Science and technology are crucial pillars of nation-building, but their success depends heavily on the ability to communicate scientific knowledge effectively to the wider community. This study presents a Systematic Literature Review (SLR) to analyze and compare the dynamics of science communication in rural and urban areas in Indonesia. Using the PICO framework and following the PRISMA protocol, this study synthesizes findings from various journal articles indexed by Google Scholar in the range of 2015-2025. The results of the analysis show fundamental differences in the channels, access, credibility, and impact of science communication between the two contexts. In rural areas, communication is dominated by verbal and face-to-face channels, where trust is centered on local figures. In contrast, in urban areas, science communication is transitioning to digital platforms, creating a complex landscape with the rise of influencers and disintermediation challenges. The digital divide is not only an infrastructure issue, but also related to literacy and social perception. The report concludes that science communication strategies should be contextual and adaptive, emphasizing the need for multi-stakeholder collaboration and critical digital literacy enhancement to bridge gaps and ground science across all walks of life. Sains dan teknologi merupakan pilar krusial dalam pembangunan bangsa, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan untuk mengkomunikasikan pengetahuan ilmiah secara efektif kepada masyarakat luas. Kajian ini menyajikan sebuah Tinjauan Literatur Sistematis (SLR) untuk menganalisis dan membandingkan dinamika komunikasi sains di wilayah pedesaan dan perkotaan di Indonesia. Menggunakan kerangka PICO dan mengikuti protokol PRISMA, penelitian ini mensintesis temuan dari berbagai artikel jurnal terindeks Google Scholar dalam rentang tahun 2015-2025. Hasil analisis menunjukkan perbedaan fundamental dalam saluran, akses, kredibilitas, dan dampak komunikasi sains antara kedua konteks. Di pedesaan, komunikasi didominasi oleh saluran lisan dan tatap muka, di mana kepercayaan berpusat pada tokoh lokal. Sebaliknya, di perkotaan, komunikasi sains bertransisi ke platform digital, menciptakan lanskap yang kompleks dengan munculnya influencer dan tantangan disintermediasi. Kesenjangan digital yang ada bukan hanya masalah infrastruktur, melainkan juga terkait dengan literasi dan persepsi sosial. Laporan ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi sains harus bersifat kontekstual dan adaptif, menekankan perlunya kolaborasi multi-pihak dan peningkatan literasi digital yang kritis untuk menjembatani kesenjangan dan membumikan sains di seluruh lapisan masyarakat.