Saripaini Saripaini
IAIN Pontianak

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Identitas Orang Bugis di Dabong, Kalimantan Barat Saripaini Saripaini; Yusriadi Yusriadi
Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.41 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v6i2.649

Abstract

This paper discusses the Bugis people in West Kalimantan. The author seeks to see what sets the identity of the Bugis apart from the Malays, and what basis that can be used to identify their characteristics. The data were collected in Dabong village, a remote village in Kubu Sudistrict of Kubu Raya Regency, West Kalimantan, which takes 7 hours by public transport from Pontianak. The data were collected through field observations on people's lives as well as interviews with community leaders and some residents of Bugis descent. The interviews obtained information that the Bugis people had settled in Dabong for 6 generations and mingled with the local community. The Bugis descendants in Dabong have now become Malay. They introduce themselves with the Malay identity, and known as Malay to outsiders as well. The option to become Malay was made as a pragmatic consideration that in the village, the Malay society and culture was dominant. However, despite their Malay identity, the Bugis remain recognizable in terms of identity, which is reflected through cultural activities. Some Malay customs that they practice still exhibit obscure Bugis characteristics. The choice to preserve the traits of Bugis among people of Bugis descent is not because of ethnic consciousness, but rather due to cultural awareness, the awareness of their obligations to implement what has been practiced by their ancestors, and the belief that every ritual performed has consequences.
SASTRA LISAN MENOLAK MATI: CERITA DAN PANTUN ISLAMI SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI PUNGGUR, PONTIANAK Saripaini Saripaini
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 1, No 1 (2019): Desember
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.895 KB) | DOI: 10.18592/msr.v1i1.3268

Abstract

Abstract: Nowadays, television and gadget are so dominant in public and private places. The culture of watching TV and smart phones sidelines the tradition of listening to storytelling. But oral literature is not extinct with the advancement of communication and information technology. The case that this author found in Punggur Village, Pontianak, showed that oral literature, specifically, the religious genre, survived despite the bombardment of various entertainments broadcasted through electronic and digital media. Religious instructors in the village deliver moral messages to children learning al-Qur’an recitation through poems and stories. In fact, the method of storytelling has its own attraction in fostering children's interests to learn about religion. Abstrak: Dewasa ini, kehadiran televisi dan gawai begitu dominan di ruang publik dan privat. Budaya menonton TV dan ponsel pintar menggeser tradisi mendengarkan penuturan cerita secara lisan. Namun sastra lisan tidak punah diterjang perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Kasus yang penulis temukan di Desa Punggur, Pontianak, menunjukan bahwa sastra lisan, spesifiknya, yang bergenre agama, bertahan di tengah gempuran tontonan dan hiburan yang disiarkan melalui media elektronik dan digital. Di sana, guru-guru agama menyampaikan pesan moral kepada anak-anak yang belajar membaca al-Qur’an dengan menggunakan pantun dan cerita. Metode bercerita memiliki daya tarik tersendiri dalam menumbuhkan minat anak-anak untuk belajar agama.
PEREMPUAN DALAM TRADISI LAMARAN BUDAYA MELAYU-BUGIS DI PUNGGUR KECIL, KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT Saripaini Saripaini
Raheema Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/raheema.v9i2.1718

Abstract

ABSTRAK Perempuan selama ini sering dikaitkan dengan kasur, sumur dan dapur. Padahal, mereka juga berperan dalam kehidupan masyarakat dan budaya komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dari sisi budaya komunitas. Penelitian dilakukan terhadap budaya lamaran pada masyarakat Melayu-Bugis di Desa Punggur Kecil Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, kemudian data diolah dan digambarkan sebagaimana adanya. Hasil penelitian menggambarkan bahwa: (1) Orang Melayu-Bugis memaknai lamaran sebagai suatu adat kebudayaan dalam menghormati perempuan dan keluarga. (2) Adapun proses dalam lamaran, yakni; (a) adat sekapur sirih sebagai pembuka kata dan penentuan penerimaan lamaran; (b) naek pengikat sebagai simbol perempuan telah memiliki ikatan pertunangan dengan laki-laki; (c) penentuan uang asap (uang dapur); (d) pembacaan doa selamat (3) hakikat perempuan dalam pandangan Melayu-Bugis di Desa Punggur Kecil, yakni; (a) perempuan beharga, (b) perempuan adalah pendamping laki-laki, (c) perempuan memiliki ruang untuk berpendidikan tinggi dan bekerja sebagaimana laki-laki. Kata kunci: Perempuan, Lamaran, Melayu-Bugis.