Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Related factors with Diabetes Mellitus type II events at posyandu lansia of Puskesmas Pisang Baru Subdistrict Bumi Agung District Way Kanan Anggie Stiexs; Dian Arif Wahyudi; Didi siswanto; Widia Astuti
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No S1: Supplement
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.755 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8iS1.1726

Abstract

Elderly experience a lot of decline in both physical and mental function, one of the degenerative diseases that become an important problem in elderly is diabetes mellitus (DM) where the type of DM in the elderly is generally DM type II number of elderly as many as 100,390 people and recorded that suffered diabetes mellitus of 1,614 inhabitants (Right Way Health Office, 2017). This study aims to determine the relationship between obesity, physical activity, age with the incidence of type II Diabetes Mellitus in participants in Posyandu elderly working area of PisangBaruPuskesmas, the type of research using quantitative research with cross sectional approach, the population is all elderly in the work area of Pisangmas Baru Bumi Agung District, Way Kanan District in 2018 amounted to 358 people and sampled as many as 189 elderly by accidental sampling. The analysis used chi-square test (p = 0,05). The result of the research was obtained: IMT variable p-value = 0,001, physical activity variable p-value = 0,001, age p-value = 0,001, so it was concluded that there was a significant correlation between obesity, physical activity and age with type II diabetes mellitus work Puskesmas Pisang Baru Sub District Bumi Agung District Way Kanan in 2018. Suggestion that writer ask is: to improve quality and performance of health officer in implementation of poyandu elderly with posyandu routine every month, weekly elderly gymnastics once and once monthly, socialization of nutrition menu balance for elderly accompanied with nutrition consultation for patient of diabetes mellitus. Abstrak: Lansia mengalami banyak penurunan fungsi baik fisik dan mental, salah satu penyakit degeneratif yang menjadi masalah penting pada lansia adalah diabetes mellitus (DM) dimana jenis  DM pada lansia umumnya adalah DM tipe II Total Lansia sebanyak 100.390 jiwa dan dicatat yang menderita diabetes mellitus  sebesar 1.614 jiwa ( Dinkes Way Kanan, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks masa tubuh, aktivitas fisik, usia dengan kejadian Diabetes Millitus tipe II pada peserta di posyandu lansia wilayah kerja Puskesmas Pisang Baru, jenis penelitian menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, populasinya adalah seluruh lansia dalam wilayah kerja Puskesmas Pisang Baru Kecamatan Bumi Agung Kabupaten Way Kanan tahun 2018  berTotal 358  orang dan diambil sampel sebanyak 189 lansia dengan cara accidental sampling. Analisis penelitian menggunakan uji chi square (p=0,05). Hasil penelitian diperoleh: variable IMT p-value= 0,001, variable aktifitas fisik p-value = 0,001, variable usia p-value = 0,001, sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara obesitas, aktivitas fisik, dan usia dengan kejadian diabetes mellitus tipe II  wilayah kerja Puskesmas Pisang Baru Kecamatan Bumi Agung Kabupaten Way Kanan tahun 2018. Saran yang penulis ajukan adalah: meningkatkan mutu dan kinerja petugas kesehatan dalam pelaksanaan poyandu Lansia dengan posyandu rutin setiap bulan, senam lansia 1 minggu sekali dan pemeriksaan rutin 1 bulan sekali, sosialisasi menu gizi seimbang untuk lansia disertai dengan konsultasi gizi untuk penderita diabetes mellitus.
Faktor Determinan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan Di Puskesmas Ketapang Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Intan Maharani; Masayu Dian Khairani; Mayesti Akhriani; Dian Arif Wahyudi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3659

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi kronis terhambatnya pertumbuhan karena mengalami malnutrisi dalam jangka waktu yang lama. Anak di diagnosis mengalami stunting apabila Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dengan nilai z-score -3 SD sampai dengan <-2 SD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor determinan apa saja yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Ketapang Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara. Setelah menerima etichal clearance dari Universitas Aisyah Pringsewu kemudian dilaksanakan penelitian dengan metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan desain Cross-Sectional. Total Populasi 132 Balita, sampel 65 Balita dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 6 Januari sampai 27 Januari. Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Ketapang. Instrument yang digunakan adalah Microtois, buku foto makanan, formulir food recall 2x24 jam dan kuisioner. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Uji Gamma. Berdasarkan hasil recall 2x24 jam didapatkan rata-rata tingkat kecukupan energi 60%, protein 126%, lemak 76% dan karbohidrat 46%. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi gamma diperoleh tingkat kecukupan energi dengan nilai (P-value=0,003 dan r=0,602) ), tingkat kecukupan protein (P-value=0,028 dan r=0,435), tingkat kecukupan lemak (P-value=0,002 dan r=0,489), tingkat kecukupan karbohidrat (P-value=0,021 dan r=0,681).Berdasarkan hasil uji korelasi gamma dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara tingkat kecukupan zat gizi makro dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Ketapang Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara dengan nilai P-value (< 0,05). Diharapkan bagi ibu balita supaya menerapkan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan balita serta akses bahan makanan yang tepat, lebih memperhatikan mengenai tingkat kecukupan zat gizi energi dan karbohidrat pada balita, agar gizi balita dapat terpenuhi dan mencegah terjadinya kekurangan gizi kronis.