Erman Sepniagus Saragih
Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : jurnal christian humaniora

Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Pendidik Moral Siswa Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 1, No 1 (2017): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v1i1.36

Abstract

Guru PAK adalah seorang guru yang berusaha untuk mendidik watak dan pribadi para murid, supaya akhirnya mereka sendiri berani bertanggungjawab di depan Tuhan tentang kepercayan mereka. Guru PAK adalah juga seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang mengenal akan pribadi Yesus serta memiliki pribadi yang meneladani Yesus sebagai guru besarnya.Guru PAK memiliki peranan penting dalam mendidik siswa untuk memiliki moral Kristen yang Alkitabiah. Saat ini, generasi muda yang masih mencari jati dirinya kerap kali jatuh ke dalam cobaan dan kehilangan moralitasnya sebagai orang Kristen. Khususnya para siswa-siswi Kristen yang sedang dalam belajar untuk menjadi seorang Kristen yang sejati. Disinilah terletak peranan Guru PAK sebagai pendidik moral Kristen. Tugas guru tidak hanya sebatas mengajar, yang menjelaskan bahan pengajaran tetapi juga melatih dan membimbing anak didiknya untuk memiliki moral Kristiani. Peranan Guru PAK sebagai pendidik  moral siswa yaitu: 1) Menuntun anak didik keluar dari kegelapan menuju terang, 2) Mengajar agama Kristen sebagai pengetahuan dan kehidupan, 3) memberikan perlengkapan pengetahuan kognitif, afektif, moral dan spiritual, 4) Menaruh perhatian pada pembentukan watak dan moral peserta didik. Kata Kunci : Guru PAK Sebagai Pendidik Moral Siswa
POLA MENDIDIK DI SINAGOGA DALAM TRADISI ISRAEL DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 2 (2019): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i2.124

Abstract

Abstract: The current of globalization is unstoppable and has an impact on culture, society, economics, and social relations. Christian Education has an important role in planting spiritual values as a practical control of the current flow of globalization. The purpose of this article is to raise the history of the educational process, the theological foundation as a pattern of education in the Synagogue in the tradition of teaching Israel which has implications for present-day Christian Education. The method used is the analysis of the content of the relevant literature. The results obtained are that the pattern of education in the Israeli tradition prioritizes God as true wisdom knowledge, experience-based learning with God (spirituality), curriculum grouping based on age, misyna is interpretation learning methods by adjusting words that are understood without reducing real meaning, and besides learning rabbis are done in an integrated manner with parents every day as God's command.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Arus globalisasi tidak terbendung dan berdampak pada budaya, masyarakat, ekonomi dan relasi sosial. Pendidikan Agama Kristen memiliki fungsi strategis dalam penanaman nilai-nilai spiritual sebagai kontrol praksis arus globalisasi masa kini. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengangkat kepermukaan sejarah terjadinya proses pendidikan, landasan teologis sebagai pola pendidikan di Sinagoga dalam tradisi mengajar Israel yang berimplikasi pada pendidikan kristen. Metode yang digunakan adalah analisys content terhadap literatur yang relevan. Hasil yang diperoleh adalah pola pendidikan dalam tradisi Israel mengutamakan Allah sebagai pengetahuan hikmat sejati, pembelajaran berbasis pengalaman dengan Allah (spiritualitas), pengelompokan kurikulum berdasarkan usia, misyna metode pembelajaran penafsiran dengan penyesuaian kata-kata yang dipahami tanpa mengurangi makna sebenarnya, dan selain Rabi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi dengan orang tua tiap harinya sebagai implementasi perintah Allah.Keywords: Israel, Christian, Education, Sinagoge
Jemaat yang Kudus sebagai Reinterpretasi Kehadiran Allah Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 1, No 1 (2017): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v1i1.35

Abstract

Kudus berarti terpisah (dikhususkan) atau terpotong dari, digunakan terhadap keadaan terlepasnya seseorang atau suatu benda (supaya Tuhan dapat memakainya, dan dengan demikian terhadap keadaan orang atau obyek yang di lepas itu).  Kata kudus kadang-kadang diterjemahkan dengan suci. Walaupun keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata kudus berarti sesuatu yang dipikirkan adalah kualitas hakiki Tuhan dan manusia. Istilah suci menekankan akibat daripada sikap yang menjurus kepada kesucian. Para nabi memproklamirkan  kekudusan sebagai penyataan sendiri oleh Allah, kesaksian yang ia terapkan pada dirinya sendiri dan segi yang ia kehendaki supaya mahluk ciptaan-Nya mengenal Dia demikian. Para nabi menyatakan bahwa Allah menghendaki untuk mengkomunikasikan kekudusan-Nya kepada mahluk ciptaan-Nya, dan sebaliknya menuntut kesucian dari mereka. Kekudusan bukanlah suatu teori belaka, kekudusan itu harus dipraktekkan dalam kehidupan pribadi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Allah yang kudus dinyatakan dalam kehidupan jemaat yang kudus. Allah adalah Allah yanag kudus agar tidak ada pemisah hubungan manusia dengan Allah, maka manusia juga sebaiknya menguduskan dirinya. Dalam kehidupan jemaat yang kudus maka Allah akan selalu hadir menyatakan kasihNya, melakukan penebusan lewat pengorbanan Yesus di kayu salib, agar manusia dikuduskan dari dosa. Dalam upaya membahas suatu masalah dalam penelitian, diperlukan suatu metode penulisan agar memperoleh jawaban dan paradigma baru atas permasalahan yang dibahas. Penulisan tesis ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bersumber dari buku-buku teks, jurnal dan bahan-bahan tertulis lainnya.Kata Kunci: Kudus, Suci
PROFIL HIDUP RUKUN ANTAR UMAT BERAGAMA PADA MASYARAKAT KELURAHAN BATANG BERUH KECAMATAN SIDIKALANG KABUPATEN DAIRI Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 1 (2019): Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i1.123

Abstract

A harmonious life between religious people is one of the shared ideas in the context of Bhinneka. Indonesian society from the past has different cultures, religions and social norms but is a distinctive and worthy of wealth to be preserved and preserved. This study aims to raise the profile of local tradition-based inter-religious harmony in Batang Beruh Village, Sidikalang District, Dairi Regency. The methodology used is a descriptive qualitative research that discusses the sociology of religion. Based on the data agreement with the triangulation technique, data reduction was carried out and concluded about the glue of harmony in family relations, local wisdom (Mardang, Pudun, Markebas, Mamiring, Sikatasatu, and Gugu), looking for houses of worship with assistance, related houses that mingled and gathered together. This condition is proof that interfaith believers accept, accept and accept fully acknowledge the same creation of God; need each other with each other.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Hidup rukun antar umat beragama merupakan salah satu cita-cita bersama dalam konteks kebhinekaan. Masyarakat Indonesia dari dahulunya sudah berbeda budaya, agama dan norma sosial tetapi ini merupakan nilai kekayaan yang khas dan layak untuk dijaga dan dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat profil kerukunan antar umat beragama berbasis tradisi lokal di Kelurahan Batang Beruh, Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Metodologi yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif pendekatan sosiologi agama. Berdasarkan perolehan data dengan tehnik trianggulasi, dilakukan reduksi data dan disimpulkan bahwa perekat kerukunan tercermin dalam hubungan kekerabatan keluarga, kearifan lokal (mardang, pudun, markebas, mamiring, sikatasatu dan gugu), letak rumah ibadah berdampingan, rumah penduduk yang berbaur dan budaya gotong-royong. Kondisi tersebut merupakan bukti bahwa antarumat beragama saling menerima, menghargai dan penuh kesadaran mengakui sama-sama ciptaan Tuhan; saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Keywords: Profile of Harmony, Religious