Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NILAI EKONOMI NIRA SAWIT SEBAGAI POTENSI PEMBIAYAAN PEREMAJAAN KEBUN KELAPA SAWIT RAKYAT Muhammad Akmal Agustira; Donald Siahaan; Hasrul Abdi Hasibuan
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 27 No 2 (2019): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.254 KB) | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v27i2.62

Abstract

Oil palm smallholder currently are more than 25 years old and have to be replanted. However, many smallholders have facing difficulties in replanting especially related to investment and loss of income during the period of immatature. Palm trunks from replanted plants have potential economic value by utilizing sap obtained by tapping inflorescences of oil palm to make brown sugar. This study aims to assess the economic value of oil palm brown sugar as a potential financing of oil palm plantation peremajaan. The study was conducted in the village of Lau Tador, Sei Suka District, Batu Baral Regency North Sumatra. The research method used was on farm participatory research survey and focus group discussions were carried out farm business analysis. Research shows that oil palm trunks have considerable economic value potential. The economic value of 1 palm trunk for oil palm brown sugar (not yet processed/straightened before being cut) is IDR. 15,813 (IDR 1,897,500 per ha). Whereas if processed into oil palm brown sugar has a potential net income per ha of IDR 18,421,500 to IDR 22,866,325 with financial analysis carried out. This potential can help smallholders living costs and up keep costs as long as immatature. To optimize the economic potential of production, it is carried out on a wide scale through the development of farmer groups or cooperatives. Through cooperatives will be managed in an organized manner including funding, technical, production, and marketing. The utilization oil palm brown sugar can be used as one of the activities in the oil palm smallholder replanting program (PSR) which is the government's main program.
PERBANDINGAN JUMLAH SAMPEL BERONDOLAN DARI METODE SUB-SAMPLING SPIKELET DALAM PENENTUAN RENDEMEN CPO DAN KERNEL Ilmi Fadhilah Rizki; Donald Siahaan; Heri Adriwan Siregar; Rhozi Akbar Siregar
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.289

Abstract

Penentuan rendemen minyak sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit (kernel) dari tandan buah segar (TBS) perlu menggunakan metode tepat dan efisien agar diperoleh hasil yang cepat dan akurat. Petunjuk teknis analisa rendemen CPO dan kernel yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan mensyaratkan pengambilan sampel sebanyak 5 spikelet pada TBS dari tanaman umur 10-30 tahun dan seluruh berondolan dari sub sampling diiris sehingga membutuhkan waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan jumlah sampel berondolan dari metode sub-sampling terhadap rendemen CPO dan kernel, yaitu dengan menganalisa: 1) sebagian saja berondolan dari 5 spikelet (metode sebagian) dan 2) seluruh berondolan dari 5 spikelet (metode total). Sampel TBS yang digunakan berasal dari tanaman varietas Tenera umur 10–30 tahun. Analisa sebagian berondolan dibandingkan dengan analisa total berondolan menggunakan uji-t berpasangan dan koefisien korelasi Pearson. Hasil analisis keseluruhan menunjukkan adanya perbedaan signifikan secara statistik antara kedua metode (p = 0,000), namun dengan korelasi yang sangat kuat (r = 0,945 untuk CPO; r = 0,999 untuk Inti). Analisis per kelompok umur mengungkapkan bahwa pada tanaman berumur 10–13 tahun (p = 0,203) dan 21–23 tahun (p = 0,223), tidak terdapat perbedaan signifikan. Korelasi yang konsisten tinggi di semua kelompok umur (r = 0,920 hingga 0,987) menunjukkan bahwa metode analisa sebagian berondolan mampu merefleksikan tren rendemen yang sama dengan metode total berondolan. Dengan demikian, metode Sebagian berondolan dapat diadopsi sepenuhnya untuk tanaman umur 10–13 dan 21–23 tahun, serta tetap andal sebagai alat estimasi relatif yang efisien untuk pengambilan keputusan cepat di lapangan pada rentang umur lainnya.