Yahya Afandi
STT Satyabhakti

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Teologi Pembebasan: Gerakan Feminisme Kristen dan Pendekatan Dialog Martin Buber: Liberation Theology: The Christian Feminism Movement and Martin Buber's Dialogue Approach Yahya Afandi
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 1 No. 2 (2018): Hermeneutics & Pentecostalism
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.218 KB) | DOI: 10.54345/jta.v1i2.7

Abstract

It cannot be denied that the presence of feminist liberation movements and theology has left such a profound influence on the history of the paradigm shift of the church even more into the wider scope. The theology of feminism has also correctly demonstrated the general failure of men in fulfilling God's plan regarding the purpose of his creation, since love in a husband-wife life is described as Christ loves to His church. The next positive contribution of the theology of liberation of feminism has also stood against the practice of oppression, humiliation, manipulation and even the exploitation of women. It should be noted, however, that in addition to the great contributions that can even trigger a paradigm shift, feminist movements and theology also leave problematic traces. This Christian feminist flow moves in a Christian framework but their method of feminism and theology approach generally entirely uses a liberal perspective. On the one hand they assume that this developed theology comes from the inspired word of God, but on the other hand they step out of the orthodoxy of traditional Christian faith. One of the terms used to respond to feminist movements and theology is that they apply "hermeneutic of suspicion". This means that systematically they assume that the writers of books of the Bible that are generally men, as well as their interpreters deliberately cover the role of women in the era of early Christianity. Also they attempted to abolish the cultural system which is the hallmark of society in the time of writing holy books, the patriarchy that can be matched by the demythologization of Bultmann. This method of exegesis is characterized by Heidegger's existential understanding that is firmly attached to the spirit of feminists in their struggle for rights and ideals. Strictly speaking such a view is certainly far from the biblical truth. If feminists believe that the Bible contains many mistakes but why then they also use them as the basis of authority for their theological principles. It is unfortunate that, on the other hand, this feminist movement must take extreme measures such as sacrificing orthodox Christian principles and tend to be liberal. Martin Buber's view on the importance of dialogue between the sexes proved to provide a way out of the danger of the continued practice of male domination over women; but also preventing women from the risk of extreme feminist liberation movements. === Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran gerakan pembebasan feminis dan teologi telah meninggalkan pengaruh yang begitu besar pada sejarah pergeseran paradigma gereja bahkan lebih ke dalam cakupan yang lebih luas. Teologi feminisme juga telah dengan tepat menunjukkan kegagalan umum pria dalam memenuhi rencana Allah mengenai tujuan ciptaan-Nya, karena cinta dalam kehidupan suami-istri digambarkan sebagai Kristus mengasihi gereja-Nya. Kontribusi positif berikutnya dari teologi pembebasan feminisme juga telah menentang praktik penindasan, penghinaan, manipulasi, dan bahkan eksploitasi perempuan. Namun perlu dicatat bahwa selain kontribusi besar yang bahkan dapat memicu perubahan paradigma, gerakan dan teologi feminis juga meninggalkan jejak yang bermasalah. Aliran feminis Kristen ini bergerak dalam kerangka Kristen, tetapi metode feminisme dan pendekatan teologi mereka pada umumnya seluruhnya menggunakan perspektif liberal. Di satu sisi mereka menganggap bahwa teologi yang dikembangkan ini berasal dari firman Allah yang diilhami, tetapi di sisi lain mereka melangkah keluar dari ortodoksi iman Kristen tradisional. Salah satu istilah yang digunakan untuk menanggapi gerakan dan teologi feminis adalah bahwa mereka menerapkan "hermeneutik kecurigaan". Ini berarti bahwa secara sistematis mereka berasumsi bahwa para penulis buku-buku Alkitab yang umumnya pria, serta penafsir mereka sengaja meliput peran wanita di era awal kekristenan. Mereka juga berusaha menghapuskan sistem budaya yang menjadi ciri khas masyarakat pada saat penulisan kitab suci, patriarki yang dapat ditandingi oleh demitologisasi Bultmann. Metode penafsiran ini ditandai dengan pemahaman eksistensial Heidegger yang melekat erat pada semangat kaum feminis dalam perjuangan mereka untuk hak dan cita-cita. Berbicara dengan tegas pandangan seperti itu tentu jauh dari kebenaran alkitabiah. Jika kaum feminis percaya bahwa Alkitab mengandung banyak kesalahan tetapi mengapa mereka juga menggunakannya sebagai dasar otoritas untuk prinsip-prinsip teologis mereka. Sangat disayangkan bahwa, di sisi lain, gerakan feminis ini harus mengambil langkah-langkah ekstrim seperti mengorbankan prinsip-prinsip Kristen ortodoks dan cenderung liberal. Pandangan Martin Buber tentang pentingnya dialog antar jenis kelamin terbukti memberikan jalan keluar dari bahaya praktik lanjutan dominasi laki-laki terhadap perempuan; tetapi juga mencegah wanita dari risiko gerakan pembebasan feminis ekstrim.
Membaca Narasi Penciptaan Mazmur 19:1-6 Melalui Perspektif Kosmologi Intelligent Design: Irreducible Complexity Yahya Afandi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 3, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.751 KB) | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i1.46

Abstract

This article examines: is science and theology so wide apart from each other; is the suffering of bible scholars who have a "second class" status in academic conversation impossible to end? The advancement of science which should illuminate the theological-biblical notions which are textually unexplainable in scientific detail has in fact created such a sharp split point. The idea of Intelligent design: irreducible complexity promoted by Michael J. Behe provides a kind of “theistic interstice" that can be used as a lens to see the existence of an intelligent designer of the universe narrated in Psalms 19: 1-6. The existed complexity, cannot be reduced because the condition itself is threatening the universal system. This article concludes with the identification: if the assumptions of an intelligent designer who refers to God is considered too premature; the framework of an intelligent designer then provides an imaginative space to grapple with the possibility of His involvement in the universe. Abstrak Artikel ini mempertanyakan ulang: Apakah ilmu pengetahuan dan teologi alkitabiah sudah sedemikian jauh terpisah satu sama lain? Apakah penderitaan para sarjana kitab suci yang diklaim berstasus “kelas dua” dalam percakapan akademik mustahil diakhiri? Kemajuan ilmu pengetahuan yang semestinya menerangi terminologi teologis-alkitabiah, yang barangkali memang secara tekstual tidak dijelaskan secara detail-ilmiah khususnya isu kosmologi dan kosmogoni, nyatanya justru telah menciptakan titik pisah yang begitu tajam. Gagasan kosmologi Intelligent design: irreducible complexity yang diusung oleh Michael J. Behe memberi semacam “celah teistik” yang dapat dipergunakan sebagai lensa untuk melihat kemungkinan keberadaan Sang Perancang Cerdas semesta raya dalam narasi Mazmur 19:1-6. Kerumitan yang ada, tidak dapat dikurangi, tidak boleh tidak ada. Mengingat situasi tersebut justru berpeluang mengancam sistem semesta. Artikel ini diakhiri dengan identifikasi, bahwa jika dugaan perancang cerdas yang merujuk kepada keberadaan Tuhan dinilai terlalu prematur, maka pemikiran intelligent designer menyediakan ruang imajinatif-intelektual untuk menggumuli kemungkinan keberadaan dan keterlibatan-Nya atas semesta.
Mindset Health: Embracing Failure as a Paradox of Learning Pedagogy in Higher Education Yahya Afandi
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 2 (2022): Holy Spirit inside: How the Holy Spirit works through us and within us
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v5i2.80

Abstract

Kegagalan adalah salah satu fakta kehidupan yang tidak mudah untuk ditangani, khususnya oleh seorang dewasa. Alih-alih menarik pelajaran penting dengan saksama dan detail dari kegagalan yang dialami, ia justru berusaha sejauh mungkin menghindarkan diri dari fakta ini. Artikel ini hendak menyajikan hasil pemikiran Carol Susan Dweck, salah satu Profesor Psikologi dari Stanford University, dalam melakukan pengamatan menarik tentang mekanisme penanganan fakta kegagalan. Dari pengamatannya, Dweck menyadari bahwa kualitas manusia, seperti keterampilan intelektual dapat dikembangkan. Dalam banyak disiplin ilmu, karya Dweck tentang “mindset” atau pola pikir, telah dikaitkan dengan berbagai keberhasilan akademik para peserta didik. Melalui penelitiannya tersebut, Dweck memperkenalkan dua istilah, yaitu “fixed and growth mindset” yang menjelaskan akibat dari keengganan terhadap risiko dan kegagalan dalam perkembangan pembelajaran. Kelompok dengan pola pikir tetap “Fixed Mindset” (FM) memandang sifat dan kecerdasan sebagai bawaan yang cenderung mengikat identitas antara kesuksesan dan kinerja, yang sering menyebabkan ketidaknyamanan terhadap kegagalan. Sedangkan orang- orang dengan pola pikir berkembang “Growth Mindset” (GM) memandang diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang dapat berubah melalui pembelajaran, termasuk kebutuhan untuk mencoba hal-hal baru untuk maju. Orang dengan pola pikir berkembang mengaitkan kesalahan dan kegagalan dengan pembelajaran serta peningkatan yang positif—bukan hal negatif. Melalui tema ini, penulis menawarkan “embracing failure” sebagai sebuah paradoks pedagogis yang penting untuk menjalani dinamika proses pembelajaran teologi secara kritis dan kreatif sekaligus proses pembentukan diri sebagai seorang pelayan Injil yang berdaya lenting dan relevan di tengah era disruptif ini.   === Abstract Failure is a difficult reality to accept, especially as an adult. Instead of carefully and thoroughly drawing important lessons from his failures, he attempted to avoid this fact as much as possible. This article would like to present the ideas of Carol Susan Dweck, a Stanford University Professor of Psychology, who has made some interesting observations about the mechanism for dealing with the fact of failure. Dweck realized that human qualities, such as intellectual skills, could be developed based on her observations. Dweck's work on "mindset" has been linked to various academic successes of students across many disciplines. Dweck's research introduced two terms, "fixed and growth mindset," which describe the effects of risk aversion and failure in learning development. Groups with a "Fixed Mindset" (FM) view traits and intelligence as innate, which tends to tie the identity between success and performance, causing discomfort when a failure occurs. People with a growth mindset (GM), on the other hand, see themselves as something that can change through learning, including the need to try new things in order to advance. Mistakes and failures are associated with positive learning and improvement in people with a growth mindset, not negative ones. Through this theme, the author proposes "embracing failure" as a pedagogical paradox necessary for critically and creatively experiencing the dynamics of the theological learning process, as well as the process of self-formation as a resilient and relevant gospel minister in the midst of this disruptive era.
Gereja Dan Pengaruh Teknologi Informasi “Digital Ecclesiology” Yahya Afandi
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.198 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v1i2.12

Abstract

Gereja sebagai komunitas beriman yang mengembara, yang berdimensi spasial sekaligus temporal tidak pernah sepi dari tantangan yang berasal dari konteks di mana ia ada dan berteologi. Kemajuan di bidang teknologi-informasi, pengaruh media sosial tak luput dari area di mana gereja juga harus berurusan dan mengambil peran sebagai garam dan terang. Dalam situasi seperti saat ini, gereja kembali diuji untuk tetap menjalankan fungsinya. Dari waktu ke waktu, oleh topangan rahmat Tuhan, gereja telah menunjukkan keteguhan eksistensi kontekstualisasinya sebagai perwujudan tugas dan panggilan: persekutuan, pelayanan dan kesaksian. Gagasan tentang gereja digital adalah sebuah tawaran kehidupan menggereja pada masa kini. Dunia virtual meskipun di satu sisi memiliki potensi untuk disalah gunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu; namun di sisi lain dapat menjadi peluang di mana gereja memiliki cara pandang baru dalam memandang realitas Allah yang transenden. Ketimbang melihat realitas pemanfaatan media sosial dengan segala ancamannya, sudah waktunya gereja memberikan manfaat baru bagi pembangunan komunikasi, komunitas dan pemuridan. 
Ḥeseḏ sebagai Permenungan Teologi Keringkihan dalam Perspektif Disabilitas Berdasarkan Narasi 2 Samuel 9:1-13 Yahya Afandi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1023

Abstract

Abstract. The determination to make the earth an inclusive place for all groups requires comprehension, awareness, and ongoing collaboration. One of the impediments to realizing this dream is the stigma and discrimination against various types of weakness, vulnerability, deficiencies, and limitations, such as the disabilities, both physical and mental, that most people around us experience. The locus text from 2 Samuel 9:1-13 will be reread and reinterpreted in light of Jeremy Schipper's analysis of the term ḥeseḏ in the narratives of King David and Mephibosheth, in order to gain a new understanding of vulnerability in the context of disability in theological discourse. The reading resulted the invitation for everyone to experience the incarnation event as an effort by which the Almighty embraces the vulnerable, thus providing an array for discussion about how weakness and vulnerability should be accepted and celebrated in equal social relations.Abstrak. Perjuangan mewujudkan bumi menjadi tempat yang inklusif bagi semua golongan menuntut pemahaman, kesadaran, dan usaha bersama secara terus-menerus. Salah satu penghalang terwujudnya mimpi tersebut adalah stigma dan diskriminasi terhadap berbagai jenis kelemahan, keringkihan, kekurangan serta keterbatasan, misalnya disabilitas baik fisik maupun mental yang dialami oleh kebanyakan orang di sekeliling kita. Analisis Jeremy Schipper terhadap terma ḥeseḏ dalam narasi Raja Daud dan Mefiboset, akan dijadikan lokus dan basis teks untuk membaca dan menafsirkan ulang teks 2 Samuel 9:1-13, demi menemukan pemahaman baru diskursus teologi keringkihan dalam perspektif disabilitas. Pembacaan tersebut menghasilkan ajakan bagi setiap orang untuk menghayati peristiwa inkarnasi, yang merupakan upaya Sang Maha Kuat merengkuh sang ringkih, sehingga menyediakan ruang percakapan bagaimana seharusnya kelemahan dan keringkihan diterima serta dirayakan dalam relasi sosial yang setara.