Selly Astriana
Universitas Sebelas Maret

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN JOB EMBEDDEDNESS DAN BUDAYA KOLEKTIVISME PADA KARYAWAN GENERASI X DAN Y DI PLTD SIANTAN, KALIMANTAN BARAT Anjini Sutampi; Aditya Nanda Priyatama; Selly Astriana
Psibernetika Vol 11, No 2 (2018): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.36 KB) | DOI: 10.30813/psibernetika.v11i2.1440

Abstract

 ABSTRACT: The company currently recognizes two types of workforce generations based on age, namely generation X and generation Y. Both generations have different characteristics, one of them is job embeddedness. Job embeddedness rate was found the highest in an organization with collectivism. An organizational culture that is developed in various companies in Indonesia is the collectivism culture, one of them is in PLTD Siantan, Kalimantan Barat.This study aims to (1) find out the differences in the tendency of job embeddedness on generation X and generation Y employees in terms of collectivism culture, (2) find out the differences of job embeddedness tendency in generation X and generation Y employees; (3) find out the differences of collectivism culture on generation X employees and generation Y in  PLTD Siantan, Kalimantan Barat.This study uses 69 samples of PLTD Siantan employees. The instruments used are job embeddedness scale and collectivism culture scale. The anava result shows that there is a difference in the tendency of job embeddedness in employees of generation X and generation Y in terms of collectivism culture of PLTD Siantan, Kalimantan Barat. The result shows that there is a difference of job embeddedness on generation X employees and generation Y employees. There are also cultural differences collectivism in generation X employees and generation Y employees. This means that hypothesis 1, hypothesis 2, and hypothesis 3 are accepted.Keywords:job embeddedness, collectivism culture,generation X and generation ABSTRAK: Perusahaan saat ini mengenal dua jenis generasi tenaga kerja berdasarkan rentang usia, yaitu generasi X dan generasi Y. Kedua generasi tersebut memiliki perbedaan karakteristik, salah satunya adalah job embeddedness. Tingkat job embeddedness ditemui paling tinggi pada organisasi dengan budaya kolektivisme. Budaya organisasi yang berkembang di berbagai perusahaan di Indonesia adalah budaya kolektivisme, salah satunya adalah PLTD Siantan, Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perbedaan kecenderungan job embeddedness pada karyawan generasi X dan Y ditinjau dari budaya kolektivisme, (2) Mengetahui perbedaan kecenderungan job embeddedness pada karyawan generasi X dan Y, (3) Mengetahui perbedaan budaya kolektivisme pada karyawan generasi X dan Y PLTD Siantan, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan seluruh anggota populasi sebanyak 69 karyawan PLT Siantan. Instrumen yang digunakan adalah skala job embeddedness, dan budaya kolektivisme. Berdasarkan hasil anava, menunjukkan perbedaan kecenderungan job embeddedness pada karyawan generasi X dan generasi Y ditinjau dari budaya kolektivisme PLTD Siantan, Kalimantan Barat. Berdasarkan hasil analisis perbedaan rerata menunjukkan perbedaan job embeddedness pada karyawan generasi X dan karyawan generasi Y. Selain itu, terdapat juga perbedaan budaya kolektivisme pada karyawan generasi X dan karyawan generasi Y. Hal ini menjelaskan bahwa hipotesis penelitian 1, 2, dan 3 diterima.Kata kunci: job embeddedness, budaya kolektivisme, generasi X dan Y
Hubungan Antara Persepsi Dukungan Organisasi dengan Perilaku Kewargaan Organisasional pada Karyawan PT. X Ayu Larasati; Selly Astriana
Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa Vol 9, No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jip.v9i1.77090

Abstract

Perilaku kewargaan organisasional adalah segala tindakan sukarela yang dilakukan karyawan di luar tugas resmi perusahaan sehingga meningkatkan efektivitas kinerja perusahaan. Salah satu faktor penentu perilaku kewargaan organisasional pada karyawan adalah persepsi dukungan organisasi. Persepsi dukungan organisasi adalah kepercayaan bahwa perusahaan memberikan apresiasi yang sesuai atas kontribusi karyawan serta memiliki kepedulian terhadap karyawan. Persepsi dukungan organisasi dapat membentuk tanggung jawab, perasaan positif, dan identifikasi diri dengan perusahaan sehingga dapat meningkatkan kecenderungan perilaku kewargaan organisasional pada karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara persepsi dukungan organisasi dengan perilaku kewargaan organisasional. Dalam penelitian ini, hubungan kedua variabel tersebut diteliti pada 124 karyawan PT. X yang berpusat di Karanganyar, Jawa Tengah. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan metode quota sampling dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 71 karyawan laki-laki dan 53 karyawan perempuan dalam rentang usia 19–55 tahun. Persepsi dukungan organisasi diukur menggunakan hasil adaptasi dan modifikasi skala persepsi dukungan organisasi milik Eisenberger et al. (1986) dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,849. Perilaku kewargaan organisasional diukur menggunakan skala perilaku kewargaan organisasional yang disusun oleh peneliti dengan koefisien reliabilitas 0,904. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dan didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi dukungan organisasi dengan perilaku kewargaan organisasional pada karyawan PT. X.
Hubungan Perceived Social Support dengan Self-Regulated Learning Siswa Kelas XI SMAN “X” Surakarta Mita Rahmalia; Selly Astriana
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1068-1080

Abstract

Self-regulated learning merupakan kemampuan penting yang memungkinkan siswa mengelola proses belajarnya secara mandiri, mulai dari perencanaan, pelaksanaan strategi belajar, hingga evaluasi hasil belajar. Kemampuan ini semakin krusial di era pendidikan modern Indonesia, khususnya pada Kurikulum Merdeka yang menuntut siswa untuk aktif, mandiri, dan adaptif dalam menghadapi berbagai tuntutan akademik. Namun, tidak semua siswa memiliki kemampuan self-regulated learning  yang optimal, dan salah satu faktor yang diduga berperan adalah perceived social support atau dukungan sosial yang dirasakan. Dukungan sosial yang berasal dari keluarga, teman sebaya, maupun orang spesial dapat memberikan rasa aman, motivasi, serta kepercayaan diri yang diperlukan siswa untuk mengatur belajarnya secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perceived social support dengan self-regulated learning pada siswa kelas XI SMAN “X” Surakarta. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik convenience sampling dan pengumpulan data melalui kuesioner. Instrumen yang digunakan meliputi Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) untuk mengukur self-regulated learning dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur perceived social support. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi linier sederhana Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi 0.063 (p > 0.05) dengan koefisien rho 0.190, sehingga hipotesis tidak diterima. Dengan demikian, kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan signifikan antara perceived social support dan self-regulated learning pada siswa kelas XI SMAN “X” Surakarta. Abstract Self-regulated learning is an essential ability that enables students to manage their learning processes independently, including planning, implementing learning strategies, and evaluating learning outcomes. This ability has become increasingly crucial in the context of modern education in Indonesia, particularly under the Merdeka Curriculum, which requires students to be active, independent, and adaptive in meeting various academic demands. However, not all students demonstrate optimal self-regulated learning, and one factor suspected to influence this ability is perceived social support. Social support from family, peers, and significant others may provide a sense of security, motivation, and confidence that students need to regulate their learning effectively. This study aims to examine the relationship between perceived social support and self-regulated learning among eleventh-grade students at SMAN “X” Surakarta. The research employed a survey method using convenience sampling, with data collected through questionnaires. The instruments used were the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) to measure self-regulated learning and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure perceived social support. Data were analyzed using Spearman’s Rho simple linear correlation. The results showed a significance value of 0.063 (p > 0.05) and a rho coefficient of 0.190, indicating that the hypothesis was not supported. Thus, this study concludes that there is no significant relationship between perceived social support and self-regulated learning among eleventh-grade students at SMAN “X” Surakarta.