Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fungsi Dan Makna Caru Lantang Di Desa Adat Bugbug Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Ketut Dani Budiantara
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Adat Bugbug sampai saat ini masih melestarikan adat dan budaya leluhur. Hal ini terlihat dalam kegiatan yang berkaitan dengan upacara adat terutama dalam melaksanakan upacara Panca Yadnya. Caru Lantang merupakan salah satu upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Adat Bugbug. Sesuai dengan namanya Caru ini digelar memanjang di sepanjang jalan desa yang panjangnya empat ratus meter, dilaksanakan sepuluh tahun sekali. Caru Lantang tergolong Caru yang amat langka dan unik, karena dilaksanakan sepuluh tahun sekali memanjang di sepanjang jalan Desa Adat Bugbug. Disamping tergolong langka dan unik, juga belum pernah dilakukan kajian mendalam tentang fungsi dan makna Caru Lantang di desa Adat Bugbug. Berkaitan dengan itu, kajian difokuskan untuk mendeskripsikan fungsi dan makna Caru Lantang di Desa Adat Bugbug tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan empiris. Jenis penelitian kualitatif, penentuan subjek penelitian purposive sampling. Jenis data digunakan data kualitatif, sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen; serta analisis data deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Berdasarkan hasil pembahasan disimpulkan bahwa fungsi Caru Lantang di Desa Adat Bugbug yaitu fungsi religius, edukatif, kebersamaan, pelestarian budaya, sosiologis dan ekologis. Sedangkan makna Caru Lantang di Desa Adat Bugbug yaitu bermakna (1) keseimbangan alam guna terwujudnya keharmonisan, ketenangan dan kedamaian, (2) kemakmuran Desa Adat Bugbug, (3) wujud syukuritas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
MENYAMA BRAYA SEBAGAI PONDASI PRAKTEK MODERASI BERAGAMA MASYARAKAT HINDU-ISLAM DI DESA SERAYA-BUKIT KABUPATEN KARANGASEM I Ketut Dani Budiantara; Ni Putu Diah Untari Ningsih
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2022): Vol. 12 No.2. Tahun 2022
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.969 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v12i2.1777

Abstract

This study aims to examine and determine (1) the dynamics of social relations between the Hindu and Islamic communities in Seraya-Bukit Village, Karangasem, (2) the views of the Hindu and Islamic communities in Seraya-Bukit Village, Karangasem on the value of menyama braya, and (3) the form of the relationship between menyama braya in social life in Seraya-Bukit Village, Karangasem. This research was carried out in Karangasem by taking samples in Seraya and Bukit villages, areas inhabited by some Hindus and Muslims. This research is categorized as a type of qualitative research, with an empirical approach, which is an approach in which the symptoms to be investigated have existed naturally (real situation). The data in this study were collected by observation or field recording methods, interview methods, and document recording. Data analysis in this study uses the Miles and Huberman model, which in detail describes the data collection, condensation, display and conclusion drawing/verifying. The results of this study are (1) the dynamics of social relations between Hindu and Islamic communities in Seraya-Bukit Village, Karangasem in menyama braya has three reasons that are the basis for continuing to carry out menyama braya in Seraya-Bukit Village, namely historical factors, ideology, and traditions of togetherness. (2) The views of the Hindu and Islamic communities in Seraya-Bukit Village, Kararangasem on the value of Menyama Braya is defined as a social interaction that respects differences in ethnicity, religion and language. Muslims, the teaching of menyama braya is almost the same as the concept of Ukhuwah Islamiyah and Rahmatan Lil Alamin. (3) The form of the Menyama Braya Relationship in Social Life in Seraya-Bukit Village, Karangasem can be explained through several activities as one of the evidences that show this is cultural acculturation between Hindus and Muslims, such as: ngejot, madelokan, mapitulung, magibung, mutual cooperation, use of shared facilities, kebuli, village regulation systems, and use of language. Keywords: menyama braya, religious moderation, Hindu-Islam, Seraya-Bukit village.