Subi Nur Isnaini
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dialektika Ẓāhir Bāṭin dan Produksi Makna Ishārī dalam Tafsir al-Baḥr al-Madīd Subi Nur Isnaini; Fauzan Adim
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 11 No. 1 (2021): JUNI
Publisher : Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/mutawatir.2021.11.1.28-52

Abstract

Abstract: This article examines the sufi Qur’anic exegesis of al-Baḥr al-Madīd on how is the dialectic of ẓāhir and bāṭin shaping a new meaning of the Qur’an. By using descriptive analysis, this article argues that Ibn ‘Ajībah is one of the authoritative sufi scholars who tends to interpret the Qur’an with regards to the balanced hermeneutics of the exoteric (ẓāhir) and the esoteric (bāṭin) meanings of it. The existence of the esoteric meaning should not violate the exoteric interpretation. According to Ibn ‘Ajībah, the exoteric meaning becomes the initial basis for the birth of the esoteric interpretation. Related to the symbolic (ishārī) interpretation, it is quite visible when Ibn ‘Ajībah interprets the term al-arḍ in his exegesis. This article finds that there are at least four allegorical meanings with representative of Sufism presented by Ibn ‘Ajībah in terms of al-arḍ, namely: qalb (heart), ashbāḥ (body), nafs (soul), and arḍ al-ḥikmah (wisdom). The four meanings presented are diametrically different from the meaning of arḍ in its linguistic sense which is generally perceived by the most Qur’anic commentators as the ‘earth’ inhabited by humans.
MUJAHADAH HIZIB FATIHAH: STUDI PEMBACAAN SURAT AL-FATIHAH 1000 KALI PADA MALAM KAMIS DI DESA PAMPUNG : (Kajian Living Qur'an) Farida Nur Afifah; Subi Nur Isnaini
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2023): Available online since 24 Februari 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v3i1.61

Abstract

Penulisan ini dilatarbelakangi adanya mujahadah pembacaan surat al-F?tihah sebanyak 1000 kali di desa Pampung yang bukan di lingkungan pesantren, yang kemudian disebut dengan Muj?hadah Hizib F?tihah. Hizib F?tihah merupakan hizib yang langka karena di wilayah Magelang khususnya, hanya segelintir orang yang mendapatkan ijazah langsung dari Mujiz. Hizib tersebut memiliki banyak perbedaan dari hizib F?tihah yang tersebar di media sosial. Adapun permasalahan yang diangkat adalah bagaimana praktik dan makna rutinan Muj?hadah Hizib F?tihah bagi masyarakat di desa Pampung? Kajian ini termasuk kajian living Qur’an yang bersifat lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan memakai metode deskriptif-analitik. Sumber data yang digunakan terdiri dari sumber primer yang didapat dari wawancara, dan sumber data sekunder dari berbagai sumber yang bersangkutan. Data tersebut dianalisis menggunakan teori sosiologi pengetahuan Karl Menheim. Artikel ini menyimpulkan bahwa Muj?hadah Hizib F?tihah memiliki fungsi dari dua sisi. Pertama fungsi sosial yang mana hubungan masyarakat semakin terjalin dengan baik, interaksi sosial semakin kental. Kedua, fungsi spiritual yang mana mujahadah tersebut menjadi sarana ikhtiar masyarakat memenuhi kebutuhan batin dan mendekatkan diri kepada Allah.  
Meta Analisis Urgensi Konseling Teman Sebaya di Pondok Pesantren Nurul Fitrian Eko Saputro; Subi Nur Isnaini; Casmini Casmini
Al-Ihath: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53915/jbki.v3i2.343

Abstract

Tulisan ini ingin memberikan pemetaan terhadap urgensi pelayanan konseling teman sebaya dalam lingkungan pondok pesantren. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekaan meta analisis menganalisis konten dari studi terdahulu. Hasil penelitian ini adalah Menampilkan pemetaan tentang pentingnya penerapan konseling teman sebaya atau peer counseling yang ditinjau dari sudut pandang santri, pengelola pesantren, dan kiai yang menjadi unsur dari pesantren. Argumen ini dibangun dengan melihat bahwa pesantren menjadi salah satu institusi yang masih perlu dilakukan pengoptimalan pengaplikasian layanan konseling. Melihat kompleksnya permasalahan yang ada terlebih yang dialami oleh santri.
TAFSIR AL-QUR'AN DI ERA POST-TRUTH: ANALISIS WACANA TAFSIR LISAN ACH DHOFIR ZUHRY Fakhri Afif; Subi Nur Isnaini
Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ajipp.v4i1.6466

Abstract

This study aims to explain Ach Dhofir Zuhry's oral interpretation of the Qur'an that discusses post-truth discourse. The emergence of post-truth in recent years seems to have eliminated the dividing line between truth and falsehood. Consequently, digitalization presents significant negative impacts in the social, economic, political, and, of course, religious dimensions. In addition, post-truth also opens opportunities for religious people to improve their religious understanding, but on the other hand, the digital world contributes to the increasing issue of religious intolerance and exclusivism. Along with this phenomenon, Ach Dhofir Zuhri came up with an interpretation of the Qur'an through oral speech delivered through social media platforms. Based on qualitative data, this study analyzes literature and digital data, as well as interviews with Dhofir Zuhry. By elaborating on the idea of oral interpretation and modern interpretive discourse, this study shows that Zuhry's oral interpretation in the digital world offers a new perspective on the discussion of Islam and post-truth. In this case, the concept of tabayyun becomes an ethical-contextual solution to face the post-truth era by encouraging the maximum utilization of human reason in social media.