Suyitno Suyitno
Universitas Muhammadiyah Purworejo, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru Gunungkidul, D.I. Yogyakarta Suyitno Suyitno
Surya Abdimas Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/abdimas.v3i2.321

Abstract

One of the problems in developing teacher professionalism today is related to the problem of Classroom Action Research (CAR). The purpose of this activity is to provide training on writing Classroom Action Research (CAR). The training was attended by 25 teachers in Gunungkidul, Yogyakarta. The method used is 1) providing theoretical and practical knowledge about the integration of Classroom Action Research (CAR), 2) Providing material about data analysis and discussion in Classroom Action Research, 3) Viewing the responses of Classroom Action Research training participants.
Pelatihan Perawatan dan Pemeliharaan Sepeda Motor Secara Mandiri di Desa Loano Purworejo Dwi Jatmoko; Aci Primartadi; Suyitno Suyitno
Surya Abdimas Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/abdimas.vi.1116

Abstract

Meningkatnya alat transportasi roda dua yang dimiliki masyarakat, tidak diiringi dengan bertambahnya jumlah bengkel yang tersedia. Sehingga masyarakat di Desa Loano kesulitan dalam pemeliharaan servis sepeda motor. Kegiatan pelatihan perawatan sepeda motor mempunyai tujuan agar masyarakat bisa melakukan servis sepeda motor secara mandiri. Metode pelaksanaan kegiatan diawali dengan persiapan, proses pelaksanaan, dan refleksi kegiatan. Proses persiapan dilakukan dengan diskusi dengan pamong desa dan karang taruna di Desa Loano. Dari hasil diskusi selanjutnya dilakukan perjanjian kerja sama antara program studi pendidikan teknik otomotif dengan pemerintah desa loano. Setelah perjanjian kerjasama dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan yang dikuti 20 orang pemuda. Dari kegiatan perawatan dan pemeliharaan sepeda motor dilanjutkan dengan tahap refleksi. Hasil akhir dari kegiatan pengabdian pelatihan perawatan sepeda motor adalah peserta dapat mengetahui cara mermperbaiki dan merawat sepeda motor mandiri. Hasil analisis dari angket refleksi yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Pemahaman pemateri tentang servis sepeda motor didapatkan skor 89 persen, 2) Waktu yang dibutuhkan selama pelatihan kegiatan mendapatkan skor 85 persen, 3) Manfaat atau kebergunaan materi yang disampaikan mendapatkan skor 90 persen, 4) Tingkat rasa senang peserta dalam kegiatan mendapatkan skor 89 persen. Melihat hasil data refleksi kegiatan pengabdian ini, disimpilkan bahawa dari pelaksanaan pelatihan servis sepeda motor medapatkan respon dan tingkat partisipasi pelaksanakan yang sangat baik. Hasil data diatas dapat menjadi tolak ukur sejauh mana kegiatan khususnya peserta terhadap kegitan pelatihan servis secara mandiri ini. Sebagian besar peserta menunjukkan respon yang baik dan berharap ada tindak lanjut dari kegiatan pelatihan perawatan sepeda motor secara mandiri
Activating Community-Based Change Pathways for Stunting Prevention: Integrating Appropriate Technology and Primary Health Cadre Capacity in Rural Indonesia Tri Sunarsih; Kharisma Kharisma; Ari Okta Viyani; Suyitno Suyitno; Murry Harmawan Saputra; Jeki M.W. Wibawanti; Endah Puji Astuti; Elvika Fit Ari Shanti
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 4 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i4.9400

Abstract

Introduction: Stunting continues to affect many children in rural areas of Indonesia. In these settings, households often face limited food access, constrained health services, and economic hardship. Programs that focus only on nutrition-specific interventions rarely address these broader conditions. Community-based approaches that combine appropriate technology, household food production, and strengthened roles of local health volunteers remain underexplored, particularly in village contexts. Objective: This research examined changes in community knowledge, practical skills, and everyday practices after Women Farmer Groups (Kelompok Wanita Tani – KWT) and posyandu cadres received training in appropriate technology and nutrition education in Srikayangan Village, Kulon Progo. Methods: A convergent mixed-methods approach was applied. The quantitative component used a quasi-experimental single-group pretest–posttest design involving 30 KWT members and 78 cadres. The qualitative component drew on field observations, focus group discussions, interviews, and documentation of program activities. Quantitative results were summarized descriptively and compared across time points, while qualitative materials were interpreted through thematic analysis and then considered together with the quantitative patterns. Anthropometric indicators such as HAZ/LAZ were not included; the evaluation centered on capacity building and shifts in community practice. Results: Scores for knowledge rose markedly, with increases ranging from 40% to 86%. KWT participants also became more confident in using simple food-processing technologies, while cadres showed improvements in several aspects of nutrition service delivery. Field notes and interviews pointed to practical changes at the community level: greater use of locally available foods, growing interest in small-scale food enterprises, and more consistent child growth monitoring activities. Because the design did not include a comparison group, these patterns should be interpreted as observed improvements over time rather than direct causal effects. Conclusion: Combining appropriate technology training with nutrition education appeared to strengthen several intermediate factors linked to child nutrition within households and the community. The study did not measure stunting prevalence, yet the approach offers a promising community model that may be adapted elsewhere. Further research is needed to examine longer-term outcomes.