Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Istilah Kekerabatan Bahasa Indonesia dan Bahasa Minangkabau: Analisis Kontrastif dalam Pemelajaran Bahasa Fairul Zabadi
Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/imajeri.v3i1.5605

Abstract

Penelitin ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan sistem dan istilah kekerabatan di dalam bahasa Indonesia dan bahasa Minangkbau berdasarkan analisis konstraktif. Metode yang digunakan dalam penenltian ini adalah kulaitatif dengan teknik analisis isi. Data penelitian berupa istilah-istilah kekerabatan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau. Data tersebut bersumber dari sembilan kamus bahasa Indonesia dan kamus Minangkabau serta wawancara langsung atau tidak langsung. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa istilah kekerabatan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabu berbeda dalam jumlah, tetapi sama dalam hal hieraki dari atas ke bawah dengan titik acuan EGO. Istilah kekerbatan dalam bahasa Indonesia ada tujuh belas, yaitu anak, cucu, cicit, piut, bapak, ibu, kakek, nenek, moyang, buyut, paman, bibi, kakak, adik, sepupu, anggas. dan kemenakan. Istilah-istilah tersebut memiliki hubungan empat tingkat di atas EGO dan lima tingkat di bawah EGO. Sementara itu, istilah kekerabatan dalam bahasa Minangkabau berjumlah delapan belas, yaitu anak, cucu, cicik, piuk, (b)apak, (a)mak, uwak/uwo, ayek/angku, niniak//inyiak, pak tuo, pak etek, mak tuo, etek (ma)mak tuo, (ma) etek, (ma)maka tunggano, uni, uda, adiak. dan kamanakan. Istilah-istilah tersebut memiliki hubungan lima tingkat di atas EGO dan empat tingkat di bawah EGO.
Pemetaan Penguasaan Kosakata Budaya Dasar Penutur Jati Bahasa Kafoa sebagai Wahana Pemelajaran Bahasa Daerah: - Fairul Zabadi
Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/imajeri.v4i1.7521

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memetakan penguasaan kosakata budaya dasar bahasa Kafoa di Nusa Tenggara Timur oleh penutur jati agar dapat dimanfaatkan sebagai wahana pemelajaran bahasa daerah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui teknik kuisioner dan tanya jawab. Data penelitian berupa jawaban informan terhadap kuisoner yang sudah disiapkan dan tanya jawab langsung. Data tersebut bersumber penutur jati bahasa Kafoa yang terdiri atas penutur berusia di atas 25 tahan dan di bawah 25 tahan yang berasal dari Desa Probur Utara. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berdasarkan 446 kosakata badaya dari sembilan ranah yang ditanyakan, kosakata kata yang dikuasai berjumlah 376 (84,30%) dan yang tidak dikuasai berjumlah 70 kosakata (15,70%). Kosakata yang tidak dikuasai tersebut sersebar pada kedua kelompok penutur jati, yaitu penutur di atas 25 tahun sebanyak 21 kosakata (30%) dan penutur di bawah 25 tahun sebanyak 49 kosakata (70%). Sementara itu, kosakata yang tidak dikuasai oleh penutur di bawah 25 tahun, tapi dikuasai penutur di atas 25 tahun berjumlah 28 kosakata (40%). Oleha karena itu, kosakata budaya yang tidak dikuasai penutur jati tersebut menjadi prioritas dalam pembelajaran bahasa daerah di Kabupaten Alor, NTT, sehingga vitalitasnya dapat terus terjaga. Kata kunci: Pemetaan; Kosakata Budaya; Penutur Jati: Kepunahan. Abstract This study aims to map the mastery of basic cultural vocabulary of the Kafoa language in East Nusa Tenggara by native speakers so that it can be used as a vehicle for learning local languages. The method used is descriptive qualitative through questionnaire technique. The research data are informants' answers to the prepared questionnaires and direct questions and answers. The data is sourced from native speakers of the Kafoa language, consisting of speakers aged over 25 and under 25 from North Probur Village. The results showed that based on 446 basic cultural vocabularies from the nine domains asked, the vocabulary mastered was 376 (84.30%) and 70 vocabularies were not mastered (15.70%). The vocabularies that are not mastered are spread over the two groups of native speakers, namely speakers over 25 years old with 21 vocabularies (30%) and speakers under 25 years old with 49 vocabularies (70%). Meanwhile, the vocabulary that is not mastered by speakers under 25 years old, but mastered by speakers over 25 years is 28 vocabularies (40%). Therefore, the cultural vocabulary that is not mastered by native speakers becomes a priority in learning local languages ​​in Alor Regency, NTT, so that its vitality can be maintained. Keywords: Mapping; Cultural Vocabulary; Native speakers; Extinction.
LEKSEM SIKAP BATIN DALAM BAHASA INDONESIA: STUDI ANALISIS ISI TENTANG PERUBAHAN MAKNA Fairul Zabadi
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 10 No 1 (2022): Gramatika, Volume X, Nomor 1, Januari--Juni 2022
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31813/gramatika/10.1.2022.424.38--50

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan menemukan perubahan makna yang terjadi pada leksem sikap batin (LSB) pada ranah afektif, tabiat, dan kognitif. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif melalui penjelasan data secara komprehensif sehingga diperoleh simpulan yang akurat.. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berdasarkan 130 LSB yang ditemukan, ada tujuh belas LSB yang mengalami perubahan makna melalui perluasan makna, penyempitan makna, metafora. Perluasan makna terjadi pada leksem: bahagia, senang, rawan, takut, panggak, perkasa, hormat, santun, dan tobat; penyempitan makna terjadi pada leksem gembira, pongah, congkak, dan percaya; dan melalui metaforis terjadi pada leksem gondok, gentar, kecut, dan celik. Kata Kunci: sikap batin, leksem, peluasan makna, penyempitan makna Abstract This article aims to find semantic changes that occur in attitudinal lexeme (LSB) in the affective, behavioral, and cognitive domains. The research method uses descriptive qualitative through a comprehensive explanation of data in order to obtain accurate conclusions. The results show that based on 130 LSB found, there are seventeen LSB that experience semantic changes through widening of meaning, narrowing of meaning, and metaphors. Widening of meaning in the lexeme: happy, happy, vulnerable, afraid, proud, mighty, respectful, polite, and repentant; narrowing of meaning occurs in happy, arrogant, arrogant, and trusting lexemes; and through metaphors occurs in the lexemes goiter, tremble, wry, and celiac. Keywords: attitudinal, lexeme, widening of meaning, narrowing of meaning