I Gusti Ayu Ketut Yuni Masriastri
Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PROFESIONALISME PUSTAKAWAN DALAM ERA DIGITAL I Gusti Ayu Ketut Yuni Masriastri; Elekmida Sinaga
Tampung Penyang Vol 17 No 02 (2019): Tampung Penyang
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/tampung-penyang.v17i01.432

Abstract

AbstrakProfesionalisme pustakawan dapat diartikan sebagai kegiatan perpustakaan yang dilaksanakan berdasarkan keahlian, tugas pokok dan fungsi dan yang utama adalah rasa tanggung jawab pustakawan sebagai pengelola perpustakaan. Tanggung jawab seorang pustakawan merupakan suatu proses kerja yang didasari rasa tanggung jawab dan bukan hanya sekedar pekerjaan yang menjadi rutinitas. Tanggung jawab dalam pekerjaan harus dibarengi dengan upaya-upaya untuk menghasilkan karya atau kinerja yang lebih baik lagi melalui prosedur kerja yang benar.Tulisan ini membahas pengaruh era digital terhadap peningkatan profesionalisme pustakawan, dimana pustakawan sebagai ujung tombak kemajuan dan perkembangan perpustakaan. Oleh karena itu diharapkan membekali diri dan menggali potensi yang bermanfaat bagi organisasi induknya. Era digital merupakan tantangan berat bagi pustakawan tetapi sebaliknya mempermudah kegiatan kepustakawanan karena semua dikerjakan dengan digital. Sesuai latar belakang penulis seorang pustakawan (librarian) maka konsep era digital yang dibahas dalam tulisan ini diarahkan pada profesionalisme pustakawan.Kata Kunci : Pustakawan, Profesionalisme, Era Digital, Teknologi dan Informasi
Memaknai Perpustakaan Sebagai Rumah Betang I Gusti Ayu Ketut Yuni Masriastri
Tampung Penyang Vol 19 No 1 (2021): Tampung Penyang
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/tampung-penyang.v19i01.669

Abstract

Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi artinya segala jenis ilmu pengetahuan, hasil penelitian, adat istiadat suatu daerah bahkan sejarah suatu daerah dan negara terdapat di dalam sebuah perpustakaan. Perpustakaan diibaratkan seperti suatu rumah yang ditempati oleh banyak orang dengan berbagai macam keyakinan, dari latar belakang yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama. Rumah betang adalah rumah adat suku dayak ngaju Kalimantan tengah yang sampai saat ini masih ada dan masih ditempati oleh masyarakat. Rumah betang merupakan rumah adat dengan ukuran besar yang bisa ditinggali oleh 100-200 orang. Mereka yang tinggal disana memiliki latar belakang serta keyakinan berbeda tetapi selalu hidup rukun penuh toleransi dan damai. Filosofi rumah betang sampai saat ini masih dijadikan dasar oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Filosofi rumah betang tersebut sesuai dengan peran dan nilai yang terkandung dalam perpustakaan dalam fungsinya sebagai pusat sumber informasi bagi masyarakat. Empat filosofi rumah betang yaitu (1) hidup rukun dan damai walau terdapat banyak perbedaan (2) bergotong royong (3) menyelesaikan perselisihan dengan damai dan kekeluargaan (4) menghormati leluhur
Disrupsi Diri Pustakawan Era Industri 4.0 Perspektif Kitab Sarasamucaya I Gusti Ayu Ketut Yuni Masriastri
Tampung Penyang Vol 21 No 1 (2023): Tampung Penyang
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/tampung-penyang.v21i1.1021

Abstract

Libraries as one of the institutions managing information sources keep up with the times and are dominated by shifts in science and technology. This is the influence of current trends and global developments as well as the information needs of library visitors. To achieve this, self-disruption of libraries and librarians must be implemented. The disruption referred to here is that libraries and librarians open themselves to changes caused by the very rapid development of digital technology. Apart from self-disruption, increasing the competence of librarians also plays an important role in dealing with digital technology. This study aims to describe the application of Hindu values ​​in the Sarasamuccaya book to the ethics and morals of librarians in working to face the disruption of the digital technology industry 4.0. This is contained in several sloka, namely: sloka 58, sloka 60 and sloka 62. This study is library research on research results and books that are relevant to the disruption of librarians towards digital industry 4.0. Library research is defined as a theoretical study, the object of which is references or other scientific literature such as books that are related to the study being carried out.
Perpustakaan sebagai Pusat Pengetahuan: Literature Review Konsep Belajar dalam Bhagavad Gita I Gusti Ayu Ketut Yuni Masriastri
Tampung Penyang Vol 23 No 1 (2025): Tampung Penyang
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/tampung-penyang.v23i1.1473

Abstract

Perpustakaan telah berevolusi dari sekadar tempat penyimpanan buku menjadi pusat pengetahuan yang dinamis, memainkan peran penting dalam pendidikan, informasi, penelitian dan pelestarian budaya. Bhagavad Gita yang merupakan teks suci agama Hindu menawarkan wawasan mendalam tentang konsep belajar, pengetahuan (jnana) dan kebijaksanaan melalui jalan karma yoga, jnana yoga dan bhakti yoga. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi persimpangan konseptual antara peran perpustakaan modern dan konsep belajar dalam Bhagavad Gita. Metode yang digunakan yaitu studi literatur dengan menganalisis artikel jurnal akademik dan buku. Penelitian ini mengidentifikasi antara fungsi perpustakaan dalam memfasilitasi akses informasi (sravanam) dan mendukung refleksi (manana) dengan tahapan awal jnana yoga. Penelitian ini juga menganalisis potensi perpustakaan untuk memperluas perannya dari penyedia pengetahuan duniawi (apara vidya) menjadi fasilitator kebijaksanaan dan pemahaman diri (para vidya) serta relevansi kerangka etika Bhagavad Gita (dharma dan nishkama karma) bagi praktik dan manajemen perpustakaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan Bhagavad Gita dapat memperkaya konsep perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, menawarkan landasan filosofis untuk layanan yang lebih holistik dan transformatif.