Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Interpretasi Global Hadis Rukyat Hilal Pranoto Hidaya Rusmin; Arief Syaichu Rohman; Dhani Herdiwijaya; Izzah Faizah Siti Rusydati Khaerani; Reza Pahlevi; Dadang Darmawan
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 7 No. 1 (2017): JUNI
Publisher : Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.584 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2017.7.1.105-139

Abstract

Before Islamic Calendar begins, Muslims were used to wait for the earliest visible crescent (hilâl), which marks the beginning of Ramadan. The determination of the beginning of Ramadan is based on the rukyat al-hilâl hadith. Because the hilâl visibility on the earth surface is not the same, it results the differences on the beginning of Ramadan fasting. In addition, the sighting hilâl method can only determine the next 29 days, it cannot reach for the next month and even for the next year. These are the main reasons for re-interpretation of the rukyat al-hilâl hadith from global perspective. From this study, it is found that the context in the Qur’an, related to the Ramadan fasting, is fasting in one full month, 29 or 30 days, according to the duration of the lunar synodic cycle. However, the condition of the people and the science at that time has not developed yet, which is the cause of calculation (h}isâb) verses in the Qur’an cannot be used. When they have developed, the calculation verses in the Qur’an can be used to determine the number of days in a calendar month. This will produce a global calendar for mankind.
INTEGRASI PRINSIP KOLABORASI DALAM HADIS SEBAGAI FONDASI PENGUATAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Reza Pahlevi
At-Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2026): At Tadbir
Publisher : LP2M STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51700/attadbir.v6i1.1411

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji kembali prinsip-prinsip kolaborasi dalam hadis dan relevansinya bagi penguatan manajemen pendidikan Islam, terutama dalam konteks tantangan organisasi pendidikan yang semakin kompleks. Selama ini kajian manajemen pendidikan Islam cenderung menempatkan nilai-nilai hadis hanya sebagai moralitas normatif, belum sebagai fondasi manajerial yang dapat diintegrasikan secara operasional ke dalam fungsi manajemen modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan, serta analisis tematik Braun dan Clarke untuk mengidentifikasi pola makna kolaboratif dalam hadis. Empat tema utama ditemukan: syūrā (musyawarah), ta‘āwun (saling menolong), jamā‘ah (kebersamaan), dan naṣīḥah (saling menguatkan dan memberi arahan). Keempat tema tersebut kemudian dipetakan secara sistematis ke dalam fungsi manajemen POAC: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kolaboratif dalam hadis bukan hanya ajaran etis, tetapi merupakan kerangka manajerial yang bersifat aplikatif dan mampu memperkuat tata kelola lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis berupa model integrasi hadis manajemen sebagai pendekatan alternatif dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam, serta menawarkan implikasi praktis bagi pimpinan madrasah dan lembaga pendidikan untuk membangun budaya organisasi yang partisipatif, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan kinerja.