Djoko Pratikto
Unknown Affiliation

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

POTENSI KOTA YANG MENDUKUNG PERKEMBANGAN KOTA KECAMATAN GALUR KULON PROGO DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kawasan atau lingkungan perkotaan di Indonesia sangatlah pesat pada dasa warsa terakhir ini. Perkembangan tersebut tidak hanya didominir oleh kota-kota besar saja, akan tetapi sudah merambah pada wilayah pedesaan terutama pada tingkat kecamatan. Faktor utama yang menimbulkan perkembangan kota adalah perkembangan jumlah penduduk serta perkembangan teknologi informasi dalam dunia moderen saat ini. Kedua faktor perkembangan tersebut dapat merubah desa menjadi kota, kota kecil menjadi kota besar dan kota besar dapat menjadi kota metropolitan. Pengaruh informasi moderen melalui informasi elektronik yang lebih dikenal dengan internet merupakan pengaruh yang luar biasa terhadap sikap dan prilaku manusia yang hidup dalam suatu kawasan. Perubahan pola hidup moderen yang berpengaruh pada sikap dan prilaku manusia dalam suatu kawasan mengakibatkan perubahan kawasan atau pengembangan kawasan/lingkungan yang bisa berkembang secara fisik atau non fisik. Pengembangan fisik ini apabila dibiarkan berkembang secara alamiah dapat menimbulkan sejumlah permasalahan perkotaan. Desa Brosot yang merupakan ibukota kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogjakarta semula adalah sebuah desa kecil yang dalam perkembangannya berubah menjadi kota kecil pada tingkat kecamatan. Perubahan tingkatan perkotaan ini akan terus berlanjut dari waktu ke waktu dan apabila tidak dilakukan penataan akan berkembang menjadi kota yang tidak terarah yang berkembang secara alamiah dan akan menimbulkan sejumlah permasalahan perkotaan. Studi Perencanaan Rencana Teknis Ruang Kawasan (RTRK) Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo Propinsi DIY yang dilakukan oleh penulis mempunyai tujuan dan manfaat: Menciptakan pola pemanfaatan ruang yang lebih terarah dengan kemudahan dalam pelaksanaan program pembangunan serta kemudahan bagi Pemerintah dalam mengambil kebijaksanaan pembangunan dan dijamin secara hukum. Potensi yang mendukung pengembangan suatu kota meliputi, kondisi gografis, geologis, topografi, perekonomian , industri dan perdagangan dan fasilitas kota yang ada seperti fasilitas perhubungan dan transportasi, serta infrastruktur yang dimiliki. Melalui kajian serta pemaparan tentang potensi pendukung dalam Rencana Teknis Ruang Kawasan diharapkan akan mendapat bahan atau data yang menentukan dalam penyusunan RTRK tersebut.
UNSUR ESTETIKA PADA STRUKTUR KABEL DALAM BANGUNAN ARSITEKTUR MODEREN DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bicara tentang struktur dan konstruksi maka image yang ada di benak kita adalah terkait dengan kekuatan, kekokohan, tahan beban, gaya tarik, gaya tekan dan lain sebagainya. Namun kalau dikaji lebih dalam lagi, ada beberapa struktur yang mempunyai nilai estetika yang tinggi yang dapat menunjang keindahan suatu bangunan arsitektur, antara lain bangunan hightrise building ( mall, hotel, office), bangunan yang mempunyai bentang panjang, bangunan bandar udara, pelabuhan, terminal, bangunan jembatan bentang panjang dan lain sebagainya. Kekokohan dan kekuatan yang ada pada struktur yang kadang-kadang membuat para arsitek/perencana bangunan lupa bahwa di balik kekokohan dan kekuatan dalam sistem struktur terkandung nilai-nilai estetika yang menunjang keindahan dalam penampilan arsitektur. Dengan demikian, kalau para arsitek jeli terhadap sistem struktur yang diterapkan dalam desain bangunan, maka akan dapat menimbulkan suatu keterpaduan antara kekokohan kekuatan dan keindahan bangunan Arsitektur. Salah satu sistem struktur yang mempunyai nilai keindahan atau estetika tersebut adalah sistem struktur kabel. Kabel adalah suatu bahan dari baja atau bahan lainnya yang dapat digunakan sebagai salah satu unsur sistem struktur/konstruksi  bangunan karena sifatnya yang dapat menahan gaya tarik dan gaya tekan bila diregangkan.Kabel sebagai material konstruksi sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno.Pada saat itu kabel dibuat dari serat alami.Pada abad pertengahan Leonardo da Vinci (1452 – 1519) sudah membuat sketsa gambar konstruksi jembatan dengan sistem kabel-kabel penahan girder jembatan.Sejak akhir abad ke-19, mulai digunakan kabel-kabel dari bahan metal besi/baja, di mana penggunaannya masih terbatas untuk konstruksi jembatan berbentang lebar. Tetapi kini para arsitek pun dapat menggunakan struktur kabel untuk menciptakan bangunan dengan ruangan dalam yang luas, dengan kesan ringan, anggun, dan transparan. Melalui kajian yang dilakukan dalam penelitian beberapa tahun yang lalu tulisan ini dibuat dengan menambahkan materi dan bahasan disesuaikan dengan perkembangan desain arsitektur modern pada masa kini khususnya desain bangunan yang menggunakan sistem struktur kabel sebagai struktur utamanya.
PENELUSURAN BENTUK ARSITEKTUR BANGUNAN STASIUN KERETA API JAMAN KOLONIAL DI YOGJAKARTA Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur kolonial merupakan ragam atau gaya arsitektur yang dibangun pada era Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik. Periode gaya arsitektur Kolonial berkembang sejak tahun 1884 yang sampai sekarang masih banyak yang berdiri dengan kokoh .Kota Yogjakarta banyak memiliki bangunan bangunan peninggalan jaman Belanda dengan gaya arsitektur kolonial, salah satu contoh bangunan peninggalan sejarah tersebut bangunan stasiun kereta api. UU RI No 5 Th 1992 pasal 1 & 2 tentang Perlindungan Bangunan Cagar Budaya bahwa, setiap benda yang mempunyai nilai sejarah dan budaya yang tinggi merupakan benda arkeologi serta berusia minimal 50 tahun wajib untuk dilestarikan serta dipertahankan dengan cara konservasi, renovasi maupun revitalasi.Penelitian dengan judul Penelusuran Bentuk Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api Jaman Kolonial dilakukan karena adanya permasalahan bahwa banyak bangunan peninggalan jaman kolonial khususnya bangunan Stasiun Kereta Api di kota Yogjakarta ini yang sudah banyak mengalami perubahan baik berubah fungsi , bentuk bahkan sudah banyak yang mengalami kepunahan.Kajian dilakukan melalui penelusuran bentuk - bentuk bangunan stasiun yang masih ada, kemudian dilakukan penganalisaan dari bentuk bangunan stasiun satu dengan lainnya. Hasil dari penelitian ini diharapkan mendapatkan suatu cara atau metode dalam rangka untuk ikut melestarikan bangunan cagar budaya tersebut. Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah dapat dipakai sebagai acuan atau pedoman dalam rangka kegiatan pelestarian bangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu sejarah budaya bangsa.
PENGARUH PERKEMBANGAN TEMPAT USAHA PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP CITRA WAJAH ARSITEKTUR KOTA SURAKARTA Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suasana kota Surakarta yang semakin semrawut dan kotor yang kita lihat pada saat ini, akibat perkembangan yang tidak terkendali dari para pedagang kaki lima didalam mencari tempat usahanya dibeberapa sudut kota tanpa memperhatikan tata tertib maupun peraturan tentang keindahan kota Surakarta. Gejala perkembangan tempat usaha pedagang kaki lima yang bentuk fisiknya merupakan bangunan sederhana yang sifatnya bangunan temporer terkesan kumuh dan kotor serta sangat mengganggu pemandangan kota. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap wajah kota Surakarta yang selama ini terkenal dengan slogannya, bersih, sehat, rapi dan indah (berseri) .citra ini nampaknya akan hilang apabila perkembangan pedagang kaki lima ini akan dibiarkan terus tumbuh dan berkembang sendiri tanpa dikendalikan ( diatur). Melalui studi penelitian yang dilakukan akan dapat menjawab pertanyaan : adakah pengaruh perkembangan pedagang kaki lima ini dengan Citra wajah Arsitektur Kota Surakarta yang akan diuraikan dalam tulisan ini.
FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH LIMBAH DI LINGKUNGAN PERUMAHAN RT 05/RW VII SOLO BARU DESA LANGENHARJO KEC.GROGOL KAB.SUKOHARJO Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah pada suatu lingkungan perumahan akan selalu menimbulkan masalah yang sangat serius , baik itu lingkungan perumahan yang baru dibangun oleh pengembang atau lingkungan perumaham tradisionil yang berkembang secara alamiah yang sudah ada sejak lama. Limbah yang berasal dari linkungan perumahan adalah limbah rumah tangga berupa sampah, tinja dari WC, limbah cair dari KM,dapur, tempat cuci dan limbah hujan. Limbah dari lingkungan perumahan ini apabila tidak ditata dan dikelola secara baik dan teratur dengan mengacu pada syarat teknis yang ada, akan menimbulkan dampak lingkungan yang negatif diantaranya adalah, terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan timbulnya wabah penyakit begitu juga terjadinya bencana banjir. Dampak lingkungan negatif dari limbah lingkungan perumahan ini terjadi juga di kawasan perumahan Solo Baru yang merupakan kawasan real estate yang dihuni sejak tahun 1986. Selama kurun waktu 26 (dua puluh enam) tahun permasalahan dari limbah ini selalu timbul tanpa ada pemecahan yang berarti. Melalui studi kasus dengan mengambil simple Lingkungan RT 05 RW VII Solo Baru Desa Langenharjo Grogol Sukoharjo yang merupakan bagian lingkungan terkecil dari kawasan perumahan Solo Baru ini dapat mengungkap faktor penyebab timbulnya pemasalahan limbah perumahan dan diharapkan akan didapatkan solusi alternative pemecahannya
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK (Sebuah Tanggapan akan diberlakukannya Pendidikan Profesi Arsitek, sebagai pendidikan tambahan bagi lulusan program Strata 1 Arsitektur untuk berprofesi sebagai ARSITEK) DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9 (2008): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

To work professionally a graduate of the .scholar SI Architecture still could not be carried out or was not yet acknowledged by the world community of the practice of architecture, except for this graduate has been experienced for 3 years in architeceure, or beforehand had wrought/the apprentice in the Consultant's company Architecture or through professional education architecture that was held by the educational agency or the organisation of the profession. This reality could be seen in the condition to memilki the professional certificate of the architect's expertise that was issued by the organisation of the Association of the Indonesian Architect (IAI) and the Development Agency of the Construction Service that is the Architect's certificate request "Pratama "(the Architect the Beginner) had the minimal experience 3 years in the planning field/architecture planning. This condition was not possible to be valid for graduate just/the scholar of strata architecture 1 that was not yet experienced anything.To become the professional architect must be waiting 3 years and had the experience in the architecture field The association of the Indonesian Architect (IAI) the organisation of the architect's entitled profession gave to the acknowledgment formally (certification) co-operated with Directorate General Might Education Departemen of National Education planned the Professional educational Program the Architect as additional education for I (one) the year after strata education 1 to become the solution to this problem above. That became the necessary question the additional program of this architecture education. The study was supervised this was the response from being planned by a Program of Education of the Architect's Profession by IAI and DIKTI.  
MAKNA FILOSOFI DALAM KARYA DESAIN ARSITEKTUR Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 5 (2003): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak orang melihat hasil karya desaln arsitektur berupa wujud / wadah yang kasat mata, berupa sebuah bangunan yang menjulang megah di atas sebidang tanah, seolah-olah merupakan bangunan yang mati tanpa nilai atau makna yang berarti. Prinsip para pengguna bangunan dari karya desain arsitektur ini adalah bagaimana mereka dapat menggunakan dan memfungsikan bangunan ini dengan nyaman, luncar dan aman, lengkap dengan fasilitas pelayanan yang diinginkannya saat melakukan aktifitasnya di dalam hangunan tersebut. Begitu juga orang lain yang bukan pengguna bangunan ini dapat menikmati indahnya bangunan karena tampilan estetika yang unik dan menarik. Namun kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi bahwa sebuah karya desain arsitektur disamping tuntutan tersebut di atas tentunya diperlukan juga suatu nilai-nilai yang tidak dapat diujudkan dalam bentuk wadah (bangunan) yaitu suatu nilai filosofi yang mendasari terciptanya bangunan tersebut. Melalui kajian ini, dengan acuan dasar pada sludi pustaka dan pengamatan hasil-hasil karya desain arsitektur, yang sudah ada dengan topik materi Makna Filosofi dalam Karya Desain Arsilektur, memberikan gambaran tentang pentingnya konsep filosofi dalam suatu desain arsitektur, sehingga suatu karya arsitektur bukan hanya sekedar sebuah bangunan mati yang megah menjulang di atas tanah saja. Namun sebuah karya desain arsitektur yang mempunyai nilai dan makna filosofi yang tinggiyang seolah-olah mempunyai "roh" yang hidup.
PERMASALAHAN SANITASI DALAM BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT TINGGI Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 4 (2002): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan karya seorang arsitek/perancang bangunan tidak hanya tergantung dari keindahan tampilan fisik secara estetika saja, namun lebih banyak disebabkan oleh faktor kenyamanan, faktor fungisional serta faktor kelengkapan bangunan didalam pelayanan terhadap gedung tersebut. Faktor kenyamanan serta kelengkapan bangunan dalam melayani penghuninya ini sering tidak sesuai dengan yang tidak diharapkan oleh penghuninya. Banyak sekali permasalahan yang timbul berkaitan dengan kenyamanan akibat kurang sempurnanya pemasangan kelengkapan/utility bangunan, salah satu diantaranya adalah permasalahan sanitasi bangunan gedung. Permasalahan sanitasi  ini banyak sekali terjadi pada bangunan tingkat tinggi. Keluhan yang dirasakan oleh para penghuni bangunan tingkat tinggi antara lain berupa macetnya saluran air (bersih dan kotor), timbul polusi bau. Kedua problema tersebut memungkinkan penghuni gedung ini menjadi tidak betah untuk tinggal dalam gedung tesebut. Pada penelitian ini akan dicari penyebab dari permasalahan yang timbul (macet saluran dan bau tidak enak), melalui pendekatan permasalahan yang ada dan menarik ke belakang proses pembangunan gedung bertingkat tinggi, yaitu mulai dari perancangan proses perancangan, pelaksanaan pembangunan sampai gedung sudah berfungsi (ditempati). Dalam pembahasan mengacu pada tingkat tinggi yang tidak mengalami permasalahan sanitasi. Hasil penelitian berupa kesimpulan dari pemecahan masalah yang didapat anilitis yang telah dilakukan, yaitu berupa perancangan sistem sanitasi pada bangunan tinggi yang tepat dan benar sampai pada proses pemasangan, sehingga problema tersebut tidak akan terjadi.
KASUS PENYIMPANGAN KODE ETIK DALAM PROFESI ARSITEK Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12 (2010): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek bagi anggota IAI disusun dengan tujuan untuk mengatur para arsitek anggota  IAI dalam melaksanakan tugas profesionalnya sesuai dengan prilaku dan moral sebagai arsitek yang beretika. Artinya bahwa seorang arsitek profesional dalam menjalankan tugas profesionalnya dilandasi dengan panggilan hati nurani, didasarkan pada moral agama yang dianutnya untuk melaksanakan bidang ilmu yang dikuasainya dengan taat azas kepada para pengguna jasa dengan penuh tanggung jawab. Menyimpang dari aturan yang tercantum dalam Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek para anggota IAI akan mendapatkan sangsi organisasi. Namun pelanggaran tersebut apabila masuk ke ranah hukum akan diselesaikan secara hukum pula di Pengadilan. Aturan yang ada di Kode Etik tersebut sudah jelas, namun dalam prakteknya banyak para arsitek yang melanggar etika ini. Secara moral para arsitek yang baik berkewajiban untuk mengingatkan dan memberi pengertian pada rekan sejawatnya yang mungkin kurang memahami tentang etika yang tercantum dalam Kode Etik dan Kaidah Tata laku Profesu Arsitek bagi anggota IAI. Pemberian pemahaman dan pengertian tentang arsitek yang beretika dapat melalui penataran kode etik dan kaidah tata laku profesi arsitek bagi para arsitek dan calon arsitek profesinal. Tujuan pelatihan atau penataran kode Etik dan Kaidan Tata Laku Profesi Arsitek bagi anggota IAI adalah untuk memberikan bekal bagi calon arsitek dan arsitek professional, agar dalam menjalankan praktek profesionalnya mempunyai sikap prilaku serta moral yang baik dan bertanggng jawab terhadap profesinya
PENGARUH RENCANA ANGGARAN & BIAYA PEMBANGUNAN PADA DESAIN ARSITEKTUR KANTOR KECAMATAN KARTASURA DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu karya desain Arsitektur akan menjadi khayalan belaka dalam bentuk gambar rencana apabila desain tersebut tidak direalisasikan dalam suatu pelaksanaan pembangunan. Realisasi pelaksanaan pembangunan akan dapat diwujudkan apabila desain Arsitektur ini dilengkapi dengan Rencana Teknis Pelaksanaan (Detail Engineriing Desaign/DED), yang meliputi, gambar rencana detail arsitektur, rencana struktur/konstrusi dan perhitungannya,rencana jaringan utilitas (ME), rencana kerja dan syarat-syarat(RKS), , rencana dan anggaran biaya pelaksanaan (RAB) yang secara keseluruhan diatur dalam suatu kontrak kerja. Dalam proses pelaksanaan pembangunan gedung faktor utama untuk dapat menyelesaikannya adalah tersedia dana atau biaya pelaksanaan pembangunan. Biaya yang diperlukan untuk mewujudkan bangunan sampai pada bangunan ini berfungsi yaitu melalui proses perhitungan anggaran  yang disebut Rencana Anggaran dan Biaya pelaksanaan pembangunan (RAB). Perhitungan RAB diperlukan ontuk mengetahui besarnya biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu bangunan, begitu pula RAB berfungsi untuk mengatur aliran dana atau cash flow dalam proses kegiatan pelaksanaan pembangunan. Dasar untuk menhitung RAB adalah, macam dan jenis pekerjaan, besarnya volume pekerjaan dan bahan yang mengacu pada desain bangunan yang terkait dengan luas bangunan dan keinnginan pemilik bangunan. Namun keinginan pemilik bangunan ini kadang-kadang tidak sejalan dengan dana yang disediakan Keterbatasan dana ini yang sering mempengaruhi desain arsitektur yang dalam prosesnya selalu mengalami perubahan karena harus menyesuaikan dana yang ada. Rencana pembangunan Gedung Kantor Kecamatan Kartosuro diambil sebagai sample kajian dalam pembahasan ini untuk mengetahui sejauh mana pengaruh perhitungan RAB dalam desain Arsitektur Grdung Kantor Kecematan Kartosuro.