Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EKRANISASI NOVEL ANKOKU JOSHI KARYA AKIYOSHI RIKAKO KE LIVE ACTION Hanifa Muslima; Fenny Febrianty; Pitri Haryanti
MAHADAYA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol 1 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.756 KB) | DOI: 10.34010/mhd.v1i2.5738

Abstract

The purpose of this study is to identify the impact of the reduction of Sonoko Koga's character in the ecranization from novel Ankoku Joshi by Akiyoshi Rikako to live action Ankoku Joshi by director Saiji Yakumo. The research method used is descriptive analysis method. The results of this study indicate the impact of reducing Sonoko Koga's character in the ecranization on other figures. The conclusions obtained from this study is the shringkage or reduction of Sonoko Koga's character in ecranization has an impact on the characterization of the characters Takaoka Shiyo and Nitani Mirei in order to complement the role of Sonoko Koga in the story of Ankoku Joshi. The aspirations of the Sonoko Koga character are not varied from other characters because they are considered to have no effect on the content of the live action story of Ankoku Joshi.
ANALISIS PERBEDAAN ‘TAKUSAN’ DAN ‘OOI’ Pitri Haryanti
Janaru Saja Jurnal Program Studi Sastra Jepang Vol. 1 No. 1 (2012): Jurnal Ilmiah Jurusan Sastra Jepang Unikom
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata ooi dan takusan merupakan salah satu contoh kata sinonim dalam bahasa Jepang yang sering membingungkan pembelajar bahasa Jepang sehingga pembelajar sering melakukan kesalahan dalam menggunakan kedua kata tersebut. Untuk mengetahu perbedaan antara kat ooi dan takusan dalam bahasaJepang, dalam makalah ini dilihat dari makna kedua kata tersebut dan fungsinya di dalam kalimat. Dari hasil analisis dapat disimpulkan apabila dilihat dari fungsi sebagai predikat kata takusan memiliki arti sudahcukup dan tidak membutuhkannya lagi sedangkan kata ooi sendiri bermakna banyak dengan konteks perbandingan. Adapun ketika kedua kata tersebut berfungsi sebagai adverbial dalam menerangkan verbatakusan memiliki arti banyak dalam arti jumlah atau kuantitas sedangkan ooi bermakna banyak dalam arti intensitas. Sedangkan ketika menerangkan nomina, takusan bisa diartikan “banyak” sedangkan ooi“kebanyakan(nomina)” dan apabila ooi mengikuti kata bilangan memiliki arti lebih.Kata kunci: ruigigo, ooi, takusan, hinshi
RESPON PENGGUNA TERHADAP APLIKASI KANJI HUNTER Lutfhi Fauzi; Pitri Haryanti; Soni Mulyawan Setiana
Janaru Saja Jurnal Program Studi Sastra Jepang Vol. 6 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v6i2.580

Abstract

Language has important function, beside using it as communication media, but also can be used as media to aspire idea, mind and aspiration. There’s also dificulity when learning foreign language, especially learning Japanese language. Tenses, kanji words etc can be obstacle to learning Japanese language. Emprical experience prove that foreign students has problem learning kanji when studying Japanese language. Based of this problem, writer create “Kanji Hunter” education game as kanji media learning to make learning kanji easier. This study aimed to obtain an overview of feedback from  respondents about “Kanji Hunter”. This research design was descriptive qualitative research. The data were taken through questionarre to the 30 students of Japanese Department of Unikom.  The result is about 1389 criterium value, that means it’s in good interval. With this “Kanji Hunter” application based Adobe Flash as basic kanji media learning is expected to make enthusiastic foreign student to learn kanji words dan make it easier.
Ilokusi dan Perlokusi Komisif Antar-LawanKarakter Hodaka dalam Film Tenki no Ko Rama Adira Nurjaman; Pitri Haryanti
Janaru Saja Jurnal Program Studi Sastra Jepang Vol. 13 No. 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v13i1.12804

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan perlokusi komisif dalam anime Tenki no Ko. Metode yang digunakan deskriftif kualitatf dengan teknik simak catat. Dari hasil enam data dialog yang dianalisis, penelitian ini menyoroti berbagai situasi di mana antar-lawan Hodaka menggunakan komunikasi komisif untuk mengekspresikan penolakan, niat, berjanji dan menawarkan. Melalui berbagai tindak tutur komisif ini, karakter-karakter mengkomunikasikan niat, penolakan, penawaran, dan janji serta menghasilkan efek atau dampak pada mitra tuturnya. Keywords: komisif, perlokusi, tindak tutur, Penolakan, Intend atau Berniat, Penawaran, Berjanji
Kata dan Kimari Monku dalam Meishi Koukan Pitri Haryanti
Janaru Saja Jurnal Program Studi Sastra Jepang Vol. 13 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v13i2.14410

Abstract

Abstract The purpose of this study is investigating the way (kata) and situasional expression in Japanese (kimari monku) in meishi koukan, or the culture of exchange business cards in Japan. The study employs a qualitative descriptive methodology. Data were gathered using library research approaches, which included reading books, literature, notes, and numerous associated papers. According to the study's findings, business cards have a symbolic significance that alludes to their owners, and there are standards for exchanging business cards in Japan that are both attitude-based and verbal (kimari monku). Understanding meishi koukan norms is critical for avoiding misunderstandings in Japanese business. This study demonstrates that culture shock may be used to learn Japanese culture; hence, more culture shock instances need to be investigated to understand Japanese culture. Keywords: culture learning, meishi koukan, kata, kimari monku Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meneliti mengenai aturan (kata) dan ungkapan bahasa Jepang (kimari monku) dalam meishi koukan atau budaya bertukar kartu nama di Jepang. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik studi pustaka atau library research dengan yaitu melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai jurnal yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian menemukan bahwa kartu nama memiliki nilai simbolis yang merujuk pada pemiliknya dan terdapat aturan baik dalam bersikap ataupun dalam verbal (kimari monku) dalam bertukar kartu nama di Jepang. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, pemahaman mengenai aturan meishi koukan sangat penting dalam bisnis di Jepang. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran budaya Jepang dapat dilakukan melalui kasus culture shock. Oleh karena itu, perlu penelitian kasus culture shock lainnya dalam pembelajaran budaya Jepang. Kata kunci: pembelajaran budaya, meishi koukan, kata, kimari monku