Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Memori Episodik sebagai Terra Incognita yang Membatasi Neuroteknologi Ramadhanty, Siti Azri Ulmi; Albertus, Harsawibawa
Syntax Idea Vol 3 No 3 (2021): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-idea.v3i3.1077

Abstract

One of the implications of the development of neuroscience is neurotechnology. Initially, neurotechnology aims to address brain dysfunction, such as overcoming Alzheimer's disorders that cause memory loss. However, neurotechnology seems to go a step further, i.e. it not only serves to repair brain damage, but also to correct mental phenomena connected to the brain or that are "produced" by the brain, which are associated with memory. Based on this, the question arises, whether it is possible that neural technology improves and replaces human memory. Nevertheless, these neurotechnical efforts seem to ignore the meaning of memory itself, including what actually "builds" memory, so that humans can have different feelings of memory. Thus, to answer this problem, the author first interprets memory explicitly through a clear difference between semantic memory and episodic memory, to show that human memory, which is an episodic memory, is associated with qualitative states. Second, by describing the opportunities presented by neurotechnology through mind experimentation regarding neuron replacement by electronic chips, to demonstrate the impossibility of neurotechnology functioning in the same way as neurons in the brain that produce episodic memory with these qualitative states. Therefore, based on these arguments, it will be known that neurotechnology is actually impossible to improve, especially replacing human memory.
Sekularisme, Epistemologi Reformed, dan Liturgi: Menimbang Peran Liturgi dalam Konteks Masyarakat Sekuler Samuel Vincenzo Jonathan; Albertus Harsawibawa
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat Vol 9 No 1 (2022): Agama dan Etika di Era Sekuler
Publisher : Reformed Center for Religion and Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33550/sd.v9i1.289

Abstract

Secularism is a condition of the times when we live in today. It gives awareness to the global community that in reality there is only the immanent—there is no God. So, theism is seen as just one of the many available options: atheism becomes even more attractive to embrace. Generally, a theist will respond by demonstrating the theism plausibility  through positive arguments  about the existence of God. The author rejects this and offers an approach from Reformed epistemology on the problem, as it is a thesis on how one knows God. Through Reformed epistemology, the author views secularism as what he considers   as a cognitive environment. A cognitive environment  prevents the “knowing subject” from knowing God, as the authors point out that the appropriate response to secularism is  involving the “knowing subject” into the liturgy. Thus, liturgy can also be understood as an act that has an epistemic dimension  which enables a person  knowing God.
BUILDING DAN DWELLING DALAM ARSITEKTUR KONTEMPORER: INTERPRETASI PEMIKIRAN MARTIN HEIDEGGER Febe Liana; Harsawibawa Albertus
Jurnal Ilmiah Global Education Vol. 4 No. 3 (2023): JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION, Volume 4 Nomor 3, September 2023
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/jige.v4i3.1114

Abstract

This journal article aims to explore Martin Heidegger's concept of thinking about building and dwelling, and how it is interpreted in the world of architecture, especially contemporary architecture. Heidegger, an important philosopher in the 20th century, proposed revolutionary ideas about architecture that went beyond the traditional view of buildings/dwellings as inanimate objects. He expressed his views on the relationship between people, place, and space and how humans actually space in space (earth as space), and the importance of understanding the essence of” building and dwelling” properly. He also postulated about how this thinking influences the world of contemporary architecture and what are the criticisms and shortcomings that need to be critically examined.
Kritik atas Sikap Tanpa Pamrih (Disintrested Attitude) Melalui Sudut Pandang Voyeuristik Manahan*, Richardo Torang; Albertus, Harsawibawa
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 3 (2023): Juni, socio-economics, community law, cultural history and social issues
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i3.25338

Abstract

Sebuah karya seni mengandung unsur estetika yang bertingkat sesuai dengan kepuasan indrawi manusia. Keindahan sering ditujukan terhadap objek tubuh manusia yang ditampilkan secara tabu dengan bentuk ketelanjangan yang mengandung unsur seksualitas dan keintiman. Karya tersebut mengandung unsur voyeuristik yang sering menimbulkan persepsi atau pandangan negatif bahkan penyimpangan perilaku bila dinikmati berlebihan. disinterestedness attitude, dengan demikian, seperti menjawab permasalahan tersebut. peneliti berusaha menjelaskan lebih dulu deskripsi dari voyeuristik dalam suatu karya contoh karya Newton yang identik bersifat voyeuristik. Setelah itu mengemukakan pandangan kritis terhadap penggunaan disinterestedness attitude untuk menafsir karya voyeuristik. Metode yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi. Hasil analisis ini adalah pandangan disinterestedness menyiratkan bahwa penggunaan tanpa pamrih dan dengan pamrih bisa menangkap nilai keindahan suatu karya namun dalam keberadaaan seni voyeuristik ternyata besar efeknya jika kedua hal ini dipisahkan. Disinterestedness seperti mendorong para penafsir nuntuk membuat pribadi impersonal untuk menangkap nilai “estetika” dari sebuah karya dengan menangkap sisi lain dari ketelanjangan. Namun nilai sebuah karya memang tidak bisa lepas dari kebenaran yang digambarkannya.
CLAUSTROART: SENI BARU DI MASA PANDEMI Harsawibawa Albertus
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi yang mematikan memaksa manusia untuk berdiam diri di rumah; muncullah konsep WFH (work from home) yaitu pekerjaan kantor dan bersekolah, misalnya, harus dilakukan di rumah. Yang dulunya dipikirkan sebagai suatu hal yang menyenangkan bila berkantor dan bersekolah dari rumah saja, ternyata tidak demikian halnya saat dilakukan dalam waktu yang lama. “Mendekam” di rumah dalam jangka panjang menyebabkan rasa bosan, bosan di dalam ruangan dan juga bosan terhadap orang-orang di sekitar. Dari kebosanan itu timbullah ide kreatif bekerja sama menciptakan seni, yang mana semua itu dilakukan secara individual, tetapi bersamaan waktunya dengan orang lain di tempat yang berbeda. Di dalam musik misalnya, hal itu memunculkan gagasan bermain ansambel dari tempat-tempat yang berbeda, yang mana semua itu dihubungkan oleh jaringan internet. Secara tidak sadar, kreativitas itu memunculkan bentuk seni yang baru, yang saya sebut claustroart—mengacu pada ide “claustrum” (tempat tertutup) dan “art” (seni). Claustroart ternyata begitu mencandukan bagi mereka-mereka yang memuja teknologi. Para pemusik di negara-negara maju, yang juga mengalami situasi yang sama, tidak berlama-lama menikmati seni yang mengungkung itu, dengan berbagai cara mereka berusaha untuk mengembalikan cara bermain musik seperti sebelum pandemi. Sedangkan bagi mereka yang tergila-gila dengan teknologi, claustroart justru terus dikembangkan dan diperluas, serta menciptakan kemalasan baru atas nama “efisiensi” atau “kemajuan jaman”, yang disesuaikan oleh jargon: “New Normal”. Claustroart menunjukkan kejadian seni yang baru, ia menunjukkan seni yang baru itu diciptakan bukan oleh individu-individu, melainkan sekelompok orang. Claustroart juga menunjukkan pengaruh teknologi bagi manusia kini dan di masa yang akan datang.