguraikan tentang kearifan lokal budaya gotong royong, lalu memberikan jawaban dan penjelasan mengenai kearifan lokal sebagai landasan dalam teknologi PAK. Kearifan lokal dan teknologi informasi diupayakan untuk dapat berkolaborasi dengan baik. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran serta guru dan peserta didik yang saling bersinergi untuk mewujudkan hal tersebut di lingkungan sekolah.
Peran Guru Sekolah Minggu dalam Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak Usia 11-12 Tahun Evalina Chrisna Damanik; Lusia Rahajeng; Manat Siahaan; Rondo Alvirano Morihito Victoria Salomo; Desi Sianipar
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.109

Abstract

Critical thinking is one of the potentials of a child and needs to be developed. In Sunday School, teachers must play a role in developing critical thinking skills in children, especially for children aged 11-12 years. Therefore, this study aims to generate ideas about the role of Sunday School teachers in developing critical thinking skills in children aged 11-12 years. This study uses qualitative research methods through a literature study approach. The results of this study are Sunday School teachers can do several things to develop children's critical thinking skills, namely understanding the concept of Biblical theology about critical thinking, imitating Jesus as the Great Teacher in critical thinking, and guiding children in critical thinking. Sunday School teachers must understand each child with their thinking abilities; provide teaching materials that stimulate children to think critically; provide a variety of learning methods; provide opportunities for children to search for their learning materials; and encourage children to express their thoughts creatively and usefully. Keyword: The role of Sunday School teacher, critical thinking, children aged 11–12 year.
Psikologi pendidikan agama kristen dalam keluarga yang berkarakter Lusia Rahajeng
Educenter : Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol. 1 No. 2 (2022): Educenter : Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/educenter.v1i2.46

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang dasar alkitabiah dalam perjanjian baru mengenai pendidikan agama kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter yang berkualitas harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari. Untuk mewujudkan pendidikan karakter yang membentuk kepribadian anak, maka perlulah kita melihat ragam tipe pola asuh orangtua dan yang terbaik adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk menjadi dirinya sendiri, yang tentu saja butuh bimbingan dan arahan dari orangtua sebagai pendidik utama. Untuk mewujudkan tiga pilar pendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah dan gereja, kita perlu belajar dari Teori Ekologi Bronfenbrenner. Dapat disimpulkan bahwa ketiga pusat pendidikan sama-sama memegang peran penting dalam keberhasilan pendidikan karakter pada anak dan pada dasarnya semua saling berkaitan dan saling kerjasama satu sama lain dan keluarga sebagai satuan unit sosial terkecil merupakan lingkungan pendidikan yang paling utama dan bertanggung jawab mendidik anak-anaknya.