Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Nursing Arts

FAKTOR RESIKO KEJADIAN KUSTA PADA ANAK USIA 5 – 14 TAHUN DI KOTA SORONG PAPUA BARAT Yehud Maryen; Jansen Parlaungan
Nursing Arts Vol 11 No 1 (2017): NURSING ARTS
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.175 KB) | DOI: 10.36741/jna.v11i1.19

Abstract

Kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalensi rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat komplek. Angka proporsi anak usia kurang dari 14 tahun yang menderita kusta merupakan salah satu indikator keberhasilan program pemberantasan kusta, di mana angka ini dapat digunakan untuk melihat keadaan penularan saat ini dan memperkirakan kebutuhan obat. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor yang berisiko dengan kejadian kusta pada anak usia 5 – 14 tahun di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berisiko dengan kejadian kusta pada anak usia 5 – 14 tahun di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Populasi dalam penelitian ini Populasi penelitian ini terdiri dari populasi aktual dan populasi target atau sasaran. Populasi aktual adalah seluruh penderita kusta yang telah atau sedang menjalani pengobatan kusta sekurang-kurangnya 12 bulan dan tercatat di Dinas Kesehatan Kota Sorong pada periode Januari sampai Desember 2016. Sampel pada penelitian ini berjumlah 54 responden. Instrument penelitian menggunakan kuisioner. Tehnik pengumpulan data yaitu data primer dan sekunder. Analisa Data secara analisa univariat dan bivariat. Data diolah dengan menggunakan Program SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (1,000) > sig (0,05) sehingga Ho diterima. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 1,176 (> 1 = bersifat resiko) hal ini berarti bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki memiliki resiko 1,176 kali untuk terkena penyakit kusta dibandingkan dengan responden berjenis kelamin perempuan. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (0,788) > sig (0,05) sehingga Ho diterima. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 1,375 (> 1 = bersifat resiko) hal ini berarti bahwa responden dengan umur 5-9 tahun memiliki resiko 1,375 kali untuk terkena penyakit kusta dibandingkan dengan responden umur 10-14 tahun. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (0,569) > sig (0,05) sehingga Ho diterima. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 1,633 (> 1 = bersifat resiko) hal ini berarti bahwa responden dengan pendidikan orang tua SD,SMP memiliki resiko 1,633 kali untuk terkena penyakit kusta dibandingkan dengan responden dengan pendidikan orang tua SMA,PT. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (0,000) < sig (0,05) sehingga Ho ditolak. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa ada hubungan antara ekonomi orang tua dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 13,600 (> 1 = bersifat resiko) hal ini berarti bahwa responden dengan status ekonomi orang tua < UMP Sorong memiliki resiko 13,600 kali untuk terkena penyakit kusta dibandingkan dengan responden dengan status ekonomi orang tua ≥ UMP Sorong. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (0,766) > sig (0,05) sehingga Ho diterima. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan orang tua dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 0,700 (< 1 = bersifat protektif) hal ini berarti pekerjaan orang tua tidak terlalu beresiko dengan kejadian kusta. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (0,136) > sig (0,05) sehingga Ho diterima. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara personal hygene dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 3,025 (> 1 = bersifat resiko) hal ini berarti bahwa responden dengan personal hygiene buruk memiliki resiko 3,025 kali untuk terkena penyakit kusta dibandingkan dengan responden dengan personal hygiene baik. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p (0,000) < sig (0,05) sehingga Ho ditolak. Hal ini berarti dapat diketahui bahwa ada hubungan antara ada riwayat kontak dengan kejadian kusta. Nilai odd ratio (OR) = 35,714 (> 1 = bersifat resiko) hal ini berarti bahwa responden dengan ada riwayat kontak serumah memiliki resiko 35,714 kali untuk terkena penyakit kusta dibandingkan dengan responden dengan tidak ada riwayat kontak serumah. Kesimpulan bahwa ada resiko antara ekonomi orang tua dan ada riwayat kontak serumah dengan kejadian kusta diwilayah kota sorong pada anak umur 5 – 14 tahun, dan tidak ada resiko antara jenis kelamin, umur, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, personal hygene dengan kejadian kusta diwilayah kota sorong pada anak umur 5 – 14 tahun
PERBEDAAN PEMASANGAN KATETER DENGAN MENGGUNAKAN JELLY YANG DIMASUKKAN URETRA DAN JELLYYANG DIOLESKAN DI KATETER TERHADAP TINGKAT NYERI PASIEN DI RSUD SELE BE SOLU KOTA SORONG Oktovina Mobalen; Tansar Tansar; Yehud Maryen
Nursing Arts Vol 13 No 2 (2019): NURSING ARTS
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.372 KB) | DOI: 10.36741/jna.v13i2.90

Abstract

Eliminasi merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan fisologis manusia. Terganggunya eliminasi menandakan terjadinya gangguan pada bagian sistem perkemihan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari – hari dan dapat mengganggu aktivitas.Pemasangan kateter urin merupakan suatu tindakan invasif dengan memasukkan selang ke dalam kandung kemih yang mana bertujuan untuk membantu dalam mengeluarkan urin.Tindakan ini dapat menyelamatkan kehidupan, khususnya bila saluran kemih tersumbat atau pasien tidak dapat melakukan pengeluaran urin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan respon nyeri pada prosedur kateterisasi urin pria dengan teknik pengolesan jelly pada kateter dan penyemprotan jelly langsung ke dalam urethra. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan desain quasi eksperimen. Jumlah sampel 30 responden yang dilakukan dengan kuota sampling.Analisa penelitian ini menggunakan uji mann-whitney, hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara jelly yang dimasukan diuretra dan jelly yang dioleskan di kateter terhadap tingkat nyeri pasien.
EFEKTIVITAS RASIO PINGGANG-TINGGI DAN TEKANAN DARAH PASCAPAPARAN STRESSOR AKUT COLD PRESSOR TES (CPT)TERHADAP RISIKO HIPERTENSI PADA MAHASISWA Nurul Kartika Sari; Yehud Maryen; I Made Raka
Nursing Arts Vol 14 No 2 (2020): NURSING ARTS
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36741/jna.v14i2.120

Abstract

Data figures pain in City of Province of West Papua shows that hypertension is included in th 10 diseases most in the health center, which occupies the order of the 2nd after the disease malaria. Hypertension can be prevented and dealt with effectively order to decrease the risk of stroke and attack the heart through measurement anthropometrics and administration of cold exposures such as cold pressor tests (CPT). The purpose of this study was to determine the difference in the effect of waist-height rasio and blood pressure after exposure to acute stressor CPT on the risk of hypertension. This study uses a quasy-experimental research design with a two-group comparison post-test only design approach Mechanical taking sampling by way of simple random sampling. Variables that are used are age, type of sex, history of smoking history of alcohol, history of genetics and the risk of hypertension. The 64 samples in the group intervention and group control, respondents most aged <20 years either in group intervention or group comparison which amounted to 18 respondent (56.3%) , various sex women as much as 24 respondents (75%), did not have a history of smoking as much as 28 respondents (87.5%), did not have a history of al k ohol that as many as 30 respondents (93.8%) and 29 respondents (90.6%), have a history of genetic hypertension as much as 17 respondents (53.1%). Inaddition it also obtained the pressure of blood post- CPT worth normal numbering 29 people (90.6%) and the ratio of waist-high value- normal as much as 21 (65.6%). The results of the analysis of the statistics obtained that does not exist differences are significant between the TD after the CPT test with the risk of hypertension (p value = 0.238; α = 0.05). While the results of test statistical difference in the effect of the ratio of waist- high against the risk of hypertension indicates that there is a difference that is significant ratio of waist-high against the risk of hypertension ( p-value = 0, 000 ; α = 0.05). It was concluded that there were not significant between blood pressure after exposure to acute CPT stressor and waist-height ratio to the risk of hypertension. Keywords: Risk of Hypertension; Cold Pressor test; ratio of waist-high