Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Serat Bendrat Dan Abu Sekam Padi Terhadap Kuat Geser Balok Beton Bertulang Slamet Prayitno; Supardi Supardi; Mohamad Fahrurrozi
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.553 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36937

Abstract

Beton sangat populer digunakan dalam struktur bangunan, karena merupakan bahan konstruksi yang mempunyai banyak kelebihan, diantaranya mudah dikerjakan dan ketersediaan material. Sebagai upaya meningkatkan kualitas beton, maka dilakukan penelitian untuk menemukan, menggabungkan, dan merekayasa suatu material. Penelitian ini menggunakan beton serat dengan bahan tambah serat bendrat dan abu sekam padi, sehingga beton akan lebih mampu membatasi dan mencegah berkembangnya retak yang lebih besar, serta menjadikan beton serat lebih daktail daripada beton biasa. Parameter yang ditinjau dari kuat tekan dan kuat geser. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilaksanakan di laboratorium Bahan UNS. Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujiankuat tekan,8 cm x 12 cm x 100 cm untuk pengujian kuat geser. Benda uji masing-masing berjumlah 3 buah untuk 1 variasi kadar penambahan serat bendrat. Persentase serat bendrat yang digunakan adalah 0%; 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2%. Pengujian menggunakan alat CTM (Compression Testing Machine) untuk kuat tekan dan Loading Frame untuk kuat geser. Hitungan analisis menggunakan bantuan program Microsoft Excel. Dari analisis hasil penelitian diperoleh peningkatan nilai kuat tekan beton, menurut grafik polynomial dapat disimpulkan bahwa, ada kenaikan nilai kuat tekan beton dengan penambahan serat bendrat, hingga mencapai optimum yaitu pada kadar bendrat 0,99%.sebesar 24,77 MPa. Dengan defleksi optimum, menurut grafik polynomial pada balok beton dengan kadar serat bendrat 0,85% (SB-1%) sebesar 2,17 mm, untuk pembebanan saat retak pertama dan kadar serat bendrat 1,19% (SB-1%) sebesar 4,88 mm untuk beban maksimum. Nilai kuat geser kadar optimum penambahan serat bendrat dan abu sekam padi adalah pada kadar 0,98% (SB-1%) sebesar 23,16 kN.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PONDOK PESANTREN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) TERHADAP NILAI DEMOKRATIS SISWA Mohamad Fahrurrozi; Vera Septi Andrini; Erdyna Dwi Etika
Dharma Pendidikan Vol 18 No 2 (2023): Dharma Pendidikan
Publisher : STKIP PGRI Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69866/dp.v19i2.490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter demokratis di MA AZ-ZAIN Lengkong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitiannya adalah guru dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan langkahlangkah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan cross check, triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan karakter demokratis di MA AZ-ZAIN dilakukan melalui (1) program pengembangan diri meliputi kegiatan rutin berupa siswa bergiliran memimpin berbaris di depan kelas sebelum masuk kelas, memimpin berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran dan membaca surat pendek, setiap hari siswa berdiskusi, presentasi dan tanya jawab; kegiatan spontan dengan memberikan peringatan, dan himbauan jika perilaku siswa kurang baik; keteladanan guru dengan bersikap demokratis; pengkondisian berupa pembentukan kelompok serta posisi duduk dibuat perkelompok (2) pembelajaran meliputi guru mencantumkan nilai karakter demokratis dalam silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yaitu disiplin dan percaya diri, menggunakan metodologi yang memungkinkan siswa menginternalisasi nilai karakter demokratis berupa diskusi, ceramah, tanya jawab, karya wisata, penugasan dan permainan; siswa diberi kesempatan menyajikan hasil pekerjaannya dengan presentasi dan evaluasi dilakukan dua arah; (3) budaya kelas dengan menciptakan iklim kelas yang mencerminkan karakter demokratis dengan membiasakan siswa bermusyawarah, mengangkat tangan sebelum berpendapat dan melatih siswa berdiskusi; (4) kendala yang dialami adalah kondisi kelas kurang kondusif karena siswa terlalu banyak, serta ruang kelas kurang begitu luas sehingga terkadang siswa ramai. This study aims to describe the implementation of democratic character education at MA AZ-ZAIN Lengkong.This research is a qualitative descriptive study. The research subjects were teachers and students. Data collection techniques used are observation, interviews and documentation. Data were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity checking techniques use cross check, technique triangulation and source triangulation.The results of the study show that democratic character education in MA AZ-ZAIN is carried out through (1) self-development programs including routine activities in the form of students taking turns leading the class before entering class, leading prayers before and after learning and reading short letters, every day students discuss, presentations and questions and answers; spontaneous activities by giving warnings, and appeals if student behavior is not good; exemplary teacher by being democratic; conditioning in the form of forming groups and sitting positions are made in groups (2) learning includes the teacher including democratic character values in the syllabus and Learning Implementation Plan namely discipline and self-confidence, using a methodology that allows students to internalize democratic character values in the form of discussions, lectures, question and answer, field trips , assignments and games; students are given the opportunity to present the results of their work with a two-way presentation and evaluation; (3) class culture by creating a classroom climate that reflects democratic character by accustoming students to deliberations, raising their hands before giving opinions and training students to discuss; (4) the obstacles experienced were that the class conditions were not conducive because there were too many students, and the classrooms were not so wide that sometimes students were crowded.