Articles
PENGARUH PERKEMBANGAN TEMPAT USAHA PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP CITRA WAJAH ARSITEKTUR KOTA SURAKARTA
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Suasana kota Surakarta yang semakin semrawut dan kotor yang kita lihat pada saat ini, akibat perkembangan yang tidak terkendali dari para pedagang kaki lima didalam mencari tempat usahanya dibeberapa sudut kota tanpa memperhatikan tata tertib maupun peraturan tentang keindahan kota Surakarta. Gejala perkembangan tempat usaha pedagang kaki lima yang bentuk fisiknya merupakan bangunan sederhana yang sifatnya bangunan temporer terkesan kumuh dan kotor serta sangat mengganggu pemandangan kota. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap wajah kota Surakarta yang selama ini terkenal dengan slogannya, bersih, sehat, rapi dan indah (berseri) .citra ini nampaknya akan hilang apabila perkembangan pedagang kaki lima ini akan dibiarkan terus tumbuh dan berkembang sendiri tanpa dikendalikan ( diatur). Melalui studi penelitian yang dilakukan akan dapat menjawab pertanyaan : adakah pengaruh perkembangan pedagang kaki lima ini dengan Citra wajah Arsitektur Kota Surakarta yang akan diuraikan dalam tulisan ini.
FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH LIMBAH DI LINGKUNGAN PERUMAHAN RT 05/RW VII SOLO BARU DESA LANGENHARJO KEC.GROGOL KAB.SUKOHARJO
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Limbah pada suatu lingkungan perumahan akan selalu menimbulkan masalah yang sangat serius , baik itu lingkungan perumahan yang baru dibangun oleh pengembang atau lingkungan perumaham tradisionil yang berkembang secara alamiah yang sudah ada sejak lama. Limbah yang berasal dari linkungan perumahan adalah limbah rumah tangga berupa sampah, tinja dari WC, limbah cair dari KM,dapur, tempat cuci dan limbah hujan. Limbah dari lingkungan perumahan ini apabila tidak ditata dan dikelola secara baik dan teratur dengan mengacu pada syarat teknis yang ada, akan menimbulkan dampak lingkungan yang negatif diantaranya adalah, terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan timbulnya wabah penyakit begitu juga terjadinya bencana banjir. Dampak lingkungan negatif dari limbah lingkungan perumahan ini terjadi juga di kawasan perumahan Solo Baru yang merupakan kawasan real estate yang dihuni sejak tahun 1986. Selama kurun waktu 26 (dua puluh enam) tahun permasalahan dari limbah ini selalu timbul tanpa ada pemecahan yang berarti. Melalui studi kasus dengan mengambil simple Lingkungan RT 05 RW VII Solo Baru Desa Langenharjo Grogol Sukoharjo yang merupakan bagian lingkungan terkecil dari kawasan perumahan Solo Baru ini dapat mengungkap faktor penyebab timbulnya pemasalahan limbah perumahan dan diharapkan akan didapatkan solusi alternative pemecahannya
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK (Sebuah Tanggapan akan diberlakukannya Pendidikan Profesi Arsitek, sebagai pendidikan tambahan bagi lulusan program Strata 1 Arsitektur untuk berprofesi sebagai ARSITEK)
DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9 (2008): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
To work professionally a graduate of the .scholar SI Architecture still could not be carried out or was not yet acknowledged by the world community of the practice of architecture, except for this graduate has been experienced for 3 years in architeceure, or beforehand had wrought/the apprentice in the Consultant's company Architecture or through professional education architecture that was held by the educational agency or the organisation of the profession. This reality could be seen in the condition to memilki the professional certificate of the architect's expertise that was issued by the organisation of the Association of the Indonesian Architect (IAI) and the Development Agency of the Construction Service that is the Architect's certificate request "Pratama "(the Architect the Beginner) had the minimal experience 3 years in the planning field/architecture planning. This condition was not possible to be valid for graduate just/the scholar of strata architecture 1 that was not yet experienced anything.To become the professional architect must be waiting 3 years and had the experience in the architecture field The association of the Indonesian Architect (IAI) the organisation of the architect's entitled profession gave to the acknowledgment formally (certification) co-operated with Directorate General Might Education Departemen of National Education planned the Professional educational Program the Architect as additional education for I (one) the year after strata education 1 to become the solution to this problem above. That became the necessary question the additional program of this architecture education. The study was supervised this was the response from being planned by a Program of Education of the Architect's Profession by IAI and DIKTI. Â
MAKNA FILOSOFI DALAM KARYA DESAIN ARSITEKTUR
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 5 (2003): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Banyak orang melihat hasil karya desaln arsitektur berupa wujud / wadah yang kasat mata, berupa sebuah bangunan yang menjulang megah di atas sebidang tanah, seolah-olah merupakan bangunan yang mati tanpa nilai atau makna yang berarti. Prinsip para pengguna bangunan dari karya desain arsitektur ini adalah bagaimana mereka dapat menggunakan dan memfungsikan bangunan ini dengan nyaman, luncar dan aman, lengkap dengan fasilitas pelayanan yang diinginkannya saat melakukan aktifitasnya di dalam hangunan tersebut. Begitu juga orang lain yang bukan pengguna bangunan ini dapat menikmati indahnya bangunan karena tampilan estetika yang unik dan menarik. Namun kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi bahwa sebuah karya desain arsitektur disamping tuntutan tersebut di atas tentunya diperlukan juga suatu nilai-nilai yang tidak dapat diujudkan dalam bentuk wadah (bangunan) yaitu suatu nilai filosofi yang mendasari terciptanya bangunan tersebut. Melalui kajian ini, dengan acuan dasar pada sludi pustaka dan pengamatan hasil-hasil karya desain arsitektur, yang sudah ada dengan topik materi Makna Filosofi dalam Karya Desain Arsilektur, memberikan gambaran tentang pentingnya konsep filosofi dalam suatu desain arsitektur, sehingga suatu karya arsitektur bukan hanya sekedar sebuah bangunan mati yang megah menjulang di atas tanah saja. Namun sebuah karya desain arsitektur yang mempunyai nilai dan makna filosofi yang tinggiyang seolah-olah mempunyai "roh" yang hidup.
PERMASALAHAN SANITASI DALAM BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT TINGGI
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 4 (2002): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Keberhasilan karya seorang arsitek/perancang bangunan tidak hanya tergantung dari keindahan tampilan fisik secara estetika saja, namun lebih banyak disebabkan oleh faktor kenyamanan, faktor fungisional serta faktor kelengkapan bangunan didalam pelayanan terhadap gedung tersebut. Faktor kenyamanan serta kelengkapan bangunan dalam melayani penghuninya ini sering tidak sesuai dengan yang tidak diharapkan oleh penghuninya. Banyak sekali permasalahan yang timbul berkaitan dengan kenyamanan akibat kurang sempurnanya pemasangan kelengkapan/utility bangunan, salah satu diantaranya adalah permasalahan sanitasi bangunan gedung. Permasalahan sanitasi ini banyak sekali terjadi pada bangunan tingkat tinggi. Keluhan yang dirasakan oleh para penghuni bangunan tingkat tinggi antara lain berupa macetnya saluran air (bersih dan kotor), timbul polusi bau. Kedua problema tersebut memungkinkan penghuni gedung ini menjadi tidak betah untuk tinggal dalam gedung tesebut. Pada penelitian ini akan dicari penyebab dari permasalahan yang timbul (macet saluran dan bau tidak enak), melalui pendekatan permasalahan yang ada dan menarik ke belakang proses pembangunan gedung bertingkat tinggi, yaitu mulai dari perancangan proses perancangan, pelaksanaan pembangunan sampai gedung sudah berfungsi (ditempati). Dalam pembahasan mengacu pada tingkat tinggi yang tidak mengalami permasalahan sanitasi. Hasil penelitian berupa kesimpulan dari pemecahan masalah yang didapat anilitis yang telah dilakukan, yaitu berupa perancangan sistem sanitasi pada bangunan tinggi yang tepat dan benar sampai pada proses pemasangan, sehingga problema tersebut tidak akan terjadi.
KASUS PENYIMPANGAN KODE ETIK DALAM PROFESI ARSITEK
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12 (2010): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek bagi anggota IAI disusun dengan tujuan untuk mengatur para arsitek anggota IAI dalam melaksanakan tugas profesionalnya sesuai dengan prilaku dan moral sebagai arsitek yang beretika. Artinya bahwa seorang arsitek profesional dalam menjalankan tugas profesionalnya dilandasi dengan panggilan hati nurani, didasarkan pada moral agama yang dianutnya untuk melaksanakan bidang ilmu yang dikuasainya dengan taat azas kepada para pengguna jasa dengan penuh tanggung jawab. Menyimpang dari aturan yang tercantum dalam Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek para anggota IAI akan mendapatkan sangsi organisasi. Namun pelanggaran tersebut apabila masuk ke ranah hukum akan diselesaikan secara hukum pula di Pengadilan. Aturan yang ada di Kode Etik tersebut sudah jelas, namun dalam prakteknya banyak para arsitek yang melanggar etika ini. Secara moral para arsitek yang baik berkewajiban untuk mengingatkan dan memberi pengertian pada rekan sejawatnya yang mungkin kurang memahami tentang etika yang tercantum dalam Kode Etik dan Kaidah Tata laku Profesu Arsitek bagi anggota IAI. Pemberian pemahaman dan pengertian tentang arsitek yang beretika dapat melalui penataran kode etik dan kaidah tata laku profesi arsitek bagi para arsitek dan calon arsitek profesinal. Tujuan pelatihan atau penataran kode Etik dan Kaidan Tata Laku Profesi Arsitek bagi anggota IAI adalah untuk memberikan bekal bagi calon arsitek dan arsitek professional, agar dalam menjalankan praktek profesionalnya mempunyai sikap prilaku serta moral yang baik dan bertanggng jawab terhadap profesinya
PENGARUH RENCANA ANGGARAN & BIAYA PEMBANGUNAN PADA DESAIN ARSITEKTUR KANTOR KECAMATAN KARTASURA
DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Suatu karya desain Arsitektur akan menjadi khayalan belaka dalam bentuk gambar rencana apabila desain tersebut tidak direalisasikan dalam suatu pelaksanaan pembangunan. Realisasi pelaksanaan pembangunan akan dapat diwujudkan apabila desain Arsitektur ini dilengkapi dengan Rencana Teknis Pelaksanaan (Detail Engineriing Desaign/DED), yang meliputi, gambar rencana detail arsitektur, rencana struktur/konstrusi dan perhitungannya,rencana jaringan utilitas (ME), rencana kerja dan syarat-syarat(RKS), , rencana dan anggaran biaya pelaksanaan (RAB) yang secara keseluruhan diatur dalam suatu kontrak kerja. Dalam proses pelaksanaan pembangunan gedung faktor utama untuk dapat menyelesaikannya adalah tersedia dana atau biaya pelaksanaan pembangunan. Biaya yang diperlukan untuk mewujudkan bangunan sampai pada bangunan ini berfungsi yaitu melalui proses perhitungan anggaran yang disebut Rencana Anggaran dan Biaya pelaksanaan pembangunan (RAB). Perhitungan RAB diperlukan ontuk mengetahui besarnya biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu bangunan, begitu pula RAB berfungsi untuk mengatur aliran dana atau cash flow dalam proses kegiatan pelaksanaan pembangunan. Dasar untuk menhitung RAB adalah, macam dan jenis pekerjaan, besarnya volume pekerjaan dan bahan yang mengacu pada desain bangunan yang terkait dengan luas bangunan dan keinnginan pemilik bangunan. Namun keinginan pemilik bangunan ini kadang-kadang tidak sejalan dengan dana yang disediakan Keterbatasan dana ini yang sering mempengaruhi desain arsitektur yang dalam prosesnya selalu mengalami perubahan karena harus menyesuaikan dana yang ada. Rencana pembangunan Gedung Kantor Kecamatan Kartosuro diambil sebagai sample kajian dalam pembahasan ini untuk mengetahui sejauh mana pengaruh perhitungan RAB dalam desain Arsitektur Grdung Kantor Kecematan Kartosuro.
TIDAK BERFUNGSINYA JALUR LAMBAT PADA KORIDOR JL. IR SUKARNO SOLO BARU
DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Hasil Penelitian dengan judul Analisis Pertumbuhan dan Perkembangan Tata Bangunan pada Koridor Jl.Ir.Soekarno Solo Baru menemukan beberapa permasalahan yang timbul akibat pertumbuhan dan perkembangan tata bangunan di koridor Jl.Ir Soekarno Solo Baru diluar tata bangunan yang menjadi topik penelitian. Salah satu permasalahan tersebut adalah tidak berfungsinya jalur lambat pada koridor Jl.Ir.Soekarno Solo Baru. Jalur Jl.Ir.Soekarno yang dulu bernama Jl.Raya Solo Permai yang berada di kawasan kota Solo Baru didesain sedemikian rupa dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada pengguna jalan yaitu para pengendara kendaraan dan arus lalu lintas kendaran agar berjalan secara teratur, lancar,tertib dan aman, dengan memisahkan kendaraan cepat atau kendaraan bermotor mempunyai jalur terpisah dengan jalur untuk kendaraan tidak bermotor. Namun dalam perkembangannya ( dari pengamatan pada penelitian ini) jalur lambat praktis tidak berfungsi akibat ketidak disiplinan para pemakai jalan, pemilik lahan/bangunan dengan memanfaatkan jalur lambat ini untuk kepentingan bisinisnya atau kepentingan pribadinya. Permasalahan yang lain dengan tidak berfungsinya jalur lambat ini mengundang para pedagang kaki lama yang menjajakan dagangannya di jalur lambat ini. Penelitian dengan judul Analisis Pertumbuhan dan Perkembangan Tata Bangunan pada Koridor Jl.Ir.Soekarno Solo Baru ini akan memberikan penyelesaian masalah yang terjadi baik yang terkait dengan tata bangunan maupun penyelesaian masalah yang terkait dengan jalur lambat ini.
PENGARUH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TEMPAT USAHA PEDAGANG KAKI LIMA ( PKL) TERHADAP CITRA WAJAH ARSITEKTUR KOTA SURAKARTA
DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 16 No. 20 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Implikasi sosial ekonomis akibat dari masa krisis ekonomi pada kota-kota besar di Indonesia termasukdiantaranya kota Surakarta sangat terasa sekali terutama bagi lapisan masyarakat yang tingkatan perekonomiannya sangat rendah. Kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja (PHK) karena adanya pembatasan tenaga pada beberapa perusahaan serta kekurang mampuan pemilikan modal untuk membuka lapangan pekerjaan mendorong mereka untuk mencari usaha sesuai dengan keterbatasan kemampuan modal yang dimilikinya dengan diantaraya berdagangkecil-kecilan sebagai pedagang kaki lima atau penjaja keliling. Didalam membuka usaha ini banyak diantara masyarakat yang kurang atau tidak memahamidan mengetahui peraturan-peraturan tentang penataan kota, sehingga mereka mencari tempat usaha yang menurut pertimbangan mereka sangat tepat untuk mejajakan dagangannya dengan mendirikan kios/bedeng atau bangunan yang secara kualitas tidak layak bahkan mengganggu keindahan kota. Kota Surakarta yang pernah dilanda kerusuhan akibat kondisi politik Negara kita sedang labil yang terjadi di tahun1988-1989 an, merupakan awal pertumbuhan dan berkembangnya pedagang kaki lima (pkl) yang muncul dibeberapa bagian kota ( di pinggir jalan, di taman, di bantaran sungai atau ditempat terbuka yang menurut mereka sangat tepat dan strategis untuk berdagang).Namun mereka tidak menyadari bahwa menempati tanah-tanah Negara adalah dilarang. Pemerintah kota sebetulnya sudah mengadakan penataan dan relokasi untuk mengatur tempat usaha para pedagang kaki lima ini, namun sampai saat ini kurang lebih 15 tahunan yang lalu pasca kerusuhan problema tentang pedagang kaki lima ini terus berlanjut yang seolah-olah seperti rantai kehidupan yang tidak ada hentinya, ditata ulang selalu muncul masalah yang baru. Penataan pedagang kaki lima yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta ini dimaksud agar kota menjadi teratur rapi indah serta mempunyai citra kota yang bersih dan nyaman. Melalui penelitian ini mencoba untuk mengungkap adakah pengaruh hubungan antara pedagang kaki lima (PKL) di kota Surakarta ini dengan Citra Wajah Arsitektur Kota Surakarta.
FUNGSI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP DESAIN PASAR TERBAN YOGJAKARTA
DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kesan kumuh, kotor,sumpeg dan semrawut adalah kondisi yang tercermin disuasana Pasar Tradisional pada umumnya pasar-pasar yang ada di Indonesia. Kondisi suasana yang demikian ini akibat dari kegiatan jual beli dari para pengguna pasar yang padat pengunjung dengan fasilitas bangunan yang tidak memadai Lebih lanjut suasana yang terjadi seperti ini dapat menjadikan para pengunjung pasar menjadi panas/gerah bahkan kemungkinan bisa terjadi bahwa beberapa pengunjung dapat mengalami depresi jiwa atau stress. Kalau susana sudah menimbulkan dampak sepeerti itu maka pembangunan kembali atau renovasi pasar tidak bisa ditunda lagi. Didalam proses renovasi pasar tradisonal solusi untuk menghindarkan suasana kegiatan pasar tersebut yaitu dengan merancang suatu pasar disamping penataan fisik bangunan yang menyangkut arsitektural maupun stuktur konstruksinya, untuk dapat menampung baik pedagang sebagai penjual maupun pengunjung sebagai pembelinya, dalam suasana yang nyaman maka diperlukan suatu penataan ruang non fisik bangunan yaitu penataan Ruang Terbuka Hijau yang menunjang kenyamanan bagi para pengguna pasar dalam melaksanakan aktivitas kegiatannya. Desain Revitalisasii Pembangunan Pasar Terban Yogjakarta merupakan salah satu contoh kasus Pasar Tradisional yang oleh konsultan perencananya didesain sedemikian rupa dengan menyediakan Ruang Terbuka Hijau yang cukup luas untuk dapat mengatasi permasalahan yang terjadi di pasar-pasar tradisional. Ruang Terbuka Hijau adalah sebuah taman yang fungsinya untuk menambah kenyamanan bagi pengunjung untuk berbelanja. Tulisan ini akan membahas lebih dalam tentang Fungsi Ruang Tata Hijau pada desain Pasar Terban Yogjakarta .