Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS VEGETASI DI KAWASAN PULAU MENJANGANTAMAN NASIONAL BALI BARAT (TNBB) Erni Mukti Rahayu
Gorontalo Journal of Forestry Research VOLUME 3 NOMOR 2 TAHUN 2020 GORONTALO JOURNAL OF FORESTRY RESEARCH
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjfr.v3i2.993

Abstract

Pulau Menjanganmerupakan kawasan dalam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang tergolong kawasan pelestarian alam yang memiliki vegetasi yang beragam, khususnya ekosistem darat dan ekosistem laut. Ekosistem darat terdiri hutan dataran rendah, savana, dan hutan pantai. Keberadaan vegetasi di Pulau Menjangansangat penting guna mendukung fungsi kawasan dalam pelestarian alam. Namun, data tentang vegetasi pada kawasan Pulau Menjanganmasih sangat terbatas. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian tentang analisis vegetasi dimana nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber data atau informasi pada kawasan Pulau MenjanganTNBB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Jenis tumbuhan dan Indeks Nilai Penting, Indeks Keragaman jenis, Indeks Kekayaan Jenis, dan Indeks Kemerataan vegetasi hutan yang berada di kawasan Pulau MenjanganTaman Nasional Bali Barat. Metode pengambilan data menggunakan metode transek dengan IS 1%, petak ukur yang digunakan adala 2x2 meter untuk semai, 5x5 meter untuk pancang, 10x10 meter untuk tiang, dan 20x20 meter untuk pohon. Hasil Analisis Vegetasi Indeks Nilai Penting tingkat pohon didominasi oleh Acacia leucophloea (Roxb) Willd pada habitat hutan pantai yaitu sebesar 107.63%, habitat savana sebesar 172,33%, dan hutan dataran rendah sebesar 48,78%. Vegetasi tingkat tiang pada habitat hutan pantai Pemphis acidula Forst sebesar 94.85% sedangkan untuk savana Azadirachta indica A. Juss sebesar 106,49% dan hutan dataran rendah dengan INP sebesar 68,34% yaitu Schoutenia ovata Korth. Vegetasi tingkat pancang pada habitat hutan pantai yaitu Ceriops tagal (Pers) CBRob dengan INP sebesar 86.09%, sedangkan untuk savana INP tertinggi sebesar 105.75% pada Azadirachta indica A. Juss, dan hutan dataran rendah yaitu Rauvolfia serpentina (L) Benth dengan INP 35.95%. Vegetasi tingkat semai pada hutan pantai yaitu Caesalpinia bonduc (L) Roxb dengan INP yang didapat 30.04% dan savana terdapat pada Cleoma viscosa Linnaeus dengan INP 67.77%, sedangkan untuk hutan dataran rendah yaitu Rauvolfia serpentina (L) Benth 60.42%. INP tersebut menunjukkan bahwa keadaan vegetasi yang baik dan terdapat beberapa jenis pohon yang mendominasi hal ini karena keadaan hutan merupakan hutan alam sehingga pertumbuhannya ada yang bersifat dominan dan tertekan. Indeks keanekaragaman tumbuhan di Kawasan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat tergolong dalam kategori sedang pada hutan dataran rendah dimana didapat hasil sebesar 2.65. Indeks kekayaan jenis didapat hasil 5,24 yang menandai bahwa kekayaan jenis tergolong tinggi pada hutan pantai. Indeks kemerataan jenis diperoleh hasil dalam kategori merata karena nilai indeks kemerataan spesies berada pada nilai 1.61.
PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PINUS SEBAGAI PENGENDALIAN PERTUMBUHAN SEMAI TANAMAN Acacia nilotica (L.) Willd. TAMAN NASIONAL BALURAN Erni Mukti Rahayu; Farid Ma’ruf; Amir Syarifuddin
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.56104

Abstract

Acacia nilotica is a plant that can grow well in certain habitat conditions and does not require complex growing conditions. This condition causes A. nilotica (L.) Willd. will grow uncontrollably and can damage the existing ecosystem so that action is needed, one of which is by using allelopathic compounds. Some plants contain allelopathic compounds that can inhibit and interfere with the growth of other plants. Allelopathy is composed ofvitexin, isovitexin, and Cglucosylflavonoid. All three are included in the flavonoid group which is a group of phenolic compounds. The allelopathic compounds contained are expected to be a solution in overcoming the spread of A. nilotica (L.) Willd. The pine leaves used are expected to contain allelopathic compounds to inhibit the growth of A. nilotica. (L.) Willd. This research was conducted using a factorial randomized block design (RBD) with two factors, first the concentration of pine leaf extract and the second the frequency of administration. The analysis used is by using analysis of variance, if there is a real effect, it is followed by the Duncan test to determine the differences between the treatments given. The results of this study showed that pine leaf extract showed a very real interaction and influence of the application of solution concentration and frequency of pine leaf extract on the growth of invasive plant seedlings A. nilotica (L.) Willd. The concentration of the solution and the frequency of administration that was the most effective in killing A. nilotica (L.) Willd was a concentration of 750 ppm with a frequency of giving every 3 days. Based on the results of this study, it can be suggested to use a higher concentration of the solution and a higher or more frequent application of the extract to have a faster impact.Keywords: Acacia nilotica (L.) Willd, Pine Leaves, Invasive, StatisticsAbstrakAcacia nilotica termasuk kedalam tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada kondisi habitat tertentu dan tidak memerlukan syarat tumbuh yang kompleks. Kondisi tersebut menyebabkan A. nilotica (L.) Willd. akan tumbuh tak terkendali dan dapat merusak ekosistem yang ada sehingga diperlukannya suatu tindakan, salah satunya dengan menggunakan senyawa alelopati. Beberapa tanaman yang mengandung senyawa alelopati yang dapat menghambat dan mengganggu pertumbuhan tumbuhan lain. Alelopati tersusun atas senyawa vitexin, isovitexin dan Cglucosylflavonoid. Ketiganya termasuk dalam kelompok flavonoid yang merupakan golongan senyawa fenol. Senyawa alelopati yang terkandung tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi penyebaran A. nilotica (L.) Willd. Daun pinus yang digunakan diharapkan memiliki kandungan senyawa alelopati, untuk menghambat pertumbuhan dari A. nilotica. (L.) Willd. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, pertama konsentrasi ekstrak daun pinus dan kedua frekuensi pemberian. Analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan analisis ragam, apabila terdapat pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan yang diberikan. Hasil penelitian ekstrak daun pinus menunjukkan adanya interaksi serta pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan semai tanaman invasif A. nilotica (L.) Willd. Konsentrasi larutan dan frekunsi pemberian yang paling Dampaktif mematikan A. nilotica (L.) Willd adalah konsentrasi 750 ppm dengan frekuensi pemberian 3 hari sekali. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disarankan untuk menggunakan konsentrasi larutan yang lebih tenggi serta frekuensi pemberian ekstrak yang lebih tinggi atau sering agar dapat lebih cepat dalam memberikan dampak.Kata kunci : Acacia nilotica (L.) Willd, Daun Pinus, Invasif, Statistik
Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Jati Plus Perhutani Umur 3 Tahun di KPH Ngawi Sinta Nuriyah; Erni Mukti Rahayu; Mochammad Chanan
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.36067

Abstract

Pertumbuhan pohon dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya jarak tanam. Jarak tanam mampu memberikan ruang tumbuh untuk proses perkembangannya yang berpengaruh pada kemampuan menyerap unsur hara dan memperoleh cahaya matahari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan klon Jati Plus Perhutani. Penelitian dilakukan di Resort Pengelolaan Hutan Kricak, Kesatuan Pengelolaan Hutan Ngawi, pada tanaman Jati Plus Perhutani berumur 3 tahun. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan jarak tanam yang diuji yaitu 3x3m, 6x6m, 8x4m, dan 8x6m dengan pengulangan sebanyak lima kali. Indikator penelitian diantaranya diameter pohon, tinggi total, diameter tajuk serta dilakukan perhitungan riap diameter pohon. Hasil menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh signifikan terhadap diameter pohon, tinggi total, diameter tajuk dan riap pertumbuhan diameter. Diameter pohon terbaik pada jarak tanam 8x6m sebesar17,96 cm. Diameter tajuk terbaik pada jarak 8x6 m yakni sebesar 4,94 m. Sementara itu jarak tanam 8x4 menghasilkan perlakuan tertinggi berdasarkan tinggi total pohon sebesar 12,29 m. Terjadi fluktuasi pada pertumbuhan Mean Annual Increment (MAI) namun terjadi peningkatan pertumbuhan pada Current Annual Increment (CAI). Pertumbuhan riap diameter pohon paling optimal terjadi pada perlakuan jarak 8x6m baik itu berdasarkan MAI sebesar 4,96 cm/tahun maupun CAI sebesar 5,38 cm/tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa jarak tanam berperan penting dalam meningkatkan pertmbuhan jati plus perhutani secara optimal.
Edukasi Pendekatan Vegetatif dalam Upaya Pencegahan Longsor di Desa Sukomulyo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Rahayu, Erni Mukti; Syarifuddin, Amir
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 3 (2024): IJPM - Desember 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.623

Abstract

Tahun 2022 Desa Sukomulyo mengalami bencana longsor sebanyak 5 kali. Longsor disebabkan karena curah hujan yang tinggi serta didukung kondisi alam yang didominasi lereng. Selain itu, adanya alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian meningkatkan potensi longsor di Desa Sukomulyo. Tujuan pengabdian ini adalah memberikan edukasi kepada Masyarakat tentang pentingnya vegetasi dalam mencegah terjadinya longsor. Metode yang digunakan adalah dengan mendatangi Masyarakat secara langsung ke lahan. Hasil pengabdian menunjukkan Masyarakat banyak yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Kegiatan pengabdian juga melakukan sosialisasi kepada masyrakat tentang bahaya long-sor, factor-faktor penyebab longsor dan upaya konservasi untuk menangani longsor. Pada lahan Garapan Masyarakat banyak ditanami palawija. Sedangkan untuk tanaman tahunan sangat minim sekali. Hal ini lama kelamaan akan mengakibatkan tanah longsor pada Kawasan tersebut. Sebagai upaya untuk menekan longsor, maka masyarakat diberi pemahaman tentang pentingnya vegetasi dalam mencegah longsor. Perakaran tanaman mampu mengikat agregat tanah, sehingga longsor dapat diminimalisir. Selain melakukan penanaman untuk tanaman tahunan, dilakukan sosialisasi penanaman akar wangi un-tuk mencegah terjadinya longsor. Hal ini dikarenakan akar wangi dapat ditanam pada lahan miring, dengan perakaran serabut juga mampu meningkatkan agregat tanah.
Damage of Teak Trees (Tectona grandis Linnaeus filius) in the Production Forest Area of RPH Sukorame, KPH Mojokerto, East Java, Indonesia: Kerusakan Tegakan Hutan Jati (Tectona grandis Linnaeus filius) pada Kawasan Hutan Produksi RPH Sukorame, KPH Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia Ashari, Ida Ayu; Rahayu, Erni Mukti; Triwanto, Joko
Jurnal Proteksi Tanaman (Journal of Plant Protection) Vol. 6 No. 2 (2022): December 2022
Publisher : Plant Protection Department, Faculty of Agriculture, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpt.6.2.11-22.2022

Abstract

The health of the teak tree can be affected by damage caused by pests and environmental factors. This study aims to determine the health of the teak tree in teak production forest areas at RPH Sukorame KPH Mojokerto, East Java, Indonesia. The method used was the forest health monitoring (FHM) method. The sample was chosen by using a cluster plot system with a total sample of 216 teak trees. Parameters observed were symptoms of damage and its causes, type of damage and damaged parts of the teak tree, height and diameter, tread quality, and tree health analysis. The results showed that the health level of the teak tree in the teak production forest area of RPH Sukorame, KPH Mojokerto, East Java, was included in the health category with a Cluster plot level index (CLI) value of 4.36 - 4.51. The damage to the stand was caused by the attack of armyworm (Hyblaea puera), termites (Schedorhinotermes sp), and other factors. The productivity level of the area could have been more optimal, with a branch-free stand height of 0-5 m and a diameter of 16-20 cm: grumusol and grumusol sandy soil with a pH ranging from 5.8 to 7.0. Forest management is needed so that the teak tree can achieve optimum productivity.