Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBERIAN TABLET ZAT BESI (FE), VITAMIN C DAN JUS BUAH JAMBU BIJI TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN (HB) REMAJA PUTRI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM Nurul Qamariah Rista Andaruni; Baiq Nurbaety
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram Vol 3, No 2 (2018): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.12 KB) | DOI: 10.31764/mj.v3i2.509

Abstract

Remaja putri memiliki risiko tinggi mengalami anemia, karena setiap bulan pada remaja putri mengalami haid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian tablet besi (Fe), vitamin C dan jus jambu biji terhadap peningkatan kadar hemoglobin remaja putri. Jenis penelitian desain eksperimental dengan rancangan pretest-posttest with control group. Sampel dalam penelitian ini mahasiswi dengan kadar Hemoglobin <12gr/dl sebanyak 30 orang dibagi menjadi 3 kelompok, mahasiswi yang mendapat suplementasi tablet Fe+jus jambu biji (kelompok I), suplementasi tablet Fe+vitamin C (kelompok II) dan suplementasi tablet Fe (kontrol). Pemberian intervensi dilakukan selama 8 minggu dan pemeriksaan kadar Hb setiap 2 minggu. Analisa data menggunakan Uji paired t test dan uji Anova. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah intervensi 8 minggu diperoleh rerata peningkatan kadar Hb tertinggi pada kelompok tablet Fe+jus jambu biji sebesar 2,13 gr/dL, kelompok tablet Fe+vitamin C sebesar 1,23 gr/dL, dan kelompok tablet Fe sebesar 0,83 gr/dL. Berdasarkan uji Anova setelah intervensi 2 minggu (p=0,010), setelah intervensi 4 minggu (p=0,226), setelah intervensi 6 minggu (p=0,423), setelah intervensi 8 minggu (p=0, 0,267) dengan α=0,05.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEGAGALAN IBU DALAM MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEJERUK Cahaya Indah Lestari; Aulia Amini; Nurul Qamariah Rista Andaruni; Nita Helena Putri
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram Vol 4, No 1 (2019): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.497 KB) | DOI: 10.31764/mj.v4i1.543

Abstract

Target cakupan ASI eksklusif oleh Depkes RI sebesar 80%, sedangkan tahun 2013 cakupan ASI Eksklusif di Indonesia hanya 54,3%, Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2015 mencapai cakupan ASI Eksklusif74,7%, dan Puskesmas Pejeruk adalah puskesmas dengan angka cakupan ASI Eksklusif terendah yaitu 66,22%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktoryang menyebabkankegagalanibudalam memberikan ASI Eksklusif  pada bayi usia 0-6 Bulan. Metode Penelitian ini adalah penelitian deskripti dengan Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil: 1) Berdasarkan faktor umur yaitu <20th 5 orang (14,71%), 20-35th 20 orang (58,82%), >35th 9 orang (26,73%); 2) Berdasarkan faktor paritas yaitu primipara 16 orang (47,06%), multipara 17 orang (50%), grandemultipara 1 orang (2,94%); 3) Berdasarkan faktor pendidikan yaitu pendidikan dasar 17 orang (50%), pendidikan menengah 11 orang (32,35%), pendidikan tinggi 6 orang (17,65%); 4) Berdasarkan faktor pengetahuan yaitu baik 16 orang (47,06%), cukup 15 orang (44,12%), kurang 3 orang (8,82%); 5) Berdasarkan faktor dukungan yaitu baik 7 orang (20,59%), cukup 25 orang (73,53%), kurang 2 orang (5,88%). Simpulan dan saran : Penyebab kegagalan ASI Eksklusif yang paling dominan adalah karena faktor pendidikan dimana terdapat 17 responden dengan pendidikan dasar yang tidak memberikan ASI Eksklusif.Diharapkan instansi kesehatan khususnya Puskesmas Pejeruk dapat selalu memberikan penyuluhan mengenai ASI Eksklusif dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awan agar dapat menekan angka kegagalan ASI Eksklusif dan dapat memenuhi angka yang ditargetkan oleh Depkes RI.
Pengaruh Penyuluhan Teknik Pijat Bayi Terhadap Pengetahuan Dan Keterampilan Pijat Bayi Pada Ibu Di Kelurahan Tanjung Karang Tahun 2015 Nurul Qamariah Rista Andaruni
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram Vol 3, No 1 (2018): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.626 KB) | DOI: 10.31764/mj.v3i1.127

Abstract

Abstrak: Di Indonesia pelaksanaan pijat bayi di masyarakat masih dipegang peranannya oleh dukun bayi. Selama ini, pemijatan tidak hanya dilakukan bila bayi sehat, tetapi juga pada bayi sakit atau rewel dan sudah menjadi rutinitas perawatan bayi setelah lahir. Desain penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen (Quasi eksperimen). Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 responden dengan subyek penelitian ibu yang mempunyai bayi sehat usia 0-12 bulan. Ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu sebelum dan sesudah penyuluhan. Sebelum penyuluhan persentase pengetahuan dan keterampilan dalam kategori kurang yaitu 60% dan tidak memiliki keterampilan 80%, sedangkan setelah penyuluhan persentase pengetahuan dan keterampilan meningkat menjadi pengetahuan baik 100% dan memiliki keterampilan cukup 80%.Abstract:  In Indonesia, the implementation of infant massage in the community is still held by the midwife role. During this time, the massage is not only done when the baby is healthy, but also on the sick or fussy babies and infants has become routine care after birth. The study design using the design of experiments (quasi experimen). Respondents in this study were 30 respondents to the research subjects healthy mothers with infants aged 0-12 months. There was an increase in knowledge and skills of the mother before and after counseling. Before the extension percentage of knowledge and skills in the category of less that 60% and 80% do not have the skills, whereas after the extension of knowledge and skills percentage increased to either 100% knowledge and 80% have enough skill.
HAMBATAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA DI PROVINSI NTB Ana Pujianti Harahap; Aulia Amini; Nurul Qamariah Rista Andaruni; Rizkia Amilia
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram Vol 6, No 1 (2021): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/mj.v6i1.1521

Abstract

IMD termasuk dalam salah satu 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) atau ten step to successful breastfeeding. IMD dapat dilaksanakan pada persalinan secara normal atau dengan Sectio Caesarea. Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (RSUD Prov NTB), sebagai rumah sakit pusat rujukan terbesar di NTB data jumlah pasien yang melahirkan dengan SC pada tahun 2017 sebanyak 288 (88%), dari total persalinan 327. Dari jumlah pasien yang melahirkan dengan SC sebagian besar tidak pernah dilakukan IMD. Pasien yang melahirkan spontan sebanyak 39 orang (22%). Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui hambatan IMD pasien post SC. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Informen dalam penelitian ini terdiri dari tenaga kesehatan yaitu dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, pihak manajemen,bidan dan pasien. Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan Analisis data dilakukan menggunakan versi Miles dan Huberman, dalam Sugiyono (2013). Aktivitas meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data ( data display) dan penarikan kesimpulan (verification). Hasil penelitian yang sudah terindentifikasi mengenai hambatan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada pasien post SC yaitu : 1) Kendala kurangnya informasi pasien tentang IMD, 2) tidak ada tenaga kesehatan khusus yang melaksanakan IMD, 3) kurangnya pelatihan tentang pelaksanaan IMD post SC, 4) Ketidaknyamanan posisi pasien saat SC, 5) Kekhawatiran ibu terhadap kondisi bayi saat dilakukan imd, dan 6) kurangnya kerjasama tim tenaga kesehatan. Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan dan instansi kesehatan bisa bersama-sama untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini pada pasien post Sectio Caesrea.Early initiation of breastfeeding is included in one of the 10 Steps to Successful Breastfeeding (LMKM) or ten-step to successful breastfeeding. IMD can be carried out in labor normally or with Caesarean Sectio. Based on data obtained from the General Hospital of West Nusa Tenggara Province, as the largest referral center hospital in West Nusa Tenggara, the number of patients giving birth to SC in 2017 was 288 (88%), out of total delivery of 327. Of the total, most patients who have had an SC have never had an early initiation of breastfeeding. Patients who gave birth spontaneously were 39 people (22%). This study aims to determine the early initiation of breastfeeding barriers for post-SC patients. The research method used is descriptive qualitative. Informants in this study consisted of health workers namely obstetricians, pediatricians, management, midwives and patients. In this study, researchers will use data analysis performed using the version of Miles and Huberman, in Sugiyono (2013). Activities include data reduction, data display, and verification. The results of studies that have been identified regarding the obstacles to implementing early initiation of breastfeeding in post SC patients are: 1) Obstacles to lack of patient information about early initiation of breastfeeding, 2) there are no special health workers who carry out early initiation of breastfeeding, 3) lack of training on implementing post-SC early initiation of breastfeeding, 4) Discomfort of the patient's position during SC, 5) Mother's concern for the condition of the baby during early initiation of breastfeeding, and 6) Lack of teamwork of health workers. With the results of this study, it is expected that health workers and health agencies can work together to further optimize the implementation of early initiation of breastfeeding in post-SC patients.
PREMENSTRUAL GENTLE YOGA MELALUI MEDIA TERAPI MUSIK RELAKSASI SEBAGAI UPAYA MENGATASI GEJALA PREMENSTRUAL SYNDROM (PMS) DI DESA JEMPONG TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANG PULE Nurul Qamariah Rista Andaruni; Ana Pujianti Harahap; Rizkia Amilia; Indriyani Makmun
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 4, No 1 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.516 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v4i1.3284

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan analisis situasi yang teridentifikasi teradapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh mitra, yaitu sebagian besar remaja mengalami ketidaknyamanan menjelang menstruasi (7-10 Hari sebelum menstruasi) sebesar 80%, sebesar 25% remaja mengkonsumsi obat anti nyeri saat menstruasi dan tidak mengetahui cara penanganan selain mengkonsumsi obat anti nyeri, belum memiliki pengetahuan tentang Premenstrual Gentle Yoga dan belum mampu untuk melakukannya. Sehingga penyelesaian permasalahan yang dihadapi oleh mitra yang diberikan yaitu dengan memberikan penyuluhan Premenstrual Gentle Yoga Melalui Daring Sebagai Upaya Mengatasi Gejala Premenstrual Syndrome (PMS). Kegiatan ini diharapakan akan terus berlanjut dilakukan oleh remaja melalui Posyandu Remaja yang ada di Desa Jempong Timur. Metode kegiatan yang digunakan adalah dengan metode penyuluhan dan pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan setelah kegiatan, dari 75% meningkat menjadi 85%. Potensi hasil pelaksanaan PKM-M yang telah dilaksanakan kurang lebih 1 bulan adalah remaja merasakan sekali manfaat setelah melakukan yoga, nyeri yang dirasakan agak berkurang walau belum hilang dikarenakan pelaksanaan baru dilakukan sekali dan dilakukan kembali oleh remaja dirumah masing-masing. Kata kunci: premenstrual gentle yoga; premenstrual syndrome ABSTRACTBased on the analysis of the situation identified there were several problems faced by partners, namely most of the teenagers experienced discomfort before menstruation (7-10 days before menstruation) by 80%, 25% of adolescents took anti-pain medication during menstruation and did not know how to handle it besides consuming pain medication, do not have knowledge of Premenstrual Gentle Yoga and have not been able to do so. So that the solution to the problems faced by the partners given is by providing Premenstrual Gentle Yoga online as an Effort to Overcome Premenstrual Syndrome (PMS) Symptoms. It is hoped that this activity will continue to be carried out by youth through Youth Posyandu in Jempong Timur Village. The activity method used is counseling and training methods. The results showed that there was an increase in knowledge before and after the activity, from 75% to 85%. The potential results of the implementation of PKM-M that have been implemented for about 1 month are that teenagers feel once the benefits after doing yoga, the pain they feel is somewhat reduced even though they have not disappeared because the implementation has only been done once and done again by teenagers in their respective homes. Keywords: premenstrual gentle yoga; premenstrual syndrome
PEMBENTUKAN PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS REMAJA MELALUI PEMBERIAN AKSES INFORMASI TENTANG PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN DI DESA SEMBUNG KECAMATAN NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT Nurul Qamariah Rista Andaruni; Aulia Amini; Ana Pujianti Harahap; Rizkia Amilia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 3, No 1 (2019): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.96 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v3i1.1065

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang kami temukan di Desa Sembung yakni terdapat 29% perkawinan remaja. rata-rata pengetahuan remaja tentang dampak perkawinan muda masih sangat kurang, pelaksanaan perkawinan remaja masih didukung oleh budaya setempat, dan sebagian besar remaja yang telah melakukan perkawinan muda mengalami putus sekolah. Oleh sebab itu, kami membentuk peer educator tiap dusun untuk memudahkan remaja mengakses informasi terkait pendewasaan usia perkawinan. Hasil kegiatan ini sangat berdampak positif baik bagi remaja khususnya maupun orangtua dan masyarakat, terbukti 90% terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap pendewasan usia perkawinan, sedangkan hasil uji lapangan sebesar 80% remaja mampu menjadi konselor sebaya (peer educator). Kata kunci: perkawinan remaja, peer educator, pendewsaan usia perkawinan ABSTRACTThe problem we found in Sembung Village is that there are 29% of teenage marriages. The collective knowledge of adolescents about the impact of young unions is still lacking, the implementation of underage marriages supported by local culture, and the majority of adolescents who have committed young marriages experience dropouts.  Therefore, we formed peer educators in each hamlet to facilitate youth accessing information related to the age of marriage.  The results of this activity are very favorable for both adolescents in particular as well as parents and the community, as evidenced by 90% increase in knowledge and attitudes towards the demise of marriage age, while field test results by 80% of adolescents can become peer educators. Keywords: underage marriages, peer educator, related to the age of marriage
EDUKASI PENCEGAHAN SCREEN DEPENDENCY DISORDER (SDD) DAN TANTANGAN POLA ASUH EFEKTIF ANAK USIA DINI ERA DIGITAL DI DESA TAMAN SARI GUNUNG SARI LOMBOK BARAT Rizkia Amilia; Nurul Qamariah Rista Andaruni; Ana Pujianti Harahap; Indriyani Makmun
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jpmk.v3i1.6856

Abstract

Screen Dependency Disorder (SDD) atau biasa disebut kondisi kecanduan layar dan gadget merupakan penggunaan gadget elektronik dan internet yang tidak terkendali dan disertai dengan gangguan perilaku, kognisi dan sosial. Berdasarkan situs New York Times, 70% orang tua mengaku mengijinkan anak-anak mereka yang berusia 6 bulan- 4 tahun untuk bermain gagdet ketika orang tua sedang sibuk, 25 % mengaku meninggalkan anak-anak sendiri dengan bermain gagdet saat menjelang tidur. Kebanyakan orang tua juga menyatakan anak-anak yang usianya dibawah 1 tahun menggunakan gadget untuk bermain game, menonton video dan bermain aplikasi (Zhallina, 2019).Tujuan pengabdian ini adalah untuk menambah pengetahuan ibu/orang tua melalui edukasi tentang pencegahan Screen Dependency Disorder (SDD)/kecanduan layar dan gadget serta tantangan pola asuh efektif anak usia dini. Metode yang digunakandalam pengabdian ini  mengadopsi langkah-langkah action research yang terdiri dari 4 (empat) tahapan perencanaan, tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi. Mitra pada pengabdian ini merupakan ibu/orang tua, kader, bidan desa dan tokoh masyarakat. Dari hasil edukasi yang diberikan menunjukkan bahwa 29 orang (82,85 %) sudah benar menjawab kuesioner yang diberikan. Para orangtua tersebut juga sangat antusias ingin mempraktekan materi pola asuh yang sudah diberikan. Kesimpulan pada pengabdian ini adalah kegiatan ini sangat berdampak positif bagi para orang tua dan masyarakat umum karena meningkatkan pengetahuan orang tua dalam tentang Screen Dependency Disorder (SDD)/kecanduan layer dan gadget serta pola asuh anak yang efektif terhadap anak usia dini di era digital. Saran dari pengabdian ini adalah diharapkan kepada orang tua mampu menerapkan pola asuh efektif terhadap anak usia dini sehingga anak terhindar dari Screen Dependency Disorder (SDD).
PENGARUH PIJAT BAYI DAN BREASTFEEDING TERHADAP PENURUNAN KADAR BILIRUBIN PADA NEONATUS DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA NURUL QAMARIAH RISTA ANDARUNI
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi baru lahir memiliki risiko mengalami hiperbilirubinemia yang terjadi pada sekitar 80% bayi prematur dan 60 % pada bayi aterm selama minggu pertama setelah kelahiran, yang disebabkan oleh tingginya kadar bilirubin dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pijat bayi dan breastfeeding terhadap penurunan kadar bilirubin pada neonatus dengan hiperbilirubinemia. Jenis penelitian desain Quasi Eksperimental dengan rancangan Non-Equivalent Control Group. Sampel dalam penelitian ini neonatus hiperbilirubinemia yang menerima fototerapi sebanyak 70 bayi dibagi menjadi 4 kelompok. Bayi yang mendapatkan pijat dan breastfeeding (Kelompok I), bayi yang mendapat pijat dan susu formula (Kelompok II), bayi yang hanya mendapat breastfeeding (Kelompok III) dan bayi yang hanya mendapat susu formula (Kelompok IV). Pemberian intervensi dilakukan selama 3 hari/sampel. Analisis data menggunakan uji Paired T Test dan uji Anova. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan kadar bilirubin antara keempat kelompok setelah intervensi dengan p value 0,000<0,05. Setelah intervensi diperoleh rata-rata penurunan kadar bilirubin pada kelompok pijat+breastfeeding sebesar 7.82 mg/dl, kelompok pijat+susu formula sebesar 9.22 mg/dl, kelompok breastfeeding sebesar 14.68 mg/dl dan kelompok susu formula sebesar 13.69 mg/dl. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kelompok yang diberikan pemijatan lebih efektif menurunkan kadar bilirubin dibandingkan hanya diberikan breastfeeding atau susu formula. Pijat bayi bisa membantu mengurangi kadar bilirubin dengan meningkatkan frekuensi defekasi pada neonatus dengan hiperbilirubinemia yang menerima fototerapi.
EFEKTIFITAS PEMBERIAN REBUSAN JAHE TERHADAP PENURUNAN MUAL DAN MUNTAH PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DI WILAYAH PUSKESMAS GUNUNG SARI KABUPATEN LOMBOK BARAT Rizkia Amilia; Indriyani Makmun; Nurul Qamariah Rista Andaruni
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 11, No 2 (2020): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.13 KB) | DOI: 10.33859/dksm.v11i2.647

Abstract

Latar Belakang: Mual dan muntah merupakan keluhan yang paling umum selama kehamilan dan sekitar 70-80% dialami oleh ibu hamil terutama di trimester pertama. Berdasarkan studi prospektif oleh Lacasse, dari 367 wanita hamil, 78.5% melaporkan mengalami mual dan muntah pada trimester pertama, 52.2% mengalami mual muntah ringan, 45.3% mual muntah sedang, dan 2.5% mual muntah berat. Jahe merupakan bahan ramuan lebih dari 50% obat-obatan tradisional untuk mengatasi berbagai kondisi sakit seperti mual, kram perut, mabuk kendaraan, demam, gangguan pencernaan dan infeksi. Jahe memiliki kandungan besi dan kalsium yang tinggi.Tujuan :Untuk menganalisis efektifitas pemberian rebusan jahe terhadap mual dan muntah ibu hamil trimester I.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental dengan desain penelitian yang digunakan adalah non equivalent pre dan post test control group design. Sampel pada penelitian ini adalah 30 sampel ibu hamil yang mengalami mual muntah. 15 ibu hamil yang diberikan rebusan jahe sebagai kelompok perlakuan dan 15 ibu hamil sebagai kelompok control dengan teknik purposive sampling. Data diukur dengan Indeks Rhodes dan dianalisis menggunakan uji paired t-test dan regresi linier untuk analisis multivariabel.Hasil: Penurunan mual muntah pada kelompok yang diberikan aromaterapi pepermint inhalasi lebih tinggi 8,63 dibandingkan dengan kelompok kontrol 5,11. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,001 0,05 maka dapat disimpulkan ada perbedaan signifikan antara mual muntah sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi pepermint inhalasi. Variabel luar yang berpengaruh terhadap mual dan muntah adalah pekerjaan, pengetahuan, paritas dan pendidikan dengan nilai p0,25.Simpulan:Pemberian rebusan jahe pada ibu hamil trimester I efektif menurunkan mual muntah.
The Effect of Counseling on Dairy Milk Management on The Knowledge and Attitudes of Working Mothers Rizkia Amilia; Nurul Qamariah Rista Andaruni; Cahaya Indah Lestari; Indriyani Makmun
Jurnal Kebidanan Vol 11, No 2 (2022): August 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jk.11.2.2022.195-202

Abstract

Based on data from the United Nations Children's Fund (UNICEF) in 2012, only 39% of babies under the age of 6 months receive exclusive breastfeeding worldwide. Riskesdas data in 2013 stated that the success of exclusive breastfeeding was only 54.3%. The coverage of exclusive breastfeeding can be increased if puerperal mothers, especially those who work, can apply dairy milk management. The purpose of this study is to analyze the effect of counseling on dairy breast milk management on the knowledge and attitudes of working mothers in the work area of the Karang Pule Health Center in Mataram City. This research is a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest research design. The samples in this study were 30 samples with purposive sampling technique. The data were measured with questionnaires and analyzed using the Wilcoxon Match Pairs Test. The results of this study were that there was a difference in the average level of maternal knowledge of 2.48 and a difference in the average attitude of working mothers of breastfeeding of 24.29 with a p-value of 0.001 which means that there was a significant difference in the knowledge and attitudes of working mothers before and after being given counseling. The conclusion in this study is that there is an influence of counseling on the knowledge and attitudes of mothers working before and after being given counseling on dairy milk management. The suggestion from this study is expected to increase the knowledge and attitudes of working mothers about good dairy milk management so that it can be applied directly