Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Recovery of Flavor Components from Blue Crab Processing Wastewater By Reverse Osmosis Technology Uju B Ibrahim; W Trilaksani; T Nurhayati; B Riyanto
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 19 No. 1 (2008): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.958 KB)

Abstract

The waste water of blue crab pasteurization is potential to cause environmental pollution. It contained TSS 206.5 mg/L, BOD 7,092.6 mg/L and COD 51,000 mg/L. However the was the water also contains an interesting flavor compounds, which composed of 0.23% non protein nitrogen and 17 amino acids with the highest being glutamic acid. In this work, pre-filtration steps using filter of 0.3 µ size followed by reverse osmosis has been used to reduce these pollutions load and recover the flavor compound. During pre-filtration steps, TSS was reduced to 74.8% so the turbidity increased up to 31%. After reverse osmosis process, BOD, and COD were decreased more than 99%, and there was no amino acids detected in the permeate stream. Factors that affect performance of reverse osmosis were transmembrane pressure, temperature and pH. Higher transmembrane pressure, temperature and pH resulted in the higher permeate flux. Key word : blue crab, flavor, reserve osmosis
Fermentasi cair dua fase dan fermentasi padat eceng gondok S Komarayati Gusmailina; T Nurhayati; B De Wilde; S Vanhille
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 4 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3372.639 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1986.3.4.28-33

Abstract

Tulisan ini menyajikan percobaan dua teknologi fermentasi biogas dari eceng gondok (Eichhornia crassipes). Fermentasi cair dengan dua phase menghasilkan 1 volume biogas per volume reaktor per hari dengan volume beban 4 kg bobot kering per meter kubik reaktor per hari dan pemakaian waktu 12,5 hari. Sedangkan fermentasi padat menghasilkan lebih banyak biogas, yaitu 3-4 volume biogas pe volume reaktor per hari dengan volume beban 15 kg bobot kering per meter kubik reaktor per hari dan pemakaian waktu 22 hari. Kedua teknologi ini memberikan produksi biogas yang lebih tinggi daripada sistem konvensional seperti batch, Gobar dan semi-kontinu. Terutama fermentasi padat memberi  harapan walaupun memerlukan praperlakuan eceng gondok secara intensif. Selain itu suhu merupakan factor penting. Pada suhu 350C (mesophilik); produksi gas lebih tinggi dibandingkan pada suhu ruang (22-280c). Fermentasi pada suhu mesophilik memungkinkan juga penambahan volume beban menjadi lebih tinggi.
Fermentasi cair dua fase dan fermentasi padat eceng gondok S Komarayati Gusmailina; T Nurhayati; B De Wilde; S Vanhille
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 4 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1986.3.4.28-33

Abstract

Tulisan ini menyajikan percobaan dua teknologi fermentasi biogas dari eceng gondok (Eichhornia crassipes). Fermentasi cair dengan dua phase menghasilkan 1 volume biogas per volume reaktor per hari dengan volume beban 4 kg bobot kering per meter kubik reaktor per hari dan pemakaian waktu 12,5 hari. Sedangkan fermentasi padat menghasilkan lebih banyak biogas, yaitu 3-4 volume biogas pe volume reaktor per hari dengan volume beban 15 kg bobot kering per meter kubik reaktor per hari dan pemakaian waktu 22 hari. Kedua teknologi ini memberikan produksi biogas yang lebih tinggi daripada sistem konvensional seperti batch, Gobar dan semi-kontinu. Terutama fermentasi padat memberi  harapan walaupun memerlukan praperlakuan eceng gondok secara intensif. Selain itu suhu merupakan factor penting. Pada suhu 350C (mesophilik); produksi gas lebih tinggi dibandingkan pada suhu ruang (22-280c). Fermentasi pada suhu mesophilik memungkinkan juga penambahan volume beban menjadi lebih tinggi.