Penelitian ini terkait Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari sistem pendidikan formal. Motivasi belajar santri madrasah ibtidaiyah dalam pesantren disebut santri TPQ di lingkungan pesantren dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks, mulai dari spiritualitas, lingkungan sosial, kiai, hingga tujuan hidup. Ponpes Nurul Khoir di Wonorejo, Surabaya, merupakan contoh pesantren yang berusaha mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan tuntutan modernitas,sehingga menarik untuk diteliti motivasi belajar santrinya.Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang mendorong santri untuk belajar di Ponpes Nurul Khoir.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 15 santrianak usia madrasah ibtidaiyah atau disebut juga santri TPQ, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik model Braun dan Clarke, yang meliputi proses transkripsi, familiarisasi, pembuatan kode, pencarian tema, peninjauan tema, dan pelaporan. Temuan penelitian mengungkap tiga tema utama motivasi belajar santri: (1) motivasi spiritual yang mendukung, ekspektasi keluarga, dan tradisi pesantren), dan (3) motivasi praktis-fungsional al-religius (ibadah, mencari ridha Allah, meneladani Kiai), (2) motivasi sosial-kultural (meningkatkan pengetahuan umum, mempersiapkan masa depan, dan pengembangan diri). interaksi ketiga motivasi ini menciptakan sebuah ekosistem motivasi yang dinamis dan saling memperkuat. Motivasi belajar santri di Ponpes Nurul Khoir bersifat multidimensi dan saling terkait. Implementasi metodologi kualitatif berhasil mengungkap nuansa dan kompleksitas motivasi tersebut yang mungkin tidak terangkum oleh pendekatan kuantitatif.