This Author published in this journals
All Journal Buletin Eboni
Muhammad Saad
Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Peningkatan Air Tanah Berbasis Pemukiman pada Hulu Daerah Aliran Sungai M. Kudeng Sallata; Hunggul YSH Nugroho; Ade Suryaman; Muhammad Saad
Buletin Eboni Vol 15, No 2 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.641 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5158

Abstract

Rendahnya persentase air hujan pada musim hujan yang tersimpan di daerah imbuhan air baku DAS, akan mengganggu keseimbangan hidrologi khususnya komponen-komponen penyusun siklus air dalam suatu DAS. Diperlukan terobosan dalam mengembangkan program konservasi tanah dan air secara menyeluruh dalam hubungannya dengan program-program pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Metode konsevasi air berupa  sumur resapan dan bentuk metode fisik lainnya seperti teras gulud, pengatur saluran air, untuk mengurangi atau memanen aliran permukaan (runoff) telah dikembangkan di Kampung Babangeng, Desa Pa’bumbungan, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, untuk meningkatkan kemampuan tanah meresapkan air (Soil infiltration capacity) kedalam tanah. Model kegiatan ini diharapkan menambah ketersediaan air tanah pada daerah imbuhan air DAS Calendu. Tujuan pengembangan adalah meningkatkan resapan air untuk ketersediaan air baku melalui pembangunan sumur resapan air berbasis kelompok pemukiman dan melakukan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah partisipatif di daerah imbuhan air tanah DAS Calendu, Bantaeng. Hasil  pengembangan menunjukkan bahwa  dengan terbangunnya  dua  buah sumur resapan dengan kapasitas masing-masing  8 meter kubik dapat  meresapkan air  atau menambah air tanah  sebanyak  124,92 meter kubik dari 35 kejadian hujan dengan tinggi 1583 mm  periode Juli - Agustus 2017.  Hal yang sama terjadi pada periode hujan dari Oktober - Desember 2017, sumur dapat menampung runoff 122,84 meter kubik dari kejadian hujan lebih banyak yaitu 55 kali.
Model Pengelolaan Sampah oleh Masyarakat untuk Mendukung Urban Farming di Kota Makassar La Ode Asier; Muhammad Saad
Buletin Eboni Vol 13, No 1 (2016): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.016 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5075

Abstract

Meningkatnya jumlah penduduk berkorelasi langsung terhadap besarnya jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Kesadaran masyarakat sangat penting dalam pengendalian sampah agar tidak menimbulkan masalah lingkungan. Tulisan ini adalah untuk memberikan informasi tentang membangun model pengelolaan sampah oleh masyarakat secara mandiri dalam upaya mendukung urban farming dan ruang terbuka hijau di Kota Makassar. Penanganan masalah sampah yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Makassar begitu gencar sehingga program Revolusi Kebersihan yang dicanangkan oleh Walikota Makassar pada tanggal 15 Juni 2014 “Gemar Makassar tidak Rantasa” terus dikawal dengan berbagai upaya seperti peningkatan jumlah armada pengangkutan sampah, penambahan Tempat Penimbunan Akhir (TPA) dan upaya pembinaan masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar sebagai lembaga riset yang membidangi masalah lingkungan dan kehutanan, mencoba menginisiasi model penanganan sampah organik oleh masyarakat secara mandiri. Model pengelolaan sampah yang ditawarkan adalah pengelolaan sampah organik berbasis kelompok masyarakat. Hasil akhir dari pengolahan sampah organik ini adalah kompos yang dapat digunakan sendiri oleh kelompok masyarakat pengelola sampah secara mandiri. Diharapkan informasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mendukung program pengelolaan sampah berbasis masyarakat guna bertambahnya ruang terbuka hijau di Kota Makassar.