Siti Nurlita Fitri
Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sebelas Maret

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEWUJUDKAN RESILIENSI MASYARAKAT TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI MELALUI EDUKASI HUNIAN TAHAN GEMPA Erik Wahyu Pradana; Senot Sangadji; Muji Rifai; Siti Nurlita Fitri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 5, No 6 (2021): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.192 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v5i6.5522

Abstract

Abstrak: Dalam satu dekade terakhir, pembangunan kawasan hunian baru di Desa Tohudan meningkat, baik yang dilakukan oleh pengembang perumahan maupun masyarakat secara mandiri. Praktik konstruksi yang dilakukan masyarakat secara mandiri seringkali tidak melibatkan tenaga ahli konstruksi melainkan hanya tenaga terampil (pemborong, mandor, tukang, dsb). Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai persyaratan teknis yang harus dipenuhi agar bangunan aman terhadap gempa. Untuk itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bagaimana melaksanakan praktik konstruksi yang baik sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Kegiatan ini dilaksanakan bersama mitra pemerintah Desa Tohudan melalui penyuluhan dan dibagi dalam tiga tahap yaitu identifikasi permasalahan mitra, persiapan, dan pelaksanaan. Kegiatan ini diikuti oleh 14 peserta dengan nilai rerata pre-test 26 (rentang nilai 10-40) dan nilai rerata post-test 66 (rentang nilai 50-100). Terlihat bahwa kegiatan ini berdampak pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai bagaimana membangun rumah yang aman terhadap gempa. Lebih lanjut, dengan berbekal pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan ini dan terlaksananya praktik konstruksi yang baik sesuai dengan standar teknis yang berlaku, dapat mendorong terwujudnya resiliensi masyarakat terhadap bencana gempa bumi.Abstract: In the last decade, new residential area construction in Tohudan Village has increased, carried out by property developers or community independently. Construction practices carried out by the community independently often do not involve construction experts but only skilled workers (contractors, foremen, builders, etc.). This condition is exacerbated by the lack of public knowledge of the technical requirements that must be met so that buildings are safe against earthquakes. For this reason, this community service activity is carried out to educate the community on how to implement good construction practices under applicable technical standards. This activity was carried out with the Tohudan Village government through counselling and was divided into three stages: identification of partner problems, preparation, and implementation. This activity was attended by 14 participants with a pre-test mean score of 26 (range 10-40) and a post-test mean score of 66 (range 50-100). It can be seen that this activity has an impact on increasing public understanding of how to build earthquake-safe houses. Furthermore, armed with the knowledge gained from this activity and the implementation of good construction practices under applicable technical standards, it can encourage the realization of community resilience to earthquake disasters.
PENDAMPINGAN DALAM ANALISIS PENANGANAN KELONGSORAN PADA TANAH EKSPANSIF MENGGUNAKAN SOFTWARE GEOSTUDIO Galuh Chrismaningwang; Niken Silmi Surjandari; Yusep Muslih Purwana; Bambang Setiawan; Raden Harya Dananjaya; Siti Nurlita Fitri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.16611

Abstract

Abstrak: Lumbung Sukodono yang terletak di Desa Sukodono, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur mengalami kelongsoran sehingga tidak berfungsi secara maksimal. Sejak tahun 2021, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, yang bertanggungjawab dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah Sukodono, telah berupaya melakukan berbagai macam perbaikan untuk menanggulangi masalah kelongsoran di Lumbung Sukodono namun hingga saat ini, kelongsoran masih terus terjadi. Penggunaan GeoStudio sebagai perangkat lunak analisis geoteknik adalah langkah yang tepat untuk meningkatkan efektivitas dan kehandalan penanganan kelongsoran. Program pendampingan penggunaan software Geostudio oleh tim pengabdian masyarakat diharapkan bisa membantu mitra BBWS Bengawan Solo dalam mengidentifikasi dan menganalisis potensi kelongsoran akibat tanah ekspansif di Lumbung Sukodono dengan lebih akurat. Pendampingan dilakukan pada 3 orang staf teknik dan 3 orang staf lapangan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Dari hasil observasi, kegiatan ini secara efektif meningkatkan pemahaman mengenai perilaku tanah ekspansif dan cara pemodelannya menggunakan Geostudio terhadap seluruh peserta kegiatan pendampingan. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat kesalahan pada saat pemodelan kurang dari 10%.Abstract: Slope instability induced Lumbung Sukodono, which is located in Sukodono Village, Panceng District, Gresik Regency, East Java Province, to operate not as efficiently. Since 2021, the Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, responsible for water resource management in the Sukodono area, has been making various efforts to address the slope instability issue at Lumbung Sukodono. However, the slope instability persists. The use of GeoStudio as a geotechnical analysis software is a suitable step to enhance the effectiveness and reliability of slope instability management. A community engagement program, involving 3 technical staff and 3 field staff, was conducted to assist BBWS Bengawan Solo in identifying and analyzing potential slope instability due to expansive soils at Lumbung Sukodono more accurately. Observations revealed that the program effectively improved participants' understanding of expansive soil behavior and its modeling using GeoStudio, with modeling errors being less than 10%.