Eka Putra Wirman
Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LIMA PERSOALAN AKAL MENURUT MUHAMMAD ABDUH BERDASARKAN BUKU HASYIAH Eka Putra Wirman
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.83

Abstract

Di antara pendapat krusial Muhammad Abduh tentang teologi dalam bukunya Hasyiah adalah, Manusia wajib menganalisis keberadaan Allah dan alam semesta berdasarkan nash dan ijtima‟ ulama. Namun akal tidak punya otoritas mewajibkan manusia mengetahui Tuhan dan menentukan baik dan buruk, halal dan haram, kewajiban berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Semuanya itu adalah otoritas wahyu bukan akal. Akal tidak boleh memberikan kewajiban kepada Allah untuk memelihara kemaslahatan manusia. Tidak ada kewajiban Allah untuk menjga kemaslahatan manusia seperti menciptakan kehidupan bagi orang kafir yang memilih telah kafir.
SIFAT DAN ZAT ALLAH MENURUT ABDUH BERDASARKAN BUKU HASYIAH Eka Putra Wirman
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i2.95

Abstract

Rasionalitas Abduh jelas berbeda dengan Rasionalisme yang memuja dan mengedepan kepentingan rasio di atas kepen-tingan nash. Rasio bagi Abduh bukan target dan tujuan tetapi media untuk memahami dan menjelaskan nash. Ukuran kebenaran teologis adalah nash, sedangkan rasio bekerja untuk menjelaskan nash dan demi kepentingan nash (baca: wahyu). Sementara itu Rasionalisme menjadikan rasio sebagai tolok ukur, sehingga kebenaran dan kebaikan tergantung kepada sejauh mana memuaskan dahaga akal, bukan dahaga spiritualitas dan bimbingan wahyu (baca: nash).