Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PESAN DAKWAH DI DALAM SURAH AL LAIL Tabsyir Masykar
AT-TANZIR: JURNAL ILMIAH PRODI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM Vol. 9, No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh Aceh Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Message in the communication process is something conveyed by communicators to the communicant. Which is the message, ideas, ideas, information, and opinions that are conveyed by a sender of the message (communicator) to the recipient of the message (communicant) whose purpose is to influence it to follow the attitude that is conveyed to him. Where as Da'wah is an invitation to the right path that is Islam which is blessed by Allah. Therefore it is necessary to have an important message of da'wah that must be conveyed in the communication process. Where the main source of Islamic teachings is the first is the Qur'an and one of them is surah al lail. Surah al lail is a makkiah surah consisting of 21 verses which has very important material in preaching such as da'wah messages including the content of the verses relating to aqeedah, syari'ah and akhlak, so that this is clearly what the message of the surah wants to convey
Implikasi Penerapan Syariat Islam pada Sektor Pariwisata di Kabupaten Simeulue Tabsyir Masykar; Triansyah Fisa
Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam Vol 25 No 2 (2022): Al-Qanun, Vol. 25, No. 2, Desember 2022
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alqanun.2022.25.2.191-203

Abstract

Simeulue is an area that has developed a lot due to tourism. If tourism is well managed, it can positively impact the area's social, cultural and religious life. Its development will indeed affect the religious values in Simeulue either positively or negatively. Relevant agencies can play a significant role in the formation of tourism that helps protect the norm from erosion. Thus, sharia violations in that place will not occur. This research method uses interviews and a literature review to gain a deeper understanding of the topic. This is then combined with data from primary and secondary sources. Islamic law argues that there are several good aspects of Simeulue development. For example, it was found that it is suitable for tourism. This means that Aceh has the opportunity to become a religious tourism destination enjoyed by the community. The implementation of Islamic law in Simeulue is going well, and it's just that the government and society want to encourage its implementation . The Simeulue Regency Government is trying to be a role model for other provinces in implementing Islamic law in the tourism sector.   Abstrak: Simeulue merupakan daerah yang banyak berkembang karena pariwisata. Apabila pengelolaan pariwisata di suatu daerah tidak baik, maka dapat berdampak negatif terhadap kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan di daerah tersebut. Ada kemungkinan nilai-nilai agama di Simeulue akan berubah, jika tidak segera dibenahi. Instansi terkait yang berperan besar dalam pembentukan pariwisata dapat membantu menjaganya dari nilai-nilai agama yang mungkin berbenturan dengan kita. Dengan demikian, pelanggaran syariah di tempat tersebut tidak akan terjadi. Metode penelitian ini menggunakan wawancara dan kajian literatur untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang topik tersebut. Ini kemudian digabungkan dengan data dari sumber primer dan sekunder. Hukum Islam berpendapat bahwa ada beberapa aspek yang baik dari kondisi Simeulue. Misalnya, ditemukan bahwa itu bagus untuk pariwisata. Artinya, Aceh berpeluang menjadi tempat wisata religi yang dinikmati masyarakat. Pelaksanaan syariat Islam di Simeulue berjalan dengan baik, hanya saja pemerintah dan masyarakat ingin mendorong pelaksanaannya. Pemerintah Kabupaten Simeulue berusaha menjadi panutan bagi provinsi lain dalam hal penerapan syariat Islam di sektor pariwisata.  
Systemic Functional Linguistics to Preserve Interpersonal and Ideational Meaning in English-Indonesian Translation Tanzir Masykar; Febri Nurrahmi; Tabsyir Masykar
Journal of English Education and Teaching Vol. 7 No. 3 (2023): Journal of English Education and Teaching
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jeet.7.3.560-572

Abstract

Systemic functional linguistic (SFL) is a language theory that emphasize social function of a language in realizing meaning. Traditional ways of translating Indonesian text has relied heavily on generative grammar or grammar translation method. Using this method, the grammatical function of an utterance may be well preserved yet at the stake of meaning shift. Register (field, mode and tenor) is an important feature in SFL that may help translators preserving ideational meaning and tenor from the source language to target language. English sentences on specific scenarios are translated into Indonesian and vice versa using grammar translation method and systemic functional linguistic. The results are compared to observe translation shift, ideational, interpersonal and textual meaning. The findings showed that grammar translation method fail to transfer the ideational meaning into Indonesian despite preserving experiential features are intact. This does not happen in systemic functional linguistic approach since the approach requires preserving the functional meaning of a sentence instead of the grammar. The grammar categories may change using SFL but the functional meaning is well preserved. Emphasizing functional meaning instead of grammatical function enable translators to deliver equal meaning in Indonesian. While tenor is not a problem in the translation of Indonesian to English, translators need to carefully consider field, mode and tenor when translation texts from English to Indonesian.
Penguatan Moderasi Beragama Melalui “Living Quranic Values” di Pesantren: (Studi Pondok Pesantren Barat Tengah Aceh) Tabsyir Masykar; Pikri Pikri
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 5 No 1 (2025): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/bashair.v5i1.4614

Abstract

Penelitian ini berfokus pada implementasi, pemahaman, serta dampak penerapan Living Qur’anic Values di pesantren wilayah Barat Tengah Aceh, dengan tujuan utama memperkuat kesadaran moderasi beragama. Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri yang tidak hanya memahami ajaran Al-Qur'an secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Qur'ani seperti tawassuth (moderat), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), ishah (perbaikan), qudwah (teladan), musyawarah (konsultasi), muwathanah (kewarganegaraan), al-la 'unf (anti kekerasan), dan i’tiraf bil ‘urf (menghargai tradisi) dianggap sebagai elemen kunci dalam membangun sikap moderat di kalangan santri, yang sangat relevan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods), yaitu kombinasi antara metode kualitatif dan kuantitatif, guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang penerapan Living Qur’anic Values. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket yang melibatkan para pimpinan pesantren, ustadz-ustadzah, serta santriwan-santriwati di sejumlah pesantren di wilayah Barat Tengah Aceh. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa penerapan nilai-nilai Al-Qur’an ini sudah cukup baik di lingkungan pesantren, meskipun masih ada disparitas dalam pemahaman dan pengamalan konsep moderasi beragama di antara santri. Sebanyak 54% santri telah mendengar istilah moderasi beragama atau washathiyyah, namun hanya 30% dari mereka yang benar-benar memahami konsep ini secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai moderasi telah diperkenalkan, integrasinya dalam kurikulum formal dan praktik sehari-hari masih perlu ditingkatkan. Dampak penerapan Living Qur’anic Values terlihat dalam berbagai aspek kehidupan di pesantren. Di sekolah, santri menunjukkan peningkatan kedisiplinan, tanggung jawab, dan prestasi akademik, serta lebih aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Di lingkungan pesantren, nilai-nilai akhlak dan moral yang baik, seperti kesederhanaan dan empati, semakin melekat dalam keseharian santri. Sementara di masyarakat, santri menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan penerapan nilai-nilai Qur’ani di pesantren, baik secara konseptual maupun praktis, untuk menciptakan generasi santri yang tidak hanya cerdas dalam memahami agama, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang moderat, toleran, dan berkontribusi positif di masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan pesantren yang lebih berfokus pada penguatan moderasi beragama dan pengamalan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.