Anjar Nugroho
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH PEMIKIRAN ISLAM REVOLUSIONER ALI SYARI’ATI TERHADAP REVOLUSI IRAN Nugroho, Anjar
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Islamic revolution of Iran happened in 1979 shows as the most realexample of how people power could take over the tyranny era and monarchy systemlasting for 200 years in Iran. Their collective awareness is caused by the source ofreligion awareness (Shia Islam) that has been up dated. Ali Syari’ati became thebrightened intellectual actor, that is as the phenomenon of the dictator grinding thepeople in Syah Pahlevi’s Government. Syari’ati, then, acted as the pioneer of radicalideas about revolution and Islam which taken from Shia teachings as the source, thathave been mixed with the tradition of the third World Revolutionary and Marxism. AliSyari’ati succeed developing revolutionary Islam ideology in which, then, becomes thebasis of people’s collective awareness opposing the era of Syah Pahlevi’s Government.According to Ali Syari’ati’s idea, Islam is a freedom and emancipation ideology. accordingto him this idea of Islam is progressive and revolutionary, sourcing to one system offaith, that is; tauhid. If the tauhid based on Ali Syari’ati’s idea is the unity of God,Human and Environment, so the condition of community having social discrimination,injustice and the arbitrary can be classified as syirk.It is the opposing of tauhid. Theoffer of Syari’ati’s idea and Islam ideology become the bridge or the fourth way of deadlock ideology pre-revolutionary opposition movements. They are Secular-nationalist,Communist-Marxist and Islam Fundamentalism. Finally, this Syari’ati’s ideology leadsImam Khomeini to be accepted as the revolutionary leader.Key Words: iran revolution; Shia, and freedom.Revolusi Islam Iran yang terjadi pada 1979 adalah contoh paling nyata,bagaimana kekuatan massa mampu menumbangkan rezim tiranik sekaligus sistemmonarki yang sudah berumur 200 tahun di Iran. Kesadaran kolektif massa itu disebutsebutbersumber dari kesadaran agama (Islam Syi’ah) yang sudah diperbaharui. AliSyari’ati muncul menjadi sosok intelektual tercerahkan adalah fenomena kekuasaanrezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas.Syari’ati lalu tampil sebagai peloporgagasan-gagasan radikal tentang Islam dan revolusi yang bersumber dari ajaran Syi’ahyang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner Dunia Ketiga dan Marxisme.Ali Syari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioner yang kemudian menjadibasis kesadaran kolektif massa menentang kekuasaan rezim Syah. Dalam pemikiranSyari’ati, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan.Pandangan IslamAli Syari’ati yang progresif dan revolusioner bersumber pada satu sistem keyakinanyaitu tauhîd.Jika tauhîd dalam pandangamanusia dan alam semesta, maka kondisi masyarakat yang penuh diskriminasi sosial,ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan dapat dikategorikan sebagai Syirk, lawandari tauhîd. Tawaran pemikiran dan ideologi Islam Syari’ati menjadi jembatan ataujalan keempat dari kebuntuan ideologi gerakan oposisi pra-revolusi, yaitu antaranasionalis-sekuler, Marxis-Komunis dan Fundamentalisme Islam.Dan ideologi Syari’atimelapangkan jalan bagi diterimanya Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusioner.Kata Kunci: revolusi Iran; syi’ah; pembebasann Syari’ati adalah kesatuan antara Tuhan,
Fikih Kiri: Revitalisasi Usul al-Fiqh untuk Revolusi Sosial Nugroho, Anjar
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.425-454

Abstract

Classical fiqh, which is based on classical Usul al-Fiqh, has often been considered out of date and no longer has its effectiveness at handling new problems. The article is a study critically addressed to the classical theory of Usul al-fiqh, which is commonly accused as a factor that made fiqh static and has nothing to do with reality. The writer proposes, then, how to develop a new model of fiqh that is more sensitive to the real issues of society, left fiqh. The left fiqh is fiqh that takes side with oppressed, impoverished people (mustad‘afin) and demands criticism to a hegemonic power. This is an antithesis to mainstream fiqh, which tends to be used to protect people with the power. It is expected that left fiqh may colourize both the process and the result of ijtihad of Muslim scholars. Fiqh that is not sensitive to human problems will merely legitimate illegal collusion. If fiqh does not insist on handling and overcoming human problems, it will experience two problems: first, fiqh will indulge in its settled condition as a well established doctrine and will be always considered unnecessary. Second, fiqh will progressively narrow its role merely focused on ritual and make its self powerless at solving daily human problems.
PENGARUH PEMIKIRAN ISLAM REVOLUSIONER ALI SYARI’ATI TERHADAP REVOLUSI IRAN Nugroho, Anjar
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i02.1998

Abstract

The Islamic revolution of Iran happened in 1979 shows as the most realexample of how people power could take over the tyranny era and monarchy systemlasting for 200 years in Iran. Their collective awareness is caused by the source ofreligion awareness (Shia Islam) that has been up dated. Ali Syari?ati became thebrightened intellectual actor, that is as the phenomenon of the dictator grinding thepeople in Syah Pahlevi?s Government. Syari?ati, then, acted as the pioneer of radicalideas about revolution and Islam which taken from Shia teachings as the source, thathave been mixed with the tradition of the third World Revolutionary and Marxism. AliSyari?ati succeed developing revolutionary Islam ideology in which, then, becomes thebasis of people?s collective awareness opposing the era of Syah Pahlevi?s Government.According to Ali Syari?ati?s idea, Islam is a freedom and emancipation ideology. accordingto him this idea of Islam is progressive and revolutionary, sourcing to one system offaith, that is; tauhid. If the tauhid based on Ali Syari?ati?s idea is the unity of God,Human and Environment, so the condition of community having social discrimination,injustice and the arbitrary can be classified as syirk.It is the opposing of tauhid. Theoffer of Syari?ati?s idea and Islam ideology become the bridge or the fourth way of deadlock ideology pre-revolutionary opposition movements. They are Secular-nationalist,Communist-Marxist and Islam Fundamentalism. Finally, this Syari?ati?s ideology leadsImam Khomeini to be accepted as the revolutionary leader.Key Words: iran revolution; Shia, and freedom.Revolusi Islam Iran yang terjadi pada 1979 adalah contoh paling nyata,bagaimana kekuatan massa mampu menumbangkan rezim tiranik sekaligus sistemmonarki yang sudah berumur 200 tahun di Iran. Kesadaran kolektif massa itu disebutsebutbersumber dari kesadaran agama (Islam Syi?ah) yang sudah diperbaharui. AliSyari?ati muncul menjadi sosok intelektual tercerahkan adalah fenomena kekuasaanrezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas.Syari?ati lalu tampil sebagai peloporgagasan-gagasan radikal tentang Islam dan revolusi yang bersumber dari ajaran Syi?ahyang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner Dunia Ketiga dan Marxisme.Ali Syari?ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioner yang kemudian menjadibasis kesadaran kolektif massa menentang kekuasaan rezim Syah. Dalam pemikiranSyari?ati, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan.Pandangan IslamAli Syari?ati yang progresif dan revolusioner bersumber pada satu sistem keyakinanyaitu tauhîd.Jika tauhîd dalam pandangamanusia dan alam semesta, maka kondisi masyarakat yang penuh diskriminasi sosial,ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan dapat dikategorikan sebagai Syirk, lawandari tauhîd. Tawaran pemikiran dan ideologi Islam Syari?ati menjadi jembatan ataujalan keempat dari kebuntuan ideologi gerakan oposisi pra-revolusi, yaitu antaranasionalis-sekuler, Marxis-Komunis dan Fundamentalisme Islam.Dan ideologi Syari?atimelapangkan jalan bagi diterimanya Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusioner.Kata Kunci: revolusi Iran; syi?ah; pembebasann Syari?ati adalah kesatuan antara Tuhan,
Rekonstruksi Pemikiran Fikih: Mengembangkan Fikih Progresif-Revolusioner Nugroho, Anjar
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4176.466 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v9i1.508

Abstract

Tulisan ini melakukan kajian ulang secara kritis terhadap teori-teori usul fikih yang selama ini telah memasung fikih menjadi sekedar kumpulan hukum statis yang tidak bisa berbicara apa-apa terhadap problem masyarakat. Tulisan ini akan memaparkan pemikiran fikih baru yang berasal dari para pemikir Islam progresif-revolusioner, seperti misalnya Ali Syariati dan Hassan Hanafi. Dalam tulisan ini akan dielaborasi lebih lanjut sebagai sebuah tulisan utuh tentang konsep fikih progresif-revolusioner dengan berangkat dari pokok-pokok masalah sebagai berikut: Pertama, tentang apa yang menjadi tujuan dan orientasi fikih progresif-revolusioner. Kedua, tentang bagaimana rekonstruksi usul fikih untuk mendukung bangunan fikih progresif-revolusioner. Dan ketiga, tentang apa yang menjadi proyek strategis revolusi sosial dalam rangka menggerakkan fikih progresif-revolusioner dalam dataran praksis. Fikih progresif-revolusioner adalah alternatif atas kebekuan ajaran Islam dewasa ini yang telah dikungkung oleh bentuk-bentuk pemikiran konservatif yang selalu mempertahankan sesuatu yang sudah mapan. Fikih progresif-revolusioner merupakan bentuk progresifisme pemikiran Islam yang ingin mengembalikan misi ajaran Islam pada otentisitasnya, yaitu semangat pembebasan. Membebaskan umat dari bentuk-bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan yang telah membuat umat menjadi sengsara dengan kemiskinannya dan keterbelakangannya.
POTRET ISLAM REVOLUSIONER DALAM PEMIKIRAN ALI SYARI'ATI Nugroho, Anjar
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 14 No. 1 (2014): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v14i1.3328

Abstract

Abstrak: Ali Syari'ati adalah contoh intelektual sui generis yang berani dalam posisi melawanmainstreem politik maupun pemikiran Islam. Pemahaman Islam yang ditawarkan Ali Syari'atiberbeda dengan pemahaman maintreem saat itu. Islam yang dipahami banyak orang di masaSyari'ati adalah Islam yang hanya sebatas agama ritual dan fiqh yang tidak menjangkau persoalanpersoalanpolitik dan sosial kemasyarakatan. Dalam pemikiran Syari'ati, Islam bukanlah agamayang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hanya sekadar hubungan antara hambadengan Sang Khaliq (Hablun min Allah), tetapi lebih dari itu, Islam adalah sebuah ideologiemansipasi dan pembebasan.Kata Kunci: Ali Syari'ati, Islam Pembebasan, dan Tauhid
Pergulatan Politik Pesantren Era Reformasi: (STUDI INTERAKSI PESANTREN DENGAN PARTAI POLITIK DI KAB. BANYUMAS) Nugroho, Anjar
Jurnal Review Politik Vol. 7 No. 1 (2017): June
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.357 KB) | DOI: 10.15642/jrp.2017.7.1.74-98

Abstract

The focus of this study examines the role of pesantren politics during the reform period; the form of political maneuvering of political parties as well as the current pesantren response, as well as the background of thought and reasons raised by pesantren. Particularly to be analyzed is the relation of pesantren with economic and political interests in the multi-party reform era political configuration.For the pesantren leader (kiai) in Banyumas, politics really is a necessity that can be done by all components of the nation, which can be done in various ways. Although most of the pesantren leaders (kiai) in Banyumas show an open attitude towards political parties, especially political parties based on Islam, but in their concrete choices are influenced by various factors, especially cultural (ideological) and structural (organizational) factors. Second, for political parties, the kiai's position is crucial to provide political and cultural legitimacy to his constituents.