Winceh Herlena
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Unsur Lokalitas dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya AGH. Daud Ismail (Studi Analisis Psychological Hermeneutics terhadap QS. Al-Maidah 5:90) Winceh Herlena; Muads Hasri
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 9, No 2 (2020): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/jpkth.v9i2.3509

Abstract

Indonesian mufassir generally use Indonesian in interpreting the Al-Qur'an. However, the interpretation of AGH Daud Ismail uses the script lontara bugis to interpret the Al-Qur'an 30 Juz. Therefore, the author tries to see the aspects behind the use of the lontara script in the interpretation of AGH Daud Ismail.In addition, the author will also explore the locality elements shown in Daud Ismail's interpretation of the QS. Al-Maidah 5:90.This paper uses Schleiermacher's hermeneutic approach on psychological hermeneutics with a descriptive-analytic method.This paper concludes that: first, the use of the lontara script in this interpretation is an attempt to preserve the Bugis script which has begun to be abandoned at that time; second, in the interpretation of QS. Al-Maidah 5:90 contains terms and habits that exist in the Bugis community.
RESEPSI QUR’AN SURAH AL-FATIHAH DALAM LITERATUR KEISLAMAN PADA MASA ABAD PERTENGAHAN Winceh Herlena; Muads Hasri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 3, NO 2 (2020): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i2.7940

Abstract

Penelitian ini fokus terhadap kajian tentang “Resepsi QS.Al-Fatihah dalam Literatur keIslaman pada Abad Pertengahan”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena yang terjadi dimasyarakat yang masih kental dengan tradisi pembacaan surah al-Fatihah, diantaranya sebagai jimat, sebagai pengobatan seperti ruqyah, sebagai praktek ritual masyarakat seperti tahlilan, dsb. Fenomena-fenomena tersebut sudah menjadi sebuah tradisi yang umum dikalangan masyarakat. Namun, banyak orang yang belum mengetahui tentang tujuan-tujuan, dasar-dasar, dan sejarah awal mulanya praktek-praktek tersebut berasal. Oleh karena itu, dengan menggunakan teori informatif dan perfomatif yang digagas oleh Sam D. Gill maka penelitian ini bertujuan untuk mencari data-data darimana awal munculnya fenomena-fenomena tersebut direspon oleh masyarakat, dipahami dan diungkapkan serta berkembang dimasyarakat melalui literatur-literatur keIslaman pada masa abad pertengahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dari beberapa kitab resepsi yang ada, secara garis besar bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis kitab. Hal ini dapat dilihat dari kitab yang berbicara mengenai makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan ini diwakili oleh kitab al-Qurthubi, kitab yang amalan-amalan di dalamnya memiliki manfaat duniawi, seperti pengobatan dan ini diwakili oleh kitab Al-Nawawi, Al-Ghazali, dan Al-Dairabi.
PERAN AYAH DALAM PROSES PERTUMBUHAN ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Winceh Herlena
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.7939

Abstract

Artikel ini membahas tentang pandangan al-Qur’an terhadap peran ayah dalam proses perkembangan anak. Adapun yang menjadi fokus  kajian dalam penelitian ini adalah mengupas ayat-ayat Al-qur’an yang berkaitan dengan peran ayah dalam keluarga. Selain itu, artikel ini juga akan menggambarkan kisah ayah dalam Al-qur’an. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analisis dengan menggunakan pendekatan paradigma tafsir klasik-kontemporer. Dari analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: pertama, al-Qur’an menunjukkan peran yang seharusya diaplikasikan oleh seorang ayah dalam proses perkembangan anak-anaknya, salah satunya dengan memantau dan mengontrol keseharian anak, menanamkan nilai-nilai pendidikan, membangun kedekatan dan komunikasi yang baik bersama anak, dan memberi dukungan serta arahan yang baik. Kedua, beberapa ayat dalam al-Qur’an menggambarkan peran ayah yang memiliki cara tersendiri dalam mendidik anaknya, sehingga cara tersebut relevan untuk diaplikasikan dalam konteks kekinian. Sosok ayah yang dimaksud adalah Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub.
TAFSIR QS. AN-NUR 24:32 TENTANG ANJURAN MENIKAH (Studi Analisis Hermeneutika Ma’na Cum Maghza) Winceh Herlena; Muads Hasri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2020): VOL 3, NO 1 (2020): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i1.7938

Abstract

Pada era sekarang, modal bisa dikatakan sebagai syarat utama untuk membangun rumah tangga. Namun Al-Qur’an berkata lain, Al-Qur’an menyerukan untuk menikah meskipun dalam keadaan fakir. Hal ini tentu saja mengalami kontradiksi dengan konteks sekarang yang mengharuskan modal sebelum pernikahan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut anjuran menikah dalam QS. An-Nur 24:32 dengan beberapa pertanyaan. Apa maksud dan tujuan QS. An-Nur 24:32 memerintahkan menikah meskipun dalam keadaan fakir ?, kemudian bagaimana signifikansi dari QS. An-Nur 24:32 diimplementasikan dalam konteks sekarang ?. Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini akan menggunakan teori hermeneutika ma’na cum maghza yang dipopulerkan oleh Sahiron Syamsuddin. Dari penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anjuran menikah dalam keadaan fakir bukanlah maksud dan tujuan utama dari QS. An-Nur 24:32, melainkan sebagai pembebas bagi para budak dan hamba sahaya, anjuran untuk lebih menghargai orang-orang yang tidak mampu, serta anjuran menikah bagi yang telah mampu
TAFSIR QS. AN-NUR 24:32 TENTANG ANJURAN MENIKAH (Studi Analisis Hermeneutika Ma’na Cum Maghza) winceh herlena; Muhammad Muads Hasri
Jurnal Tafsere Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.303 KB)

Abstract

Pada era sekarang, modal bisa dikatakan sebagai syarat utama untuk membangun rumah tangga. Namun Al-Qur’an berkata lain, Al-Qur’an menyerukan untuk menikah meskipun dalam keadaan fakir. Hal ini tentu saja mengalami kontradiksi dengan konteks sekarang yang mengharuskan modal sebelum pernikahan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut anjuran menikah dalam QS. An-Nur 24:32 dengan beberapa pertanyaan. Apa maksud dan tujuan QS. An-Nur 24:32 memerintahkan menikah meskipun dalam keadaan fakir ?, kemudian bagaimana signifikansi dari QS. An-Nur 24:32 diimplementasikan dalam konteks sekarang ?. Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini akan menggunakan teori hermeneutika ma’na cum maghza yang dipopulerkan oleh Sahiron Syamsuddin. Dari penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anjuran menikah dalam keadaan fakir bukanlah maksud dan tujuan utama dari QS. An-Nur 24:32, melainkan sebagai pembebas bagi para budak dan hamba sahaya, anjuran untuk lebih menghargai orang-orang yang tidak mampu, serta anjuran menikah bagi yang telah mampu. Kata kunci: QS. An-Nur, menikah, maghza.