Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EVALUASI STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE PELAYANAN RESEP DI PUSKESMAS CIBUNGBULANG KABUPATEN BOGOR PERIODE MARET s/d APRIL 2018 Esa Nylidia; Muhammad Afqary; Ariyansyah
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.807 KB) | DOI: 10.47219/ath.v3i1.31

Abstract

Prescription care is an integral part of pharmaceutical care at Primary Health Facility. Evaluation of prescription care standard at Primary Health Facility Cibungbulang was done by comparing the implementation of prescription care in Primary Health Facility with prescription prescribing standard according to Permenkes No 74 of 2016 about standard of pharmaceutical care at Primary Health Facility. A descriptive observational study was conducted on 324 samples. Data were collected using an observation table. The results showed that the date of prescribing, dosage, quantity of drug, rules of procedure and technique of use, accuracy of dose, time of drug use, preparation / compounding, delivery was done well with percentage of 100%. While other components such as patient id, paraf doctor, drug form, availability, drug side effects, label or etiquette, the provision of drug information that has not met the Pharmaceutical Care Standard in Primary Health Facility.
POTENSI PEMANFAATAN KULIT KEDELAI SEBAGAI PRODUK BERNILAI TAMBAH: TINJAUAN UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Review) Nurma Angeliani Komalasari; Esa Nylidia
Jurnal Farmapedia (Pharmapedia Journal) Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmapedia
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/jfp.v4i1.66

Abstract

Kulit kedelai merupakan hasil samping pemisahan kulit biji dalam pengolahan kedelai yang masih sering diperlakukan sebagai residu bernilai rendah. Padahal, bahan ini kaya serat pangan, mengandung protein, mineral, pektin, selulosa, hemiselulosa, dan senyawa fenolik yang dapat dikembangkan menjadi pangan berserat, pakan, bahan fermentasi, adsorben, biochar, maupun bahan baku bioproduk. Artikel ini bertujuan memetakan bukti ilmiah mengenai karakteristik kulit kedelai, pilihan produk bernilai tambah yang layak untuk skala masyarakat, prasyarat keamanan dan mutu, serta merumuskan kerangka pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular. Tinjauan terarah dilakukan terhadap publikasi tahun 2015–2026 yang ditelusuri melalui Google Scholar, PubMed/PMC, DOAJ, Garuda, Crossref, dan situs penerbit terbuka menggunakan kombinasi kata kunci Indonesia dan Inggris. Literatur diseleksi berdasarkan relevansi bahan, kejelasan metode, keterhubungan dengan pengolahan atau pemberdayaan, dan ketersediaan teks lengkap. Sintesis menunjukkan bahwa produk berteknologi rendah hingga menengah—tepung komposit, abon atau nugget, pakan fermentasi, kompos, dan adsorben sederhana—lebih sesuai sebagai pintu masuk pemberdayaan dibanding ekstraksi senyawa murni atau biorefineri. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh komposisi bahan, tetapi juga kontinuitas pasokan, penanganan higienis, pengeringan, pengujian keamanan, penerimaan sensori, biaya proses, akses pasar, pembagian peran, dan pendampingan pascapelatihan. Model yang diusulkan terdiri atas pemetaan residu, seleksi produk bersama mitra, standardisasi proses, uji kelayakan minimum, produksi percontohan, penguatan usaha, dan evaluasi dampak. Bukti yang tersedia mendukung kulit kedelai sebagai sumber daya lokal potensial, tetapi klaim kesehatan dan peningkatan pendapatan harus dibuktikan melalui pengujian produk serta evaluasi lapangan yang memadai.