p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Farmapedia
Nurma Angeliani Komalasari
Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN KARANG TARUNA MELALUI PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK MENJADI ECO-ENZYME DAN SABUN CAIR RAMAH LINGKUNGAN DI DESA CARIU Nurma Angeliani Komalasari; Abdul Aziz Setiawan; Harry Noviardi; Sitaresmi Yuningtyas; Nanang Hermawan
Jurnal Farmapedia (Pharmapedia Journal) Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Farmapedia
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/jfp.v3i2.49

Abstract

Pengelolaan sampah organik di tingkat desa masih menjadi permasalahan lingkungan yang memerlukan pendekatan edukatif dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Karang Taruna dalam mengolah sampah organik menjadi eco-enzyme serta sabun cair ramah lingkungan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pelatihan praktik, pendampingan produksi, dan evaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test. Tahapan kegiatan mencakup identifikasi kebutuhan, sosialisasi, pelatihan pembuatan eco-enzyme, formulasi sabun cair eco-enzyme, serta evaluasi tingkat pemahaman peserta. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dengan skor pemahaman yang meningkat setelah pelatihan. Selain itu, peserta mampu memproduksi eco-enzyme secara mandiri dan mengaplikasikannya sebagai bahan aktif sabun cair. Dokumentasi kegiatan juga menunjukkan partisipasi aktif dan antusiasme peserta selama seluruh tahapan pelaksanaan. Program ini membuktikan bahwa pemberdayaan berbasis pelatihan praktis dapat menjadi strategi efektif dalam mengurangi sampah organik sekaligus menciptakan produk ramah lingkungan yang bernilai guna. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan di tingkat desa.
POTENSI PEMANFAATAN KULIT KEDELAI SEBAGAI PRODUK BERNILAI TAMBAH: TINJAUAN UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Review) Nurma Angeliani Komalasari; Esa Nylidia
Jurnal Farmapedia (Pharmapedia Journal) Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmapedia
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/jfp.v4i1.66

Abstract

Kulit kedelai merupakan hasil samping pemisahan kulit biji dalam pengolahan kedelai yang masih sering diperlakukan sebagai residu bernilai rendah. Padahal, bahan ini kaya serat pangan, mengandung protein, mineral, pektin, selulosa, hemiselulosa, dan senyawa fenolik yang dapat dikembangkan menjadi pangan berserat, pakan, bahan fermentasi, adsorben, biochar, maupun bahan baku bioproduk. Artikel ini bertujuan memetakan bukti ilmiah mengenai karakteristik kulit kedelai, pilihan produk bernilai tambah yang layak untuk skala masyarakat, prasyarat keamanan dan mutu, serta merumuskan kerangka pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular. Tinjauan terarah dilakukan terhadap publikasi tahun 2015–2026 yang ditelusuri melalui Google Scholar, PubMed/PMC, DOAJ, Garuda, Crossref, dan situs penerbit terbuka menggunakan kombinasi kata kunci Indonesia dan Inggris. Literatur diseleksi berdasarkan relevansi bahan, kejelasan metode, keterhubungan dengan pengolahan atau pemberdayaan, dan ketersediaan teks lengkap. Sintesis menunjukkan bahwa produk berteknologi rendah hingga menengah—tepung komposit, abon atau nugget, pakan fermentasi, kompos, dan adsorben sederhana—lebih sesuai sebagai pintu masuk pemberdayaan dibanding ekstraksi senyawa murni atau biorefineri. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh komposisi bahan, tetapi juga kontinuitas pasokan, penanganan higienis, pengeringan, pengujian keamanan, penerimaan sensori, biaya proses, akses pasar, pembagian peran, dan pendampingan pascapelatihan. Model yang diusulkan terdiri atas pemetaan residu, seleksi produk bersama mitra, standardisasi proses, uji kelayakan minimum, produksi percontohan, penguatan usaha, dan evaluasi dampak. Bukti yang tersedia mendukung kulit kedelai sebagai sumber daya lokal potensial, tetapi klaim kesehatan dan peningkatan pendapatan harus dibuktikan melalui pengujian produk serta evaluasi lapangan yang memadai.