Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Komposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Bungkil Inti Kelapa Sawit sebagai Pakan Larva Lalat Tentara Hitam (Hermetia Illucens) Terhadap Perubahan Kandungan Asam Lemaknya Muhammad Edwin Syahputra Lubis; Brahmani Dewa Bajra; Ilmi Fadhilah Rizki; Manda Edy Mulyono; Bagus Giri Yudanto; Frisda Rimbun Panjaitan
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 31 No 1 (2023): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v31i1.199

Abstract

Oil palm empty fruit bunches (OPEFB) and Palm Kernel Meal (PKM) are the most abundant by product in palm oil industry. However, the optimal utilization of both substrate has not yet discovered. This is due to high lignocellulosic content in OPEFB contains high lignocellulose content, on the other hand, PKM contains high crude protein content, High lignocellulose content of OPEFB causes this particular substrate to be hard to decompose, while lignin and crude protein content in PKM requires it to be pretreated prior to utilization. Black Soldier Fly (BSF, Hermetia illucens) is a natural bioreactor that is able to convert biomass into high value insect protein, fats, and chitin. BSF fats is highly potential to be used as high valued product, such as animal feed and biofuel. However, research that utilize OPEFB and PKM to modulate BSF fatty acid content during its' vegetative state is scarce. This study shows that inclusion of OPEFB as the dominant composition of the BSF feed modulate the synthesis and accumulation of lauric acid. Whilst the feed with PKM as dominant composition tends to modulate the synthesis of n-3 fatty acid, thus lowering the n-6/n-3 ratio of BSF fats. This research confirm the plasticity of BSF fats fatty acid composition depends on both feed fatty acid composition and digestability.Present study shows the potential of BSF utilization to valorize oil palm biomass into highly valuable specific fats sustainably.
BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens L.): SIKLUS HIDUP DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEBERHASILAN BUDIDAYA DI SETIAP TAHAPANNYA Mulki Salendra Kusumah; Bagus Giri Yudanto; Frisda Rimbun Panjaitan; Muhammad Edwin Syahputra Lubis; Brahmani Dewa Bajra; Ilmi Fadhilah Rizki; Manda Edy Mulyono
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.224

Abstract

Black soldier fly (BSF) adalah salah satu serangga polifagus yang tersebar luas di perkebunan kelapa sawit khususnya pada tandan kosong kelapa sawit yang dibiarkan melapuk. Larva BSF menunjukkan kapabilitas biokonversi yang tinggi terhadap limbah dan produk samping dari industri kelapa sawit. Selain itu, larva BSF menghasilkan berbagai produk turunan bernilai ekonomi, seperti bahan baku pakan ternak serta sumber nutrisi penting yang mendukung pertumbuhan tanaman. Artikel ini menyajikan kompilasi hasil-hasil penelitian terkait teknik budidaya BSF, khususnya terkait karakteristik siklus hidup dan variabel utama yang menentukan keberhasilan pada setiap tahapan perkembangan. Siklus hidup BSF terdiri atas lima fase utama, yaitu telur, larva, prepupa, pupa, dan imago (lalat dewasa), di mana setiap tahap menunjukkan karakteristik biologis dan ekologis khas yang berperan penting dalam keseluruhan dinamika perkembangan spesies ini. Efektivitas pada setiap tahap perkembangan dalam siklus hidup BSF dipengaruhi secara signifikan oleh sejumlah variabel lingkungan, termasuk suhu, kelembapan relatif, intensitas cahaya, ketersediaan sumber pakan, serta karakteristik fisik dan kimiawi substrat yang digunakan. Pemahaman mendalam mengenai interaksi antara siklus hidup dan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan budidaya BSF ini sangat penting untuk diperhatikan, guna mengoptimalkan budidaya BSF dalam pengaplikasiannya sebagai upaya berkelanjutan dalam melakukan pengolahan limbah ataupun pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit.
PERBANDINGAN JUMLAH SAMPEL BERONDOLAN DARI METODE SUB-SAMPLING SPIKELET DALAM PENENTUAN RENDEMEN CPO DAN KERNEL Ilmi Fadhilah Rizki; Donald Siahaan; Heri Adriwan Siregar; Rhozi Akbar Siregar
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.289

Abstract

Penentuan rendemen minyak sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit (kernel) dari tandan buah segar (TBS) perlu menggunakan metode tepat dan efisien agar diperoleh hasil yang cepat dan akurat. Petunjuk teknis analisa rendemen CPO dan kernel yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan mensyaratkan pengambilan sampel sebanyak 5 spikelet pada TBS dari tanaman umur 10-30 tahun dan seluruh berondolan dari sub sampling diiris sehingga membutuhkan waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan jumlah sampel berondolan dari metode sub-sampling terhadap rendemen CPO dan kernel, yaitu dengan menganalisa: 1) sebagian saja berondolan dari 5 spikelet (metode sebagian) dan 2) seluruh berondolan dari 5 spikelet (metode total). Sampel TBS yang digunakan berasal dari tanaman varietas Tenera umur 10–30 tahun. Analisa sebagian berondolan dibandingkan dengan analisa total berondolan menggunakan uji-t berpasangan dan koefisien korelasi Pearson. Hasil analisis keseluruhan menunjukkan adanya perbedaan signifikan secara statistik antara kedua metode (p = 0,000), namun dengan korelasi yang sangat kuat (r = 0,945 untuk CPO; r = 0,999 untuk Inti). Analisis per kelompok umur mengungkapkan bahwa pada tanaman berumur 10–13 tahun (p = 0,203) dan 21–23 tahun (p = 0,223), tidak terdapat perbedaan signifikan. Korelasi yang konsisten tinggi di semua kelompok umur (r = 0,920 hingga 0,987) menunjukkan bahwa metode analisa sebagian berondolan mampu merefleksikan tren rendemen yang sama dengan metode total berondolan. Dengan demikian, metode Sebagian berondolan dapat diadopsi sepenuhnya untuk tanaman umur 10–13 dan 21–23 tahun, serta tetap andal sebagai alat estimasi relatif yang efisien untuk pengambilan keputusan cepat di lapangan pada rentang umur lainnya.