Muads Hasri
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Unsur Lokalitas dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya AGH. Daud Ismail (Studi Analisis Psychological Hermeneutics terhadap QS. Al-Maidah 5:90) Winceh Herlena; Muads Hasri
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 9, No 2 (2020): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/jpkth.v9i2.3509

Abstract

Indonesian mufassir generally use Indonesian in interpreting the Al-Qur'an. However, the interpretation of AGH Daud Ismail uses the script lontara bugis to interpret the Al-Qur'an 30 Juz. Therefore, the author tries to see the aspects behind the use of the lontara script in the interpretation of AGH Daud Ismail.In addition, the author will also explore the locality elements shown in Daud Ismail's interpretation of the QS. Al-Maidah 5:90.This paper uses Schleiermacher's hermeneutic approach on psychological hermeneutics with a descriptive-analytic method.This paper concludes that: first, the use of the lontara script in this interpretation is an attempt to preserve the Bugis script which has begun to be abandoned at that time; second, in the interpretation of QS. Al-Maidah 5:90 contains terms and habits that exist in the Bugis community.
TAFSIR QS. AN-NUR 24:32 TENTANG ANJURAN MENIKAH (Studi Analisis Hermeneutika Ma’na Cum Maghza) Winceh Herlena; Muads Hasri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2020): VOL 3, NO 1 (2020): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i1.7938

Abstract

Pada era sekarang, modal bisa dikatakan sebagai syarat utama untuk membangun rumah tangga. Namun Al-Qur’an berkata lain, Al-Qur’an menyerukan untuk menikah meskipun dalam keadaan fakir. Hal ini tentu saja mengalami kontradiksi dengan konteks sekarang yang mengharuskan modal sebelum pernikahan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut anjuran menikah dalam QS. An-Nur 24:32 dengan beberapa pertanyaan. Apa maksud dan tujuan QS. An-Nur 24:32 memerintahkan menikah meskipun dalam keadaan fakir ?, kemudian bagaimana signifikansi dari QS. An-Nur 24:32 diimplementasikan dalam konteks sekarang ?. Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini akan menggunakan teori hermeneutika ma’na cum maghza yang dipopulerkan oleh Sahiron Syamsuddin. Dari penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anjuran menikah dalam keadaan fakir bukanlah maksud dan tujuan utama dari QS. An-Nur 24:32, melainkan sebagai pembebas bagi para budak dan hamba sahaya, anjuran untuk lebih menghargai orang-orang yang tidak mampu, serta anjuran menikah bagi yang telah mampu