Hotmatua Paralihan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara Islam dan Demokrasi Hotmatua Paralihan
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 10 No 1 (2019): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.705 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v10i01.2109

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi hubungan demikrasi dan Islam. Demokrasi bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, tetapi mewujudkan ajaran Islam itu wajib dalam kehidupan bernegara. Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang memerintahkan untuk bermusyawarah. Juga dicontohkan oleh para shahabat Nabi, bahkan Tuhan menyatakan bahwa pemerintahan yang Islami adalah khilafah. Dan khilafah ditandai antara lain dengan syura (musyawarah). Dunia yang semakin menggelobal menciptakan keterkaitan, dan ketergantungan satu dengan yang lain semakin kuat, namun kenyataannya di masyarakat kesenjangan semakin menganga, baik antar individu mapun kelompok atau Negara. Menurut Ronald F. Inglehart, peneliti bidang ekonomi dan politik Universitas Michigen, “populis terjadi dua faktor, kesenjangan sosial, dan benturan kebudayaan”. Inilah diantara pemicu munculnya politik identitas. Dalam konteks ke Indonesiaan Politik Identitas dipersubur antara lain: oleh kesenjangan sosial, lemahnya literasi, buruknya kelembagaan politik, polarisasi politik yang tidak merata. Politik identitas sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak sendi-sendi kehidupan bernegara bahkan bertentangan dengan nilai kemanusiaan, dan keadilan.
Ketidaksetaraan gender dalam produksi kapas kolonial indonesia: analisis berbasis kerangka empire of cotton Muhammad Zahran Yassar Napitupulu; Hotmatua Paralihan
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 2 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036639000

Abstract

Penelitian ini menganalisis ketidaksetaraan gender dalam produksi kapas di Indonesia pada masa kolonial dengan menggunakan kerangka Empire of Cotton yang dikembangkan oleh Sven Beckert. Berbeda dari kajian sebelumnya yang cenderung menempatkan perempuan sebagai aktor domestik pasif, artikel ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan tenaga kerja utama dalam hampir seluruh tahapan produksi kapas, mulai dari penanaman, pemetikan, pemrosesan serat, hingga pemintalan dan penenunan. Metode yang digunakan adalah studi literatur historis-kritis dengan analisis tematik terhadap sumber akademik, arsip kolonial terpublikasi, dan penelitian sejarah ekonomi Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa invisibilitas kerja perempuan tidak semata disebabkan oleh budaya patriarkal lokal, melainkan merupakan bagian dari struktur kapitalisme kolonial global yang memindahkan nilai tambah ke pusat industri metropolitan. Perempuan mengalami double exploitation, yakni eksploitasi ekonomi sebagai tenaga kerja murah dan subordinasi sosial berbasis gender. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pembacaan ulang sejarah ekonomi kapas Indonesia melalui perspektif gender dan dekolonial, yang menempatkan perempuan sebagai aktor produktif sentral dalam pembentukan kapitalisme global.