Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PEMBERDAYAAN UKM UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI DESA KEPUH KECAMATAN KERTOSONO KABUPATEN NGANJUK Enny Istanti; Indi Nuroini
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 4, No 1 (2022): BUDIMAS : VOL. 04 NO. 01, 2022
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v4i1.3540

Abstract

Pemberdayaan UMKM merupakan salah satu langkah strategis dan tepat dalam rangkat peningkatan dan perkuatan dasar hidup ekonomi kerakyatan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia, terutama dalam rangka menciptakan lapangan kerja baru dalam rangka mengurangi pengangguran dan kesenjangan sosial dalam kehidupan. tujuan memberi pengetahuan kepada UKM tentang apa itu branding, cara menentukan target dan segmen pasar, memberikan pelatihan tentang cara mengaplikasikan sosial media dan juga marketplace, juga melatih UKM untuk bisa melakukan packaging untuk menunjang proses dari pengaplikasian marketplace. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan cara memberikan sosialisasi dan bimbingan kepada pelaku UKM Desa Kepuh. Hasil yang diperoleh setelah diadakan sosialisai dan bimbingan terhadap peserta dan pelaku UKM yang ada di desa Kepuh. Terlihat bahwa terdapat 72% peserta sangat paham terhadap materi sosialisasi, 18% sebanyak itu peserta yang paham dan sisanya sebanyak 10% tidak paham. Hal ini sangat membanggakan karena peningkatan prosentase peserta yang paham akan materi. Kesimpulan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah bahwa dari beberapa pelaku UKM yang ada di Desa Kepuh [1] Tidak memahami dan mengerti cara mengemas produk dengan baik sehingga mampu menarik minat beli konsumen, [2] rebranding produk sehingga mampu memberikan daya Tarik terhadap produk tersebut, [3] Merubah kebiasaan menjual barang secara konfensial menjadi digital marketing dengan memanfaatkan kemajuan tekhnologi dan memanfaatkan markerplace yang ada di media sosial
Exploring the Role of Notaries in Common Law and Civil Law Legal Systems: A Comparative Analysis of Authentic Deed Making Indi Nuroini; Akfah Zakiah Jamilah; Agung Wildan Azizi; Ajeung Syilva Syara Noor Silmi Sudrajat
Journal of Strafvordering Indonesian Vol. 1 No. 3 (2024): JOSI-JULY
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/q77xbj15

Abstract

The role of notaries in Civil Law and Common Law legal systems, with a focus on Indonesia and Malaysia as examples of each. The Civil Law legal system in Indonesia regulates notaries as public officials responsible for making authentic deeds with strong evidentiary power in the eyes of the law. This study uses a normative research approach to explore the legal regulations governing notaries in both legal systems, by analyzing the UUJN in Indonesia and the Notaries Public Act 1959 in Malaysia. The main findings show that notaries in Civil Law have broader authority in making authentic deeds compared to Notary Public in Common Law, which focuses more on document verification and attestation. This difference reflects the characteristics of each legal system in regulating the role of notaries in maintaining legal certainty in society. Further research on these differences and similarities can provide valuable insights for legal development in both systems, as well as help formulate more effective strategies in meeting the increasingly complex and connected global legal needs.
Exploring the Role of Notaries in Common Law and Civil Law Legal Systems: A Comparative Analysis of Authentic Deed Making Indi Nuroini; Akfah Zakiah Jamilah; Agung Wildan Azizi; Ajeung Syilva Syara Noor Silmi Sudrajat
Journal of Strafvordering Indonesian Vol. 1 No. 3 (2024): JOSI-JULY
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/q77xbj15

Abstract

The role of notaries in Civil Law and Common Law legal systems, with a focus on Indonesia and Malaysia as examples of each. The Civil Law legal system in Indonesia regulates notaries as public officials responsible for making authentic deeds with strong evidentiary power in the eyes of the law. This study uses a normative research approach to explore the legal regulations governing notaries in both legal systems, by analyzing the UUJN in Indonesia and the Notaries Public Act 1959 in Malaysia. The main findings show that notaries in Civil Law have broader authority in making authentic deeds compared to Notary Public in Common Law, which focuses more on document verification and attestation. This difference reflects the characteristics of each legal system in regulating the role of notaries in maintaining legal certainty in society. Further research on these differences and similarities can provide valuable insights for legal development in both systems, as well as help formulate more effective strategies in meeting the increasingly complex and connected global legal needs.
LEGALITAS CRYPTOCURENCCY SEBAGAI ALAT TRANSAKSI MENURUT UNDANG- UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG MATA UANG Moch Nurkholis Pratama; Indi Nuroini
DE RECHT (Journal of Police and Law Enforcement) Vol. 1 Issue. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan kemajuan zaman melahirkan jenis mata uang baru berbasis cryptocurenccy dengan mata uang utamanya yaitu bitcoin. Bitcoin sendiri adalah salah satu mata uang cryptocurrency dimana bitcoin berfungsi sebagai alat tukar modern dengan bantuan internet, dengan kata lain bitcoin adalah uang modern. Adapun dampak bitcoin adalah sebagai ladang kriminalitas terutama dalam pencuciang uang, koruptor merajalela serta bentuk penipuan, sarana penjualan barang ilegal seperti obat-obatan terlarang dan terorisme. Hasil penelitian menunjukan bahwa fenomena bitcoin di Indonesia sendiri masih belum legal karena bertentangan dengan undang-undang no. 7 tahun 2011 mengenai mata uang Indonesia adalah rupiah jadi selain itu dilarang, tidak adanya underlying (cadangan aset) oleh pemerintah. Ulama indonesia mui juga mengeluarkan fatwa bahwa bitcoin hukumnya haram jika digunakan sebagai alat transaksi karena bertentangan dengan undang- undang yang berlaku.
MERANCANG STRATEGI DIGITALISASI UMKM DESA: PENDEKATAN PARTISIPATIF DI DESA TERIK, SIDOARJO Enny Istanti; Indi Nuroini; R.M. Bramastyo Kusumo Negoro
Semeru: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/semeru.v2i1.1547

Abstract

The digital transformation of village MSMEs is an important agenda in encouraging economic equity and strengthening local independence. This article aims to design a participatory-based MSME digitization strategy in Terik Village, Krian, Sidoarjo, by exploring the needs, obstacles, and potential of local business actors. This study uses a descriptive qualitative approach with phenomenological methods, data collection techniques in the form of in-depth interviews, participatory observations, and Focus Group Discussions (FGD). The results of the study show that low digital literacy and lack of access to training are the main obstacles, but the active involvement of MSME actors in strategic planning increases their motivation and readiness to adopt technology. These findings contribute to the theory of community empowerment and technology acceptance and offer contextual and sustainable models of intervention. This study recommends the application of a participatory approach in the digital empowerment program of village MSMEs as well as the development of follow-up studies to enrich understanding of the phenomenon of community-based digital transformation
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN UMKM BERBASIS LINGKUNGAN DI KELURAHAN BULAK BANTENG, SURABAYA Indi Nuroini; Enny Istanti
Semeru: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/semeru.v2i1.1552

Abstract

Community empowerment is an important key to sustainable development, especially in urban-coastal areas that face economic and environmental challenges. This study aims to analyze community empowerment strategies through the development of environment-based MSMEs in Bulak Banteng Village, Surabaya. Using a descriptive qualitative approach with in-depth interview techniques, participatory observation, and Focus Group Discussion (FGD), this study explores changes in the perception and practice of MSME actors towards environmental issues. The results show that the direct involvement of the community in the empowerment process is able to increase awareness of sustainable business practices and encourage the adoption of environmentally friendly business principles, although still on a small scale. This research contributes to strengthening the theory of community empowerment and green entrepreneurship, as well as offering an effective collaborative approach to the development of MSMEs at the local level. These findings recommend the integration of environmental training and business assistance as a sustainable community empowerment strategy in the future.
Dari Bertahan Hidup Ke Hidup Bermakna: Potret Transformasi Kualitas Hidup Masyarakat Dusun Kemendung Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto Enny Istanti; Indi Nuroini
Semeru: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/semeru.v2i2.1668

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memotret dan memahami secara mendalam transformasi kualitas hidup masyarakat Dusun Kemendung, Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dari kondisi bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna. Fenomena ini penting dikaji karena kualitas hidup masyarakat desa tidak hanya ditentukan oleh aspek material, tetapi juga oleh pengalaman subjektif, relasi sosial, serta partisipasi komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain fenomenologis dan partisipatif untuk menggali makna dan pengalaman hidup masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi partisipatif terhadap 12 informan yang terdiri atas warga dusun, tokoh masyarakat, dan pihak yang terlibat dalam kegiatan edukasi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran makna kualitas hidup yang ditandai oleh meningkatnya kesadaran diri, partisipasi sosial, rasa kebersamaan, serta tumbuhnya makna hidup melalui kegiatan edukasi nonformal, kreativitas berbasis lokal, dan aktivitas sosial kolektif. Temuan ini mengungkap bahwa kualitas hidup masyarakat merupakan konstruksi sosial yang dibentuk melalui pengalaman hidup dan relasi komunitas, bukan semata-mata hasil pemenuhan kebutuhan ekonomi. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan memperkuat pendekatan kualitatif dalam kajian kualitas hidup berbasis pengalaman dan kesejahteraan relasional. Secara praktis, temuan penelitian memberikan implikasi bagi perumusan kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat desa yang lebih partisipatif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan kapasitas sosial. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji keberlanjutan transformasi kualitas hidup dalam konteks desa lain dengan pendekatan longitudinal.
KONSEKUENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 35 TAHUN 2021 TENTANG PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU, ALIH DAYA, AKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT, SERTA PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Muhammad Naufal Daghustan; Indi Nuroini
Jurnal Hukum Dan Keadilan Vol. 11 Issue. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaturan pemutusan hubungan kerja dan bagaimana konsekuensi hukum yang sesuai dan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang perjanjian kerja waktu tertentu, alih daya, waktu kerja dan waktu istirahat, dan pemutusan hubungan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan melakukan pendekatan undang-undang. Bahan hukum yang digunakan adalah hukum primer, sekunder dan tersier. Adapun teknik pengumpulan bahan hukum menggunakan bahan hukum yuridis normatif yakni melakukan pembahasan terhadap bahan hukum yang ada dikaitkan dengan landasan teori yang telah dikemukakan sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan. Adapun temuan dalam penelitian ini pengaturan mengenai pemutusan hubungan kerja diatur pada Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 dimana sebelum melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh pengusaha harus memiliki hubungan perjanjian kerja terlebih dahulu, perjanjian kerja dalam hubungan kerja dibuat secara tertulis atau lisan sehingga saat terjadi pemutusan hubungan kerja maka pengakhiran itu sesuai dengan hukum yang berlaku sehingga ada konsekuensi hukum yang ditanggung oleh pengusaha. Konsekuensi atas pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh pengusaha terhadap pekerja/buruh maka pekerja/buruh berhak mendapatkan uang kompensasi atau uang pesangon namun ketika terjadi ketidak sesuaian pemberian uang kompensasi dan pesangon maka pekerja/buruh dapat menyelesaikannya dengan perundingan bipartid dan tripartid. Dan jika gagal maka kedua belah pihak dapat menyelesaikannya dengan cara mediasi, konsiliasi dan arbitrase.
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENUMPANG MASKAPAI AKIBAT PEMBATALAN KEBERANGKATAN SECARA SEPIHAK MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN NOMOR 8 TAHUN 1999 Meidyana Aulia Putri; Indi Nuroini
Jurnal Hukum Dan Keadilan Vol. 13 Issue 1 (2024)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/judiciary.v13i1.238

Abstract

Kewajiban Pengangkut Udara Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 tahun 2011 Pengangkut Udara telah diatur prosedur pembatalan atau penundaan penerbangan yang mana bahwa pihak maskapai harusnya memberitahukan minimal 7 (tujuh) hari sebelum waktu keberangkatan. Meskipun, dalam prakteknya masih ada banyak lagi pihak maskapai melakukan pembatalan secara sepihak. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah agar penumpang maskapai memahami hak-hak perlindungan hukum yang dapat dilakukan apabila jadwal penerbangannya dibatalkan secara sepihak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif yaitu penelitian membahas berbagai teori hukum, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum putusan-putusan pengadilan, erta perjanjian-perjanjian antara pihak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya perlindungan hukum yang dapat diupayakan oleh pihak penumpang yang merasa dirugikan oleh maskapai penerbangan karena jadwal penerbangannya dibatalkan secara sepihak oleh pihak maskapai dapat mengajukan gugatan PMH (perbuatan melawan hukum) ke Pengadilan Negeri maupun melalui luar pengadilan.  
KONSEKUENSI HUKUM PELANGGARAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DENGAN ALASAN FRASA BERSIFAT MENDESAK Miftakhul Fuadi; Indi Nuroini
Jurnal Hukum Dan Keadilan Vol. 14 Issue 1 (2025)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/judiciary.v14i1.345

Abstract

Di dalam Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2021, tepatnya pada Pasal 52, terdapat frasa yang berpotensi menimbulkan tafsir ganda, yaitu "pelanggaran mendesak." Frasa ini tidak disertai dengan definisi atau penjelasan yang memadai. Ketiadaan aturan yang jelas berpotensi menimbulkan berbagai persoalan dalam penegakan hukum, khususnya terkait pemutusan hubungan kerja.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian normatif. Penelitian hukum ini bersifat normatif, karena berlandaskan pada norma-norma dan asas-asas dalam hukum positif. Fokus penelitian terletak pada kajian terhadap bahan pustaka dan data sekunder lainnya, dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif yang menitikberatkan pada aspek pembentukan dan penerapan hukum. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan pendekatan analitis dengan cara menafsirkan istilah-istilah yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang relevan. Berdasarkan jenis penelitian yang bersifat normatif, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan, karena fokus kajiannya terletak pada berbagai peraturan hukum yang menjadi tema sentral penelitian.Pengaturan mengenai pemutusan hubungan kerja telah diatur secara jelas dan rinci didalam Undang-Undang No. 6 tahun 2023 tentang Cipta Kerja, dimana didalam Undang-Undang no.6 Tahun 2023 itu juga sudah diatur mengenai alasan-alasan yang dapat menyebabkan adanya pemutusan hubungan kerja dan juga salah satunya alasan yang biasanya digunakan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pelanggaran bersifat mendesak. Adapun konsekuensi hukum yang terjadi ketika adanya pemutusan hubungan kerja dengan alasan pelanggaran yang bersifat mendesak maka pihak pekerja tidak berhak mendapatkan uang pesangon hanya mendapatkan uang pengganti hak ataupun uang penghargaan masa kerja.