Dwiyitno Dwiyitno
Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosek Kelautan dan Perikanan.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Penundaan Pengolahan terhadap Kandungan Histamin Ikan Lisong ( Scomber Australaskus Cv. ) Dwiyitno Dwiyitno; Subaryono Subaryono; Suryanti Suryanti
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.361

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penundaan pengolahan terhadap kandungan histamin ikan lisong (Scomber australasicus CV). Penundaan pengolahan dilakukan pada suhu kamar dan suhu rerdah (es). Pada suhu kamar, penundaan dilakukan selama 16 jam dengan pengamatan setiap 2 jam sekali, sedangkan penundaan pada suhu rendah menggunakan es di dalam coolbox selama 16 hari dengan pengamatan setiap 2 hari sekali. Parameter yang diamati meliputi kadar air, histamin, total volatile base (TVB) dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan pada suhu kamar berpengaruh nyata terhadap peningkatan kandungan histamin, namun tidak demikian pada penundaan dengan es. Pada suhu kamar kadar histamin meningkat dari 75,7 mg/1 00 g menjadi 280,5 mg/1 00 g pada jam ke 16, sedangkan pada penundaan dengan es hanya meningkat menjadi 104,2 mg/100 g setelah hari ke‑10. Perlakuan penundaan pada suhu kamar maupun dengan es berpengaruh nyata terhadap nilai TVB ikan, yaitu pada suhu kamar TBV meningkat dari 26,4 mgN/100 g menjadi 54,3 mgN/100 g pada jam ke 16, sementara pada perlakuan dengan es menjadi 62,7 mgN/1 00 g pada hari ke 16. Pertumbuhan bakteri pembentuk histamin pada suhu kamar lebih cepat dibandingkan pada perlakuan dengan es. Pada awal penelitian jumlah bakteri 2,4 x 104 koloni/g dan meningkat menjadi 2,8 x 108 koloni/g pada perlakuan suhu kamar jam ke‑16, sedangkan pada perlakuan dengan es jumlah bakteri tertinggi pada hari ke‑8 yaitu 8,7 x 104 koloni/g. Pada suhu kamar ikan sudah ditolak oleh panelis pada jam ke‑12, sedangkan pada perlakuan dengan es pada hari ke­10,
Pengaruh Suhu Esterifikasi terhadap Karakteristik Karboksimetil Kitosan (Cmcts) Dwiyitno Dwiyitno; Jamal Basmal; Mulyasari Mulyasari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.373

Abstract

Sifat kitosan yang hanya larut dalam asarn lemah menjadi kendala pada pernanfaatannya secara luas. Seperti diketahui banyak produk aplikasi kitosan yang menuntut kitosan yang bersifat larut dalam air seperti pada produk‑produk kosmetik, pangan dan farmasi. Salah satu turunan kitosan yang bersifat larut dalarn air adalah karboksimetil kitosan (CMCts) yang merupakan salah satu bentuk modifikasi kitosan yang diperoleh melalui proses karboksimetilasi kitosan dengan monokloroasetat dalam kondisi alkali. Pada penelitian ini poses produksi CMCts dilakukan berdasarkan metode Bader & Birkholz (1997). Kitosan kasar direndam dalam NaOH, kernudian ditambah monokloroasetat, Selanjutnya dilakukan esterifikasi dengan perlakuan suhu yaitu 30, 50 dan 90 derajad Celcius selama 60 menit. Kernudian pH larutan diatur menjadi 5 dan dicuci dengan metanol. Produk dikeringkan dengan oven pada suhu 50 derajad Celcius Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh produk larut dalam air meskipun dengan tingkat kelarutan yang bervariasi, yaitu antara 65,7­97,9%. Viskositas CMCts bervariasi antara 45,6 sampai 65,2 cps dengan rendermen 57,0‑ 98, 1 %. CMCts yang dihasilkan dari seluruh perlakuan merniliki pH 5 dengan penampakan kuning keputihan sampai kuning kecoklatan. 
Penggunaan Arang Untuk Mengurangi Kadar Histamin Ikan Pindang Tongkol Batik (Euthynnus Affinis). Subaryono Subaryono; Farida Ariyani; Dwiyitno Dwiyitno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.369

Abstract

Penelitian penambahan arang pada proses pemindangan ikan tongkol batik (Euthynnus affinis) untuk menurunkan kadar histamin sudah dilakukan. Bahan baku Yang digunakan dibiarkan semalam pada suhu kamar untuk meningkatkan kadar histaminnya. Konsentrasi arang Yang ditambahkan dalam proses pemindangan sebesar 1, 3 dan 5% dari bobot ikan. Parameter Yang diamati meliputi kadar air, kadar histamin, kadar TVB, organoleptik, jumlah bakteri pembentuk histamin, kadar protein dan kadar lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 5% arang dalam proses pemindangan dapat menurunkan kadar histamin pindang dari 140,5 mg/ 100g bahan menjadi 88,6 mg/100 g bahan. Perlakuan ini juga menurunkan angka TV8 produk dari 34,4 mgN/100g bahan menjadi 28,0 mgN/100g bahan pada penambahan 5% arang. Selain itu perlakuan penambahan arang pada konsentrasi 3% atau lebih dapat meningkatkan nilai penampakan dan mampu menghilangkan rasa gatal Yang diakibatkan oleh keberadaan histamin pada produk.